Tanam Mangrove, Investasi Masa Depan di Pulau Natuna
program penanaman mangrove Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL)
Penulis: Renhard Patrecia Sibagariang | Editor: Agus Tri Harsanto
TRIBUNBATAM.id "Hai guys kami masih di lapangan. Tetap semangat.”
Suara itu terdengar dari rekaman video berdurasi 16 detik yang dikirim Ketua Kelompok Embun Sementeh, Maspian.
Di dalam rekaman video tersebut, tercatat lokasi dan tanggal pembuatannya.
Desa Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, 1 Agustus 2021.
Dalam rekaman itu tampak hujan deras tak menyurutkan upaya para penanam mangrove membuat pagar dan memeriksa mangrove yang ditanam.
Terlihat juga, angin yang bertiup menggoyangkan kapal motor. Dari video itu, tercatat angin yang berhembus mencapai 1 kilometer per jam.
“Beginilah kondisi kami kalau angin kencang,” kata Maspian, Minggu, 15 Agustus 2021.
Maspian bercerita dalam program penanaman mangrove Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Sei Jang Duriangkang, kelompoknya mendapat kuota area tanam seluas 55 hektare. Sejak Maret 2021, mereka sudah mulai menanami area tersebut dan ditargetkan selesai pada November atau Desember 2021.
“Progresnya sekarang sudah sekitar 65 persen,” ujar dia.
Maspian mengatakan ada dua lokasi penanaman. Satu lokasi tanam berjarak 3 kilometer dari pelabuhan. Di lokasi ini, Kelompok Embuh Sementeh mendapat lokasi penanaman seluas 10 hektare.
“Kalau yang lokasi kedua, 45 hektare, jauh. (Jaraknya) 10 sampai 15 kilometer,” kata dia.
Selain kondisi cuaca, tantangan yang kerap dihadapi yaitu sampah di laut.
Maspian menyebut, potongan kayu dan sampah yang terbawa arus kerap menumbangkan ribuan mangrove muda yang mereka tanam. Kondisi semacam ini sudah terjadi empat kali. Dia dan tim harus membenahi kerusakan akibat kayu dan sampah tersebut.
“Mau nggak mau kita harus sulam kembali,” ucap dia. Sulam merupakan istilah yang digunakan warga ketika menanam kembali bibit mangrove.
Untuk mencegah kondisi serupa terulang, Maspian dan kelompoknya kemudian membuat pagar kayu sepanjang 1,5 kilometer. Pagar itu memiliki kerapatan 15 centimeter.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/brgm-7.jpg)