CORONA KEPRI
PPKM di Batam Berdampak pada BOR Rumah Sakit, Ini Kata Direktur RS Hj Bunda Halimah
Direktur RS Hj Bunda Halimah dr Ibrahim menyebut, BOR di rumah sakitnya cukup menurun akibat dampak PPKM di Batam. Kini berada di bawah 50 persen
BATAM, TRIBUNBATAM.id - Direktur Rumah Sakit (RS) Hj. Bunda Halimah, dr. Ibrahim mengungkapkan, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mempengaruhi tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Ratio (BOR) di rumah sakitnya.
Sejauh ini, menurut Ibrahim, tingkat hunian ruang isolasi di RS Hj. Bunda Halimah sudah cukup turun. Yakni berada di bawah 50 persen dari kapasitas. Pada Senin (9/8/2021), jumlah pasien Covid-19 yang dirawat di RS Hj. Bunda Halimah hanya 4 orang.
Pasalnya, pasien yang masuk ke ruang isolasi cepat keluar, karena sudah dinyatakan sembuh dalam jangka waktu seminggu atau dua minggu.
"Kalau di ICU kan beda, pasien yang masuk pastinya dalam kondisi parah dan butuh perawatan ekstra.
Dengan adanya PPKM ini, tingkat BOR ikut berpengaruh," ujar Ibrahim.
Baca juga: Cerita Dokter Ibrahim, Nakes Pertama yang Disuntik Vaksin Covid-19 Dosis 3 di Kepri
Baca juga: Batam PPKM Level 3, Ini Syarat Bepergian Naik Pesawat dan Kapal dari Batam
Diketahui RS Hj. Bunda Halimah menjadi salah satu rumah sakit rujukan bagi pasien Covid-19 di Batam. Namun Ibrahim mengatakan, untuk nakes yang terpapar Covid-19 saat ini masih dirujuk ke RS Awal Bros.
Meski demikian, pihaknya tetap merawat para pegawai dan dokter RS Hj. Bunda Halimah Batam di rumah sakitnya sendiri. Adapun kapasitas ruang isolasi biasa di rumah sakit ini sebanyak 26 tempat tidur, dan total 115 tempat tidur untuk pasien Covid-19.
"Nakes kami juga banyak yang terpapar karena sering bergantian kerjanya, tapi nggak sampai bergejala parah gitulah," ujar Ibrahim.
Ia menekankan pentingnya vaksin dalam menjaga ketahanan tubuh terhadap virus corona. Berkat vaksinasi yang kini sudah mencapai tiga dosis, para nakes yang terpapar Covid-19 tidak bergejala parah, dan lebih cepat sembuh.
"Sebelumnya kan kita sering mendengar nakes dan dokter yang meninggal akibat terpapar Covid-19, ada sekitar 600 lebih nakes.
Kehilangan dokter dan nakes sebanyak itu kan merupakan kehilangan yang besar sekali, karena untuk mencetak satu dokter butuh waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit," tambah Ibrahim.
(TRIBUNBATAM.id/Hening Sekar Utami)
Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google
Berita Tentang Corona Kepri
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/1008dokter-ibrahim.jpg)