Sabtu, 9 Mei 2026

BATAM TERKINI

Perayaan Imlek di Batam Tetap Meriah Meski Tanpa Pesta Kembang Api Akibat Pandemi

Tahun baru Imlek tahun 2022 ini kembali dirayakan dengan sederhana meskipun lebih meriah dibanding tahun lalu.

Tayang:
TRIBUN BATAM/ARGIANTO DA NUGROHO
SEMBAHYANG IMLEK - Warga keturunan Tionghoa bersembahyang menghormati leluhur mereka menjelang pergantian tahun baru imlek di Vihara Budhi Bhakti, Nagoya, Batam, Selasa (1/2/2022). 

BATAM, TRIBUNBATAM.id - Tahun baru Imlek tahun 2022 ini kembali dirayakan dengan sederhana meskipun lebih meriah dibanding tahun lalu.

Tak ada pesta kembang api, Marga Tionghoa hanya fokus sembahyang, berdoa.

Kalaupun ada perayaan, hanya barongsai.

Di sekitar Vihara Budhi Bhakti Nagoya, misalnya, pada malam Imlek biasanya ada pesta embang api selama lebih dari satu jam.

Ratusan warga yang sudah berdatangan dari seluruh penjuru Kota Batam, Senin (31/1/2022) malam pun terlihat kecewa.

Namun, masih ada sedikit hiburan, yakni pertunjukan tari liong oleh sembilan grup barongsai.

Pengetatan protokol kesehatan juga terlihat dilakukan panitia, yakni dengan bergantian dan jaga jarak.

Kapasitas vihara hanya dibatasi untuk 100 orang.

Petugas Vihara Budhi Bhakti, Andris menuturkan, pihaknya juga menyediakan 600 paket makanan gratis bagi pengunjung usai sembahyang. Terbagi atas dua jenis makanan untuk non-vegetarian dan vegetarian.

Baca juga: Atraksi Barongsai Meriahkan Perayaan Imlek 2022 di Vihara Ngo Hu Xian Ko Karimun

Baca juga: IMLEK 2022 - Sejumlah Pertokoan di Nagoya Batam Tutup, Biasanya Selama 5 Hari 

"Tapi dibanding tahun lalu, kini justru berkurang, hanya sekitar 800 hingga 1000 orang saja yang sembahyang," tutur Andris.

Sebelumnya pemerintah memang sudah mengimbau untuk tidak menggelar pesta kembang api atau perayaan apapun.

Sebab, pandemi Covid-19 naik lagi, terutama varian Omicron yang mulai masuk ke wilayah Kepri. Ini adalah tahun kedua Imlek tanpa pesta kembang api karena tahun 2021 lalu, pandemi juga sedang naik.

Vihara yang menjadi pusat perayaan Imlek hanya fokus menggelar sembahyang dan berdoa untuk mendapatkan kerbekatan menyambut tahun 2573 Kongzili yang disambut oleh marga Tionghoa di seluruh dunia ini.

Suasana ini bisa dilihat di seluruh vihara atau klenteng di seluruh Provinsi Kepri.

Alhasil, marga Tionghoa beragama Budha hanya fokus melakukan sembahyang dan berdoa di vihara bagi yang beragama Budha atau klenteng bagi yang beragama Kong Hu Cu.

Aroma dupa dan hio yang dibakar saat berdoa tetap mewarnai suasana Imlek.

Meski demikian, kemeriahan Imlek tetap terasa. Ribuan lampion berwarna merah terlihat bergelantungan dan tersusun rapi di jalan raya.

Sangat indah. Pernak-pernik Imlek juga terlihat di sekitar vihara. Kalaupun ada perayaan, hanya atraksi kecil, seperti pertunjukan liong atau barongsai yang menarik.

Berbeda dengan Kota Batam, di daerah lain justru terlihat lebih meriah.

Di Pancur, Lingga Utara, yang sering disebut “Hongkongnya Lingga”, ribuan lampion juga menjadi daya tarik warga setempat ataupun pengunjung dari luar.

Di kelurahan ini memang 75 persen penduduknya marga Tionghoa sehingga perayaan Imlek dipusatkan di sana.

Tokoh pemuda Tionghoa, Candra mengatakan, mereka memasang setidaknya ada 1.500 lampion untuk memeriahkan imlek.

Hanya saja, juga tak ada perayaan lain selain sembahyang.

Namun, dibanding tahun lalu, perayaan kali ini lebih ramai karena banyak warga yang mudik dari Tanjungpinang dan Batam. Karena itu, digelar turnamen bola voli di Senanggai.

Kemeriahan juga terasa di Karimun, seperti yang terlihat di Kampung Tionghoa, Meral.

Ratusan marga Tionghoa terlihat bergantian menggelar semabahyang di Vihara Ngo Hu Xian Ko yang berada di Jalan Antena, Kelurahan Meral Kota.

Atraksi barongsai dan pembakaran petasan mengawali sembahyang di vihara tersebut sehingga menarik perhatian warga Meral.

Apalagi, barongsai tersebut menyebarkan ribuan permen kepada warga yang datang.

Mereka terlihat asik berswafoto karena kawasan vihara memang dipenuhi oleh pernak-pernik Imlek berwarna merah.

Mulai dari lampion, aneka bunga, kaligrafi, terpasang di sepanjang jalan sekitar satu kilometer memasuki area vihara.

Wakil Ketua Pengurus Vihara Ngo Hu Xian Ko, Hermanto menjelaskan, tahun ini lebih meriah dibanging sebelumnya, namun tetap dengan protokol kesehatan yang ketat.

"Kami mengatur agar Pai Ping An (sembahyang-red) dilakukan secara bergantian dari pagi hingga sore,” katanya.

Di Vihara Bahtra Sasana Tanjungpinang juga dilakukan pembatasan pengunjung dan skema sembahyang bergantian.

Namun ada yang menarik di vihara ini. Usai sembahyang, biasanya marga Tionghoa membagikan angpao kepada warga kawasan pasar Kota Lama, Jalan Merdeka.

Joni, misalnya, selesai sembahyang, menghampiri belasan bocah di pintu masuk Vihara. Ia kemudian membagikan uang pecahan Rp 5 ribu dan Rp 2 ribu.

“Bagi-bagi angpao ini memang tradisi kita. Selain bentuk syukur, juga tanda keberuntungan,” katanya. (TRIBUNBATAM.id/Hening Sekar Utami/Roma Uly Sianturi/Noven Simanjuntak/Yeni Hartati/Febriyuanda) 

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved