RAMADHAN
Penjelasan Kenapa Lebih Mudah Emosi atau Marah Saat Berpuasa
Ketika pasokan tersebut berkurang, tubuh mulai mengirimkan sinyal yang mengarah pada reaksi fisiologis tubuh terhadap apa yang dibutuhkannya
TRIBUNBATAM.id - Tubuh manusia mengubah makanan yang dikonsumsi menjadi asam amino, lemak dan gula menjadi energi.
Ketika pasokan tersebut berkurang, tubuh mulai mengirimkan sinyal yang mengarah pada reaksi fisiologis tubuh terhadap apa yang dibutuhkannya dari makanan.
Dilansir dari Arabia Weather, perubahan tersebut bukan cuma memberi sinyal dengan munculnya perasaan haus dan lapar, tapi menyebabkan perubahan suasana hati.
Selama puasa, tubuh mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang menyebabkan perubahan suasana hati yang berhubungan dengan suasana hati.
Beberapa faktor pemicunya adalah sebagai berikut:
Kecanduan minuman manis atau berkafein
Kecanduan minuman berkafein seperti teh, kopi dan minuman bersoda membuat orang yang berpuasa merasa gelisah.
Baca juga: Resep Soto Betawi Kuah Santan ala Peserta MasterChef Indonesia 9, Cocok Untuk Buka Puasa
Kondisi ini seringkali ditandai dengan perasaan energi yang rendah dan marah karena kadar kafein dalam tubuhnya berkurang.
Kurang tidur
Mengganti waktu tidur di siang hari sebenarnya bisa mengurangi kurang tidur selama Ramadhan.
Namun sebenarnya, hal tersebut bisa menyebabkan ketidakseimbangan jam biologis tubuh.
Gangguan penyakit
Meningkatnya asam lambung, gangguan pencernaan, sakit kepala, atau merasa lemas akibat penyakit tertentu bisa menyebabkan perubahan suasana hati.
Meningkatnya kadar keton
Bahan kimia ini dilepaskan otak untuk melindunginya dari kekurangan glukosa yang terjadi saat berpuasa.
Peningkatan sekresi keton ini menyebabkan beberapa perubahan suasana hati, terutama di awal hari-hari puasa.
Terlepas dari itu semua, penelitian membuktikan bahwa efek psikologis tersebut sering muncul di hari-hari pertama puasa.
Baca juga: Tips Konsumsi Kopi Saat Puasa agar Tak Dehidrasi
Baca juga: Resep dan Cara Bikin Bakwan Sayur Sosis untuk Camilan Buka Puasa
Setelahnya tubuh segera menyesuaikan diri dengan pola makan tersebut dan segalanya mulai membaik.
Mencegah emosi tidak stabil saat berpuasa
Hal pertama yang harus disadari saat menahan emosi selama berpuasa adalah ibadah di bulan Ramadhan ini akan dibalas dengan manfaatnya untuk menjernihkan hati.
Di samping itu, dokter dan para ahli gizi mengatakan bahwa apa yang dikonsumsi saat berbuka puasa dan sahur juga memainkan peran penting dalam perubahan suasana hati seseorang.
Berikut beberapa tips yang bisa kita terapkan untuk mencegah emosi labil saat berpuasa melalui penyesuaian pola hidup selama Ramadhan.
1. Tidak melewatkan makan sahur
Makan sahur berperan penting dalam mengisi pasokan energi untuk menjalani ibadah puasa selama beraktivitas di siang hari.
Pastikan untuk mengonsumsi makanan sehat dan bergizi yang berkontribusi dalam mengisi pasokan gula tubuh secara perlahan dan membuat hormon dalam darah tetap stabil.
Makanan bergizi yang dimaksud adalah karbohidrat kompleks, aneka sayuran hijau, buah-buahan, makanan tinggi serat dan lemak serta protein sehat.
Baca juga: Memasuki Pertengahan Puasa, Simak Kumpulan Doa Sepuluh Hari Kedua Ramadhan 2022
2. Cukupi kebutuhan cairan tubuh
Seperti dilansir dari kompas.com, mencukupi kebutuhan cairan tubuh saat sahur dan berbuka puasa dapat mencegah dehidrasi.
Sebab, dehidrasi juga bisa memengaruhi perubahan suasana hati serta memicu penyakit lainnya.
3. Mengatur waktu tidur sebaik mungkin
Pastikan untuk mendapat kualitas tidur yang baik selama Ramadhan.
Kita dapat menyesuaikan waktu ibadah di malam hari serta mengurangi tidur siang terlalu lama, terutama di sore hari.
Memiliki kualitas tidur yang cukup dapat membantu kita memperbaiki suasana hati dan membuat hormon di dalam tubuh lebih stabil.
Baca juga: PERINGATI Nuzulul Quran, Pemko Batam Gelar Buka Puasa Bersama dan Santuni Anak Yatim
.
.
.
(*/ TRIBUNBATAM.id)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/ilustrasi-orang-marah.jpg)