Sabtu, 11 April 2026

NATUNA TERKINI

JATAH Solar Bersubsidi Cuma 30 Liter per Hari, Sejumlah Nelayan di Natuna Pilih Libur Melaut

Sejumlah Nelayan di Natuna pilih libur melaut karena saat ini, jatah solar bersubsidi mereka dijatah hanya 30 liter saja per hari.

TRIBUNBATAM.id/Muhammad Ilham
Sejumlah nelayan saat menuju lokasi Fishing Ground di daerah perbatasan NKRI, Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. 

NATUNA, TRIBUNBATAM.id - Nelayan Natuna mengeluhkan soal kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar bersubsidi.

Kondisi tersebut menjadi perbincangan hangat di kalangan nelayan daerah perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) itu.

Pasalnya, dalam beberapa waktu terakhir nelayan di sana kesulitan mendapatkan BBM solar bersubsidi.

Biasanya, untuk mendapatkan solar bersubsidi, para nelayan harus membeli di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) khusus Nelayan di Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna.

Solar bersubsidi di SPBU khusus nelayan ini dibanderol seharga Rp 5.150 per liternya.

Namun, saat ini banyak nelayan yang terpaksa tidak melaut karena tidak mendapatkan BBM solar bersubsidi.

Meski begitu, nelayan di sana masih bisa mendapatkan BBM jenis solar tanpa subsidi dari penyalur atau pengecer, namun harganya sedikit lebih mahal yaitu Rp 6.000 per liter.

Baca juga: JUMLAH Kapal di Karimun Ada 2.285 Unit Tapi Kuota Solar hanya Cukup untuk 459 Kapal

Baca juga: Tolak Pembangunan Tower Telekomunikasi, Warga Perumahan Dang Merdu Indah Protes ke Kantor Lurah

Seperti diketahui, solar merupakan satu di antara kebutuhan primer bagi nelayan Natuna yang mencari ikan hingga ke perbatasan negara atau Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE).

Ketua Aliansi Nelayan Natuna, Henri mengatakan, kelangkaan ini disebabkan pendistribusian BBM jenis solar di SPBU khusus nelayan di Sepempang itu tidak tepat salur.

Menurutnya, yang mendapatkan solar bersubsidi itu tidak hanya nelayan, namun banyak dari kalangan luar seperti industri maupun kapal kargo.

"Selain itu, bahkan nelayan kami hanya dijatah 30 liter per hari untuk satu orang. Itu mana cukup untuk operasional," kata Henri.

Pria berjenggot panjang itu juga menjelaskan, solar yang dibutuhkan untuk menangkap ikan di daerah penangkapan ikan (Fishing Ground) dekat ZEE untuk sekali jalan bisa mencapai dua drom yang isinya masing-masing 200 liter.

Pasalnya, saat nelayan menangkap ikan di perairan perbatasan itu bisa memakan waktu selama sepekan dan bahkan belasan hari.

"Kalau menggunakan kapal dengan mesin empat D atau empat silinder itu butuh dua drom solar, sebab perjalanan menuju ke Fishing Ground dekat perbatasan itu memakan waktu 24 jam," tuturnya.

Henri mengungkapkan untuk mendapatkan BBM solar bersubsidi, nelayan harus memiliki Tanda Daftar Kapal Perikanan (TDKP).

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved