Selasa, 21 April 2026

Benarkah Masyarakat Indonesia Tak Cemas Bahaya Corona?

Di tengah kecemasan sebagian besar masyarakat global terhadap pandemi Covid-19 terdapat kelompok masyarakat Indonesia yang tak cemas akan virus corona

Istimewa
Foto tangkapan layar video viral kerumunan warga sambil berjoget-joget di Pantai Muriara, Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, Ahad (16/5/2021) 

TRIBUNBATAM.id - Pandemi virus corona atau Covid-19 masih terus meneror dunia, termasuk Indonesia.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, termasuk otoritas kesehatan internasional dan lokal telah berulangkali menyatakan tentang bahaya Covid-19.

Tak seperti virus pada umumnya, Covid-19 bisa bermutasi dan memunculkan varian-varian baru yang berbahaya jika menginfeksi manusia.

Menariknya, di tengah kecemasan sebagian besar masyarakat global, terdapat kelompok masyarakat Indonesia yang tak cemas akan corona.

Dibanding warga negara lain, masyarakat Indonesia mempunyai level relatif lebih rendah terkait kecemasan dan ketakutan terhadap Covid-19, seperti diungkap penelitian terbaru Jhons Hopkins University.

Dilansir dari Tribunnews.com (13/10/2021), studi tersebut meneliti perilaku masyarakat terhadap Covid-19.

Baca juga: Tanjung Pinang Cetak Rekor, Nol Kasus Kematian Baru Covid-19 Selain PPKM Level I

Baca juga: BINTAN dan Lingga Nol Kasus Baru Covid-19, Tanjungpinang Terbanyak Kasus Baru di Kepri

Menurut Perwakilan Communication Science and Research Jhons Hopkins Center For Communication Program, Yunita Wahyu Nigrum, kurangnya kecemasan atau kekhawatiran ini berisiko menimbulkan dampak tidak baik.

Di mana masyarakat akan menjadi lengah terhadap protokol kesehatan.

"Jadi kalau melihat di sini itu, kalau orang semakin rendah memandang bahwa ini ancaman rendah, itu akan berakibat orang tersebut menjadi lengah.

Tidak melihat Covid-19 berpotensi masih berisiko," ungkapnya dalam seminar virtual.

Namun perubahan perilaku telah terlihat di level individu, bahkan sudah bergeser menjadi norma sosial.

Berdasarkan pada penelitian yang sama, sebanyak 78 persen orang mengaku yakin dengan vaksinasi.

"Yang menarik di sini ada data yang menunjukkan 75 persen orang yakin bahwa hampir semua atau kebanyakan orang sekarang sudah divaksin," kata Yunita, dikutip dari health.

Namun di sisi lain, perilaku menjaga jarak masih terhitung rendah.

Kemudian menghindari kontak, menurut penelitian, masih perlu dibudayakan untuk menjadikan norma sosial.

Baca juga: Jumlah Pasien Covid-19 di RSKI Galang Terus Turun, Kembali Pulangkan 59 Pasien

Baca juga: Benarkan Ada Gelombang Ketiga Covid-19? IDI Menjawab, Epidemiolog Jelaskan Kondisi Indonesia

Karenanya terlepas dari itu, penting untuk diketahui protokol kesehatan sangat bermanfaat untuk mencegah penularan virus corona yang sangat sulit untuk diprediksi.

Di mana saat ini siapa saja bisa terkena penyakit Covid-19.

Disebutkan di laman who.int (9/7/2020) berjudul "Coronavirus disease (COVID-19): How is it transmitted?", bahwa Covid-19 ditularkan melalui kontak langsung dengan tetesan pernapasan dari orang terinfeksi, baik yang dihasilkan melalui batuk maupun bersin.

Seseorang juga dapat terinfeksi dari dan menyentuh permukaan yang terkontaminasi virus dan kemudian menyentuh wajah mereka, misalnya mata, hidung, mulut.

