Selasa, 5 Mei 2026

Potret Pemakaman Pasien Covid-19 di Batam Jelang Ramadhan 1443 Hijriah

Anisa, salah satu penjual bunga di TPU Sei Temiang mengatakan, 2 minggu sebelum puasa, sudah banyak peziarah yang datang. Kebanyakan dari luar Batam.

Tayang:
Editor: Dewi Haryati
tribunbatam.id/Pertanian Sitanggang
Potret tempat pemakaman pasien covid-19 khusus Islam di Batam tampak sepi dari peziarah pada Sabtu (2/4/2022). Puncak keramaian peziarah di tempat ini terjadi pada H-3 jelang puasa Ramadhan.. 

Wanita itu tidak sedang bersantai. Ia berjualan bunga makam.

Namanya Yurmani dan usianya sudah tak muda lagi. Tahun ini masuk 55 tahun.

Setiap harinya, Yurmani berjualan bunga makam demi menghidupi kelima anaknya.

Sebatang kara menafkahi anak-anaknya tanpa ditemani sosok suami, tak mematahkan semangat Yurmani berjualan di TPU Taman Langgeng Sei Panas.

"Bapaknya (suami Yurmani) sudah gak ada, saya usaha sendiri. Semenjak kecil-kecil saya sudah jual bunga," ujarnya sembari mengusap kedua matanya dengan handuk kecil berwarna putih.

Baca juga: PT PLN Batam Siaga Pasokan Listrik Saat Ramadhan, Kerahkan 85 Petugas di 6 Lokasi Siaga

Baca juga: Wisman Singapura Keluhkan Layanan PCR Masuk Batam di Pelabuhan, Hasil Tes Lama Keluar

Yurmani tinggal di permukiman padat penduduk di Baloi Kolam, tak jauh dari posisi TPU, tempat dirinya mencari nafkah.

Ia dan suaminya tinggal di Batam sejak 1999 silam. Namun suaminya sudah meninggal dunia pada tahun 2006 lalu.

"Nah, waktu yang besar SMP kelas 2 ditinggal bapaknya. Langsung putus sekolah. Nomor 2, waktu itu mau masuk SMP tapi langsung tak nyambung lagi. Anak ketiga naik kelas 4 waktu itu. Nah lanjut sampai kelas 2 SMP berhenti, nah udah nikah kemarin. Anak keempat juga tak sampai SMP, anak kelima sekarang masih SD," paparnya.

Sesekali ia juga ditemani anak-anaknya berjualan di makam. Namun dirinya lebih sering jualan bunga makam sendirian.

Setiap hari, anak-anaknya turut membantu Yurmani mencari bunga yang akan dijual. Lantaran tak seluruh bunga dibeli di toko bunga.

"Anak saya yang cari bunganya. Tapi ada juga yang saya beli. Seperti bunga yang berwarna merah ini harus dicari. Selain itu saya juga membeli plastik untuk tempat bunga dan air galon isi ulang," katanya.

Di hari biasa, 1 kantong bunga makam dijual hanya seharga Rp 5 ribu. Ada 6 hingga 7 jenis bunga di dalamnya. Apabila di hari besar seperti menjelang Ramadan dan Idul Fitri, bunga dijual dengan harga Rp 10 ribu per kantong.

Peziarah juga biasanya menggunakan air saat di makam. Yurmani juga menyediakan air yang dijual Rp 3000 per botol yang berisi 1.8 liter.

Yurmani menuturkan selama pandemi Covid-19, penjualan bunga makam memang menurun. Per harinya palingan hanya mendapat omzet Rp 20 hingga Rp 30 ribu. Tapi kalau kondisi ramai, dirinya bisa meraup omzet sampai Rp 50 ribu.

"Kadang-kadang malah tak ada," katanya.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved