Jejak Masyarakat Tionghoa Dicap Minoritas di Indonesia
Migrasi orang-orang Tionghoa hingga ke Indonesia disebut telah terjadi lama. Percampuran bahkan sudah terjadi hingga ke wilayah genetika.
TRIBUNBATAM.id - Migrasi orang-orang Tionghoa hingga ke Indonesia disebut telah terjadi lama.
Percampuran bahkan sudah terjadi hingga ke wilayah genetika.
Fakta ini mengusik pertanyaan mengapa kelanjutan migrasi manusia ini belakangan menjadi persoalan dan menghadirkan kotak-kotak pelabelan termasuk penyebutan minoritas bagi kalangan Tionghoa?
Mendiang sejarawan Onghokham menjelaskan, ada sebab yang lebih rumit dibanding semata jumlah populasi.
Salah satu kumpulan tulisannya, Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa, mengurai soal pelabelan minoritas Tionghoa dalam satu bab, dengan bab lain menopang kelindan duduk perkaranya.
Onghokham menulis, salah satu yang mendasari label minoritas bagi Tionghoa di Indonesia adalah mitos suku bangsa ini tidak mungkin dilebur ke dalam masyarakat selain komunitasnya sendiri.
Menurut Onghokham, mitos itu dibuat orang asing, terutama Barat, karena pengamatan yang keliru.
"Mereka hanya memerhatikan orang-orang Tionghoa yang baru berimigrasi ke negara itu. Tentu saja orang yang baru berimigrasi itu tidak bisa dilebur," tulis Onghokham.
Baca juga: Sejarah Panjang Istilah China, Tionghoa, Imlek di Indonesia Hingga Peran Presiden SBY
Ahmad Arif dalam tulisan berjudul "Besse" Menyingkap Jejak Leluhur yang tayang di Harian Kompas edisi 28 Agustus 2021 menulis, sejauh ini fosil manusia paling tua yang berhasil diurutkan genetikanya di Indonesia diambil dari situs Loyang Ujung Karang, Aceh Tengah.
Genetika fosil berumur 2.000 tahun itu diurutkan oleh ahli genetika dari St John’s College, University of Cambridge, Eske Willerslev dan tim.
Kajian genetika ini dilakukan simultan dengan 25 fosil manusia kuno yang lain di Asia Tenggara dan hasilnya terbit di Jurnal Science pada 2018.
Dari data genom fosil ini ditemukan bukti ada pembauran genetika antara pemburu-peramu dan petani di Asia Tenggara.
"Petani padi di Asia Tenggara bermigrasi dari China selatan, tepatnya lembah Sungai Yangtze dan Sungai Kuning, tempat awal domestifikasi padi dan jewawut, 9.000-5.500 tahun lalu, kemudian budidaya padi sawah sekitar 4.500 tahun lalu," tulis Arif.
Informasi DNA dari fosil kuno yang ditemukan di Aceh Tengah, yang hingga sebelum 10.000 tahun lalu menjadi bagian dari dataran Eurasia ini penting untuk menggambarkan migrasi dan relasi manusia di bagian barat Indonesia.
Temuan dan kajian atas fosil Besse dari situs Leang Panninge, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menggenapi bacaan tentang migrasi manusia di Indonesia berdasarkan jejak genetikanya.
Baca juga: Warga Tionghoa di Tanjung Pinang Rayakan Imlek, Tak Ada Pesta, Pilih Secara Sederhana
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/bnagunan-masjid-cheng-hoo-surabaya.jpg)