Karenanya menjalankan protokol kesehatan seperti 5M (Memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan membatasi mobilisasi serta interaksi) tidak boleh terabaikan meski sudah disuntik vaksin Covid-19 dosis kedua.

Baca juga: Jurus Pemerintah Tekan Covid-19 saat Libur Panjang, Evaluasi PPKM

Baca juga: Data Satgas Covid-19 Kepri, Bintan Nihil Kasus Baru Kematian Corona 13 Oktober 2021

Langkah pencegahan

Di masa pandemi Covid-19, siapa saja, termasuk orang yang sudah mendapatkan dua suntikkan vaksin sebaiknya terus mengikuti langkah-langkah pencegahan penularan virus corona dengan baik.

Langkah terbaik guna mencegah virus corona adalah mengikuti:

1. Upaya ABC pencegahan

ABC adalah singkatan dari:

Airway: Lindungi diri dengan menggunakan pelindung seperti masker, face shiled, disenfektan dan lain sebagainya

Buble (gelembung): memastikan berhubungan hanya dengan orang-orang yang dikenal dan dipercaya

Contact: Sebaiknya menggunakan aplikasi pelacakan kontak. Berinteraksi dengan orang dalam gelembung jika ada yang terinfeksi akan mudah melakukan pelacakan

2. Membatasi lingkaran sosial

Mengurangi jumlah orang-orang dalam lingkaran sosial juga baik dilakukan untuk mencegah risiko penularan virus corona apa pun variannya.

Jika gelembung sosial semakin besar, akan semakin menyulitkan pelacakan jika terjadi kondisi salah satu positif.

3. Batasi belanja secara langsung

Di tengah situasi pandemi ini, sebaiknya seseorang mempersingkat waktu yang dia habiskan untuk berbelanja.

Baca juga: SEJAK Dibangun, RSKI Galang Batam Rawat 16.884 Pasien Covid-19

Baca juga: BEGINI Kondisi Lokalisasi Jodoh Batam Selama Covid-19, TT : Semalam Belum Tentu Dapat Uang

4. Perhatikan penggunaan masker yang benar

Berdasarkan CDC, masker kain mungkin dapat menawarkan perlindungan terhadap virus corona.

Tapi, hal ini sangat bergantung dari jenis kain, jumlah lapisan kain, dan seberapa cocok masker tersebut oleh masing-masing orang.

Sebisa mungkin gunakan masker yang pas dan lebih baik lagi jika Anda memakai masker bedah atau masker N95.

5. Sering mencuci tangan

Melansir artikel di Kompas.com dengan judul "7 Cara Mencegah Penularan Virus Corona Varian Baru Menurut Ahli", CDC terus merekomendasi agar mempraktikan kebersihan yang baik dengan sering mencuci tangan dengan sabun setidaknya 20 detik.

Jika tidak, Anda bisa pula memakai hand sanitizer dengan kandungan alkohol setidaknya 60 persen.

Menginat virus corona varian baru lebih menular, aktivitas seperti menyentuh kartu kredit atau pegangan pompa bensin menjadi lebih berisiko.

Simpanlah sebotol kecil pembersih agar Anda dapat segera membersihkannya setelah kegiatan.

Baca juga: 2.889 Orang Divaksin Covid-19 dalam Sehari, Total Capaian Vaksinasi di Batam Capai 84 Persen

Terapkan 5M

Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan, protol kesehatan 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak) saja tidak cukup.

Untuk melindungi dari infeksi Covid-19 jenis varian apa pun, protokol kesehatan harus ditambah 5M, dua lainnya adalah menghindari kerumunan dan menghindari mobilitas.

"Apa pun variannya, 5M itu efektif kalau diterapkan dengan sungguh-sungguh dan konsisten, secara kualitas dan kuantitas," kata Dicky kepada Kompas.com, Sabtu (26/6/2021).

Adapun 5M yang dimaksudkan yakni, memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, membatasi mobilisasi dan interaksi.

.

.

.

(*/ TRIBUNBATAM.id)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved