Hidup di Batam Sulit Kian Dipersulit Saat Ini: Saya Tak Bisa Kerja Sejak Virus Corona Ada
Rakyat yang susah diperparah dengan aturan pemerintah menghalau Covid-19 dengan menerapkan PPKM Darurat yang kini telah ganti nama jadi PPKM Level 4
TRIBUNBATAM.id - Muncul pertama kali di Indonesia medio Maret 2020, virus corona atau Covid-19 belum sirna.
Perlahan-lahan virus yang disebut-sebut bermula dari Wuhan, salah satu kota di China menyebar ke seluruh kota.
Corona dengan cepat menyebar dan menjangkiti banyak manusia hingga dilarikan ke rumah sakit, atau yang paling menyakitkan adalah meninggal dunia.
Jauh dari hiruk pikuk Ibu Kota Jakarta, Pulau Batam di Kepulauan Riau (Kepri) ikut tersergap virus corona.
Dampaknya sangat terasa bahkan sampai sekarang, di mana pemerintah telah berganti-ganti nama dalam program penanganan corona.
Nyatanya corona belum sirna dan rakyat di kota yang katanya maju dengan industrinya sebagian masih merana.
Seperti yang dialami Jamal (45) yang hidup sulit di Batam, hidupnya makin sulit selama adanya virus corona.
Berbincang dengan Tribun Batam, ia mengatakan sudah tak berkomunikasi lagi dengan mantan istri dan anak perempuan semata wayangnya yang kini berumur 17 tahun.
Di Batam, ia hidup sebatang kara dan kesehariannya hanya duduk di Jalan Teuku Umar, tak jauh dari Nagoya Hill.
Pakaian Jamal terlihat kusam mengenakan baju dan celana yang kotor karena jarang dicuci.
Sebuah tas kecil selalu ia bawah kemanapun ia pergi.
Dalam tas itu berisi baju yang ia persiapkan untuk ganti ketika hendak mandi.
Baca juga: DAFTAR Aturan Berlaku Selama PPKM Level 4 di Batam dan Tanjungpinang, Level 3 di Bintan dan Natuna
Kisah hidupnya yang sudah pelik, kini ditambah dengan kebijakan pemerintah soal PPKM Darurat yang berganti nama menjadi PPKM Level 4.
Urusan ganti nama ini, tak begitu dipersoalkan olehnya.
Yang ia persoalkan, dampak dari kebijakan yang katanya bertujuan untuk menekan laju penyebaran covid-19 di Batam.
Untuk makan saja, sekarang ia benar-benar kesulitan.
Kondisi Covid-19 di Batam membuat Jamal saat ini hidup tanpa ada pekerjaan yang menghasilkan uang.
Hal ini diperparah lagi dengan adanya PPKM Level IV Batam yang diterapkan hingga 25 Juli 2021.
"Saya tak bisa kerja lagi sejak virus corona di Batam.
Cuci mobil tempat saya bekerja ditutup total karena sepi," kata Jamal, Rabu (21/7/2021).
Untuk makan sehari-hari saja, Jamal berharap bantuan dan uluran tangan dermawan warga setempat.
Tidak hanya makan, urusan tempat tinggal saja ia harus rela mennumpang di rumah teman.
Sering kali ia tidur di musala tak jauh dari Rumah Sakit Harapan Bunda Batam.
Saat ini Jamal hanya seorang diri tinggal di Batam.
Dia pernah menikah dan memiliki seorang anak perempuan yang saat ini sudah berusia 17 tahun.
Semenjak bercerai tahun 2017 yang lalu, ia mengaku tidak pernah berkomunikasi lagi dengan mantan istri dan anak semata wayangnya.
"Di Batam saya tidak ada saudara hanya ada teman satu kampung saja," ujarnya sembari sesekali mengusap air mata.
Dari hati kecilnya, Jamal berharap adanya bantuan dari Pemko Batam atau warga Batam untuk meringankan beban hidupnya.
"Semoga pandemi Covid-19 ini cepat berlalu, sehingga ekonomi Batam kembali pulih dan saya bisa bekerja seperti dulu lagi," harap Jamal.
Baca juga: Aturan Lengkap Perpanjangan PPKM Sesuai Surat Edaran Gubernur Kepri
Baca juga: 83 Pasien Covid-19 di Lingga Sembuh, Kasus Baru Tambah 71 Orang
Baca juga: Saat COVID-19 Menggila Crazy Rich Indonesia Ramai-ramai Terbang ke Amerika
.
.
.
Baca berita menarik TRIBUNBATAM.id lainnya di Google
(TRIBUNBATAM.id/ Ronnye Lodo Laleng)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/warga-batam-terimbas-pandemi-dan-ppkm-batam-1.jpg)