Minggu, 3 Mei 2026

WAWANCARA EKSKLUSIF

Quo Vadis Olahraga Kepri Pasca PON Papua

Penasihat KONI Provinsi Kepri, HM Nur Syafriadi membahas program Tribun Batam Podcast (TRIPOD), Sabtu (16/10/2021).

Tayang:
Penulis: Febriyuanda |
ISTIMEWA
Penasihat KONI Provinsi Kepri, HM Nur Syafriadi membahas program Tribun Batam Podcast (TRIPOD), Sabtu (16/10/2021). 

Selain layar, itu ada cabang olahraga tinju. Itu potensi emasnya juga besar, apalagi ski air. Jadi kita harus jaga dan bina terus atlet-atlet Kepri ini supaya terus jangan sampai lari ke luar 

TB: Abang menyebutkan, kita kekurangan alat olahraga untuk cabang layar. Lalu, apa solusi untuk mengatasi kendala, atas kekurangan peralatan olahraga layar sendiri?

NS: Tentu memanfaatkan peralatan yang ada seoptimal mungkin, kemudian tetap juga mengirimkan pelatihan-pelatihan dengan daerah yang terbatas.

Kemarin kita pernah berlatih dan mengirimkan ke Malasya, sekarang kita hanya kirimkan ke Manado atau di Jawa Barat latihannya. Emang anggaran tidak mendukung untuk itu, jadi apa adanya aja yang kita optimalkan.

Kemudian asupan asupan yang bergizi untuk para atlet berkurang, karena kemampuan anggaran terbatas. Itu tentu sangat berpengaruh pada kemampuan Atlet saat bertanding di PON itu.

Jadi Pemerintah harus turut hadir di dalam dunia olahraga Kepri, jangan hanyak bicara dukung saja.

TB: Bang, kita tahu bahwa Atlet layar kita dibajak oleh Jawa Timur. Itu kasus kapan sebenarnya?

NS: Pada tahun saya menjadi ketua harian KONI Kepri

Atlet kita itu sebenarnya adalah atlet layar yang kita backup di sini, sudah diangkat menjadi Angkatan Laut dan ditugaskan di kapal perang. Kemudian dia bertugas di Surabaya, di sana dia latihan minta izin sama kami, lalu kami persilahkan. Tapi dia tidak hanya latihan di sana, dia diambil oleh Jawa Timur.

Akhirnya, kami sidang di KONI pusat untuk mempertahankan atlet kit. Termasuk atlet ski kita yang meraih emas di Jawa Barat itu. Akhirnya saya berhasil mempertahankan atlet ski itu.

Tetapi atlet layar ini tidak bisa dipertahankan, karena dia sudah berpindah tugas di Surabaya. Akhirnya kita ngalah, tapi dengan catatan Jawa Timur mesti mengembalikan biaya kita melatih dia supaya bisa mendapat emas itu. Kita hanya tuntut membeli peralatan layar untuk junior-junior, dengan yang mereka mampu Rp 325 juta.

TB: Oke bang. Selain layar, kita juga memperoleh medali dalam cabang tinju. Lalu bagaimana abang melihat perkembangan cabang olahraga tinju di Kepri?

NS: Tinju di Kepri cukup baik ya. Memang tidak gampang untuk mendidik tinju itu karena dibutuhkan pelatih yang handal, tetapi pelatih kita sangat luar biasa bisa menciptakan sasana yang baik melarikan petinju-petinju yang bisa masuk ke tingkat nasional.

Tinju itu sangat potensif, tetapi dia tidak cukup hanya berlatih di daerahnya. Dia harus coba dan trial ke luar. Nah, disitulah kita kurang, karena tidak melatih atlet kita ke luar daerah. Sehingga di tahun ini tidak ada emas yang disumbangkan tinju itu, hanya perak.

TB: Kenapa dari dulu soal pembinaan KONI Kepri itu selalu soal anggarannya yang kurang. Apakah tidak ada solusi atau pendekatan kepada pemerintah?

Sumber: Tribun Batam
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved