Sabtu, 25 April 2026

BERITA CHINA

Ancaman Jenderal China Buat Amerika Serikat Jika Terus Bela Taiwan

Pertemuan dua Jenderal antara China dan Amerika Serikat berlangsung panas terkait Taiwan. China menuntut AS untuk berhenti membalikkan sejarah.

Kompas.com
Ilustrasi antara China dengan Amerika Serikat. Dua Jenderal angkatan bersenjata dua negara itu bertemu dan saling melemparkan pernyataan menyudutkan terkait sikap mereka akan Taiwan. 

Militer China, kata Jenderal Li Zuocheng akan dengan tegas menjaga kedaulatan nasional dan integritas teritorial.

"Jika ada yang membuat provokasi nakal, mereka akan bertemu dengan serangan balik tegas dari orang-orang China," tegasnya.

Bahasa seperti itu cukup rutin dan Li juga dikutip dalam rilis berita Kementerian Pertahanan yang mengatakan China berharap untuk lebih memperkuat dialog, menangani risiko, dan mempromosikan kerja sama.

Daripada sengaja menciptakan konfrontasi, memprovokasi insiden, dan menjadi saling eksklusif'.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken pada Mei lalu menyebut China sebagai tantangan jangka panjang paling serius tatanan Internasional bagi Amerika Serikat.

Terlebih dengan klaimnya terhadap Taiwan dan upaya untuk mendominasi Laut China Selatan yang strategis, yang memicu tanggapan marah dari Beijing.

AS dan sekutunya menanggapi dengan apa yang mereka sebut patroli kebebasan navigasi di Laut China Selatan, yang memicu tanggapan marah dari Beijing.

Undang-undang AS mengharuskan pemerintah untuk memperlakukan semua ancaman terhadap pulau itu sebagai masalah keprihatinan serius.

Meskipun masih ambigu apakah militer AS akan membela Taiwan jika diserang oleh China.

Putaran terakhir retorika panas datang menjelang pertemuan antara Blinken dan mitranya dari China, Wang Yi hari Sabtu di pertemuan para menteri luar negeri dari G20 di Indonesia yang diperkirakan akan dibayangi oleh ketidaksepakatan atas serangan Rusia ke Ukraina.

Baca juga: Menlu Amerika Serikat dan China Bakal Bertemu di Bali, Inflasi AS jadi Sorotan

China menolak untuk mengkritik agresi Moskow atau bahkan menyebutnya sebagai invasi.

Sementara mengutuk sanksi Barat terhadap Rusia dan menuduh AS dan NATO memprovokasi konflik.

Seiring dengan isu panas Taiwan dan Laut China Selatan, Washington dan Beijing juga berselisih mengenai perdagangan, hak asasi manusia dan kebijakan China di Tibet dan terhadap minoritas Muslim Turki di wilayah barat laut Xinjiang.(TribunBatam.id) (Kompas.tv)

Baca juga Berita TribunBatam.id lainnya di Google

Sumber: Kompas.tv

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved