TRIBUN WIKI
Sejarah Hari Kartini dan Perjalanan Emansipasi Wanita di Indonesia
Inilah sejarah Hari Kartini dan perjalanan emansipasi wanita di Indonesia yang diperingati setiap 21 April.
Selama menjalani proses pingitan, Kartini menyurati sahabatnya yang berasal dari Eropa, Rosa Abendanon.
Kartini pun mengangkat masalah pernikahan paksa, poligami bagi perempuan Jawa, tradisi feudal yang menindas, dan pentingnya pendidikan bagi anak perempuan dalam surat yang dikirimnya.
Kartini rupanya terus belajar meskipun menjalani pingitan.
Dia membaca buku, koran, dan majalah Eropa dari teman-temannya.
Pada saat itu, Kartini sangat tertarik dengan pemikiran perempuan di Eropa.
Setelah menikah, Kartini rupanya diperbolehkan mendirikan sekolah wanita oleh suaminya.
Sekolah wanita ini didirikan di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
Kartini mengajari wanita Jawa tanpa melihat statusnya untuk membaca dan menulis.
Sejak itu, perempuan-perempuan Jawa mendapat hak yang sama untuk belajar.
Delapan tahun setelah meninggalnya Kartini, didirikanlah Sekolah Kartini oleh Yayasan Kartini di Semarang oleh Van Deventer.
Sekolah Wanita kemudian didirikan di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon.
Buku Habis Gelap Terbitlah Gelap

Pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya kemudian dibukukan setelah dia meninggal.
Sahabat Kartini, Mr. J.H. Abendanon yang mengumpulkan dan membukukan surat-surat Kartini.
Buku ini diterbitkan pada 1911 dengan judul Door Duisternis tot Licht yang memiliki arti harfiah "Dari Kegelapan Menuju Cahaya".
Balai Pustaka lalu menerjemahkan buku tersebut ke dalam Bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran.
Pada tahun 1938, Armijn Pane merilis Habis Gelap Terbitlah Gelap.
(*)
Berita lain tentang TRIBUN WIKI
Baca berita terbaru lainnya di Google
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/peringatan-hari-kartini-21-april-2019.jpg)