LINGGA TERKINI

MENGENAL Tradisi Makan Bersama Setelah Salat Idul Adha di Kampung Suak Rasau Lingga

Hari raya Idul Adha 1443 Hijriah selalu dirayakan dengan kebersamaan di Lingga. Terutama di masyarakat Kampung Suak Rasau yang menggelar makan bersama

Penulis: Febriyuanda |
TRIBUNBATAM.id/FEBRIYUANDA
Potret makan bersama usai salat Idul Adha di Kampung Suak Rasau, Desa Sungai Buluh, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri. 

LINGGA, TRIBUNBATAM.id - Momen Idul Adha 1443 Hijriah menjadi sangat berati bagi masyarakat di Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Nilai kekeluargaan yang masih ada tidak hanya membuat hari raya Idul Fitri, namun Idul Adha dilaksanakan dengan meriah dengan tradisi yang ada.

Wilayah Negeri Bunda Tanah Melayu ini memiliki cara tersendiri yang diwariskan secara turun temurun, dalam merayakan hari perayaan besar Islam.

Salah satunya makan besar atau makan bersama, yang dilakukan usai salat Idul Adha.

Salah satunya dirayakan juga oleh masyarakat Kampung Suak Rasau, Desa Sungai Buluh, Kecamatan Singkep Barat, Minggu (10/7/2022).

Setiap rumah membawa hidangan yang berisikan ketupat, lontong atau segala makanan siap saji yang telah dimasak untuk dibawa ke Masjid.

Makanan itu dijadikan sebagai hidangan besar untuk warga makan bersama, dalam menikmati dan merayakan lebaran.

Bentuk penyajiannya diletakkan di sebuah talam atau nampan bulat, yang ditutupi tudung saji pandan dilapisi kain warna-warni bercorak khas Melayu.

Usai pembacaan doa yang dilakukan tokoh agama, warga mulai mengelilingi hidangan dengan jumlah 4 atau 5 orang.

Baca juga: Wisata Lingga Hutan Mangrove di Desa Resun, Bisa Lihat Kunang-kunang Bercahaya

Sambil mencicipi ketupat dan lauk pauk yang ada, momen ini dijadikan mereka sebagai pembuka bicara, bercerita, saling memaafkan antar sesama.

Pemerihati Sejarah dan Budaya Lingga, Lazuardy mengungkapkan hal ini dengan maksud untuk memperkuat tali silaturahmi antar sesama.

"Bahkan di malam takbir juga ada tetangga-tetangga terdekat berbagi makanan," kata Lazuardy kepada TRIBUNBATAM.id.

Dia mengungkapkan, lebaran Idul Fitri dan Idul Adha menjadi meriah dengan tradisi yang masih terjaga ini.

"Memang tradisi ini sudah dari dulu dan terus telestarikan, karena di situ lah mereka sama-sama memanjatkan doa," ujarnya.

Tidak hanya itu, seusai salat Id warga menyempati perayaan Idul Adha ini dengan berziarah ke makam-makam orang tua, saudara, atau kerabtnya yang telah meninggal dunia.

Susana riuh pun muncul, ketika warga bertamu ke rumah tetangga dan memulai obrolan mereka.

Busana warna-warni juga tampak terlihat di jalan pedesaan, ketika warga hendak melakukan kunjungan bertamu. (TRIBUNBATAM.id/Febriyuanda)

 

Sumