Jejak Masyarakat Tionghoa Dicap Minoritas di Indonesia
Migrasi orang-orang Tionghoa hingga ke Indonesia disebut telah terjadi lama. Percampuran bahkan sudah terjadi hingga ke wilayah genetika.
Adapun Tionghoa peranakan, ungkap dia, bukan semata dari sisi biologis melainkan kebudayaan.
"Di rumah, mereka memakai bahasa Melayu, Indonesia, Jawa atau Sunda. Adat-istiadat mereka juga tidak 100 persen Tionghoa, tetapi mereka telah mengambil adat-istiadat penduduk setempat," ungkap Onghokham.
Onghokham mengutip pula tulisan Ong Taij Haij, Tionghoa yang merantau ke Jawa pada abad ke-18, yang mengatakan bahwa ketika orang Tionghoa telah tinggal selama beberapa keturunan di negara asing tanpa pernah kembali ke Tiongkok maka mereka dengan mudah sekali melepaskan diri dari ajaran dan tata cara Tiongkok.
Baca juga: Inilah 8 Dewa Rezeki Dipercaya Masyarakat Tionghoa, Tugasnya Membahagiakan Manusia
"Dalam hal makanan dan pakaian mereka mengikuti penduduk asli dan membaca buku-buku asing. Mereka tidak berkeberatan untuk menjadi orang Jawa dan menamakan dirinya orang Islam," tulis dia.
Biang persoalan
Soal sebab Tionghoa hingga hari ini masih saja kerap dianggap minoritas berbeda, termasuk penyebutan Tionghoa peranakan, Onghokham menyebut tatanan sosial dan politik sebagai biang.
Motif ekonomi jadi penyebab turunan berikutnya.
Elite lokal yang tak lagi menjadi penguasa nyata, kata Onghokham, adalah salah satu sebab utama.
Sementara, manusia pada umumnya menolak untuk turun jenjang sosial, kalau bisa malah mau naik kelas sosial.
Sebelum Perang Diponegoro, elite di Tanah Jawa adalah Bumiputra.
Selewat abad ke-18, praktis kekuasaan di Hindia Belanda ada di tangan orang-orang Belanda dan pemerintahan pendudukan setelahnya.
Bagi orang-orang Tionghoa, yang bisa dilakukan agar derajat sosialnya tak turun adalah berupaya "menyama-nyamakan" diri dengan orang Belanda.
Sebelum abad ke-19, upaya Tionghoa melebur ke kalangan elite relatif lebih mudah dilakukan lewat perkawinan dengan trah bangsawan lokal, kecuali di Batavia yang sejak awal keberadaan wilayah ini nyaris berada di bawah kekuasaan pendatang.
Baca juga: Peran Kho Tjioe Liang Dokter Keturunan Tionghoa & Cerita Evakuasi Jenazah 7 Pahlawan di Lubang Buaya
Kalaupun ada Tionghoa di Batavia menikahi Bumiputra, penyebabnya semata karena tak ada perempuan Tionghoa totok yang bisa dinikahi pada saat itu.
Yang dipilih pun bukan perempuan Jawa, melainkan perempuan Bali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/bnagunan-masjid-cheng-hoo-surabaya.jpg)