ANAMBAS TERKINI
Nasib Tarian Gobang Pulau Mengkait Anambas di Era Serba Digital
Pulau Mengkait memiliki tarian Gobang yang mencoba bertahan dari gempuran arus globalisasi. Bagaimana warga di sana mempertahankannya?
Penulis: Novenri Halomoan Simanjuntak | Editor: Septyan Mulia Rohman
ANAMBAS, TRIBUNBATAM.id - Rabu, (4/5/2022) pagi, cuaca langit Anambas terasa begitu cerah.
TribunBatam.id sepakat bertemu di Pelabuhan Suncai, Kelurahan Sri Tanjung untuk melakukan penjelajahan ke Pulau Mengkait, Kecamatan Siantan Selatan.
Jarak tempuh dari pusat kota Tarempa ke Pulau Mengkait terhitung lebih kurang 3,4 Mil dengan menggunakan transportasi kapal kayu tempel akan memakan waktu lebih kurang 2,5 jam.
Sedangkan bila menaiki speed boat memakan waktu lebih kurang 1,5 jam.
Kami pun menumpang pada salah satu kapal kayu mesin tempel (pompong) milik seorang nelayan yang kemudian kami ketahui adalah warga Pulau Mengkait bernama Taba.
Selama perjalanan ombak laut tampak begitu tenang dan bersahabat.
Baca juga: Potret Kehidupan Nelayan Pulau Mengkait Anambas, Berharap Dapat Bantuan Radio Pemerintah
Baca juga: Waiting for Long Since becoming a Regency, Mengkait Village Anambas Can Finally Enjoy 4G Services
Kami pun memilih duduk di buritan kapal bersama Dani dan Tam yang sedari sebelumnya tengah menyantap nasi bungkus belanjaannya dengan lahap.
Dari kejauhan saat hampir mendekati Pulau Mengkait, pasang mata kami dibuat takjub dengan susunan batu-batu berukuran besar yang tak begitu luas tersusun menyerupai gundukan.
Di belakangnya puluhan hingga ratusan hamparan kapal kayu tempel milik nelayan terparkir di atas lautan hijau bening terlihat indah tepat di pinggir dermaga.
Pulau yang berdampingan dengan Pulau Temiang dan Pulau Kiabu ini ditempati oleh masyarakat suku laut yang dominan beragama Kristen dan Katolik.
Budaya mereka yang juga tak kalah melekat ialah kesenian Tarian Gobang yang setiap penarinya mengenakan aneka rupa topeng dengan pakaian mencolok diiringi musik gong.
Tarian Gobang yang semakin populer dikembangkan para seniman Anambas ini biasa dipentaskan sebagai hiburan saat perayaan nikah dan sunatan ataupun penyambutan tamu dari kalangan pejabat.
"Kalau sekarang sudah mulai sirna, karena kurangnya minat belajar dari anak muda, ditambah lagi orang-orang tua yang mulai kurang peduli mengajarkan ke pada generasi," sahut Dani.
Tak sampai di situ, Petrus yang merupakan satu dari sebagian tokoh masyarakat di sana juga menimpali hal yang serupa saat kami temui di bawah rumah panggung tempatnya memangkas rambut bersama rekannya.
Baca juga: Menanti Lama Sejak Jadi Kabupaten, Desa Mengkait Anambas Akhirnya Bisa Nikmati Layanan 4G
Baca juga: Hadiri Pelantikan Kades Mengkait, Wabup Anambas Wan Zuhendra Minta Tak Ada Lagi Isitlah Kawan Lawan
Ia mengatakan, Tarian Gobang adalah satu-satunya budaya pertama yang ada dan dijalankan untuk menghibur masyarakat disaat perayaan besar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/Potret-Pulau-Mengkait-Anambas-Kepri.jpg)