Rabu, 3 Juni 2026

Cara Deteksi Dini Penyakit Jantung, Hindari Kematian akibat Sakit Jantung

Baik sebelum dan selama pandemi Covid-19 penyakit jantung masih menjadi penyumbang angka kematian tertinggi di dunia dan mengancam banyak nyawa

Tayang:
freepik.com
SERANGAN JANTUNG - Cara Deteksi Dini Penyakit Jantung, Hindari Kematian akibat Sakit Jantung. FOTO: ILUSTRASI 

TRIBUNBATAM.id - Penyakit jantung bertanggung jawab atas setidaknya 15 dari 1.000 orang Indonesia menderita penyakit kardiovaskular pada tahun 2018.

Fakta itu dianggap mengkhawatirkan dan membutuhkan perhatian banyak pihak termasuk masyarakat secara individual.

Baik sebelum dan selama pandemi Covid-19, penyakit jantung masih menjadi penyumbang angka kematian tertinggi di dunia.

Kengerian penyakit jantung terkadang kurang disadari banyak orang.

Sebab tak sedikit masyarakat mengabaikan beberapa gejala awal penyakit jantung.

Hal itu terlihat saat pasien baru memeriksakan jantungnya ketika sudah mengalami gejala cukup parah.

Baca juga: Luar Biasa Manfaatnya, Ini 11 Khasiat Jeruk Nipis Bagi Kesehatan, Termasuk Obati Kanker dan Jantung

Baca juga: 7 Cara Mencegah Penyakit Jantung yang Harus Dilakukan dari Sekarang

Sebenarnya risiko kematian karena penyakit jantung bisa dihindari jika melakukan deteksi dini.

Director, Country Manager Diagnostics, Roche Indonesia, Ahmed Hassan mengatakan, gaya hidup masyarakat yang semakin pasif selama pandemi Covid-19, turut berkontribusi bagi peningkatan prevalensi penyakit jantung.

"Sekitar 16,3 persen pasien yang dirawat di ruang isolasi Covid-19 ternyata mempunyai penyakit bawaan kardiovaskular, dengan gaya hidup pasif selama pandemi ditengarai menjadi salah satu pemicunya," kata Ahmed dalam diskusi daring oleh Siloam Hospitals Lipo Village dan Roche Indonesia bertajuk, Deteksi Dini Penyakit Jantung: Apakah Mungkin? Kamis (18/11/2021).

Ahmed menegaskan bahwa pada dasarnya penyakit kardiovaskular atau jantung merupakan penyakit yang bisa dicegah dengan deteksi dini secara rutin.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Siloam Hospitals Lippo Village, DR dr Antonia Anna Lukito SpJP(K), FIHA, FAPSIC, FAsCC, FSCAI mengatakan, kematian akibat penyakit jantung ini meningkat karena sebagian besar tidak ada gejalanya.

"Penyakit jantung itu banyak jenisnya ya, dan memang seringkali banyak pasien yang tidak sadar kalau dirinya sudah ada penyakit jantung, karena gejala penyakit jantung di fase awal kerap dirasakan gejala umum yang tampak tidak membahayakan kesehatan," kata dia dikutip dari kompas.

Baca juga: Jantung Berdebar Mimpi Buruk Dikejar ODGJ, Ternyata Ini 4 Maknanya

Baca juga: Ciri Sakit Jantung di Usia Muda, 7 Penyebab dan Cara Mencegahnya

Dengan mengabaikan beberapa gejala awal penyakit jantung, membuat pasien baru memeriksakan jantungnya ketika sudah mengalami gejala yang cukup parah.

Antonia mengatakan, kita perlu deteksi dini jangan sampai kita didiagnosis sakit jantung dalam kondisi yang sudah lanjut.

Dengan kata lain, cobalah untuk melakukan deteksi dini penyakit jantung sedini mungkin.

Hal ini seperti yang dilakukan di banyak negara lain yang bahkan merekomendasikan warganya untuk melakukan cek jantung rutin secara berkala, minimal lima tahun sekali sejak usia 18 tahun, dan harus semakin sering jika memiliki riwayat kesehatan atau gaya hidup tertentu.

"Pada tahap ini, deteksi dini sudah menjadi hal yang mutlak dilakukan untuk mencegah semakin banyaknya keterlambatan penanganan pada penyakit jantung," ujarnya.

Deteksi dini penyakit jantung

Deteksi dini penyakit jantung menjadi opsi ideal untuk mencegah terlambatnya penanganan penyakit jantung pada pasien.

Salah satu inovasi deteksi dini penyakit jantung adalah penggunaan biomarker Troponin T dan NT-proBNP dalam tes darah, yang kini diakui sebagai standar emas deteksi dini penyakit jantung di dunia.

"Rajinlah medical check up, badan kita harus di-medical check up. Apa yang harus dicek? Biomarker minimal untuk mendeteksi dini," kata dia.

Baca juga: Waspada, Kurang Tidur Bisa Memicu Serangan Jantung, Ini Gejala dan Faktor Penyebab Lainnya

Baca juga: Kenali Dampak Negatif Terlalu Banyak Makan Gorengan terhadap Kesehatan Jantung

Pada dasarnya, biomarker Troponin T digunakan untuk mendeteksi kerusakan otot jantung.

Sedangkan, biomarker NT-proBNP digunakan untuk mendeteksi dan monitor lemah jantung, melihat hormon yang dihasilkan oleh jantung pada saat teregang.

Sehingga, kata Antonia, penanda biokimia atau biomarker penyakit jantung ini dapat membuat diagnosis akurat dari penyakit jantung, menilai besar risiko dan memandu terapi, serta memprediksi prognosis.

"Biormarker ini bisa mendeteksi dini, bahkan pada kita yang tidak ada gejalanya, bisa memprakirakan potensi risiko gejala sakit jantug," tambahnya.

Selain mampu mendeteksi penyakit jantung sejak dini, inovasi ini juga memungkinkan pasien untuk mencari tahu tingkat keparahan kondisi, merencanakan pengobatan yang efektif sesuai kondisi kesehatan, dan mencari tahu apakah pengobatan yang selama ini dijalani sudah bekerja dengan baik.

Tes biomarker Troponin T dan NT-proBNP kini bisa diakses oleh pasien di berbagai rumah sakit dan laboratorium klinik, termasuk Siloam Hospitals Lippo Village.

"Melihat adanya peningkatan pasien penyakit jantung terutama akibat gaya hidup pasif selama pandemi, kami terus berupaya untuk berfokus pada penerapan intervensi dengan efisiensi biaya melalui deteksi dini penyakit jantung," ujar Ahmed.

Upaya ini sejalan dengan pencapaian target Sustainable Development Goal 3, yaitu setidaknya 30 persen pengurangan kematian dini akibat penyakit tidak menular pada 2030.

Baca juga: JANGAN Abaikan 5 Gejala Serangan Jantung Ringan Ini, Salah Satunya Sering Pusing

Baca juga: 7 Manfaat Luar Biasa Buah Pepaya bagi Kesehatan, Meningkatkan Imun hingga Bikin Jantung Sehat

.

.

.

(*/ TRIBUNBATAM.id)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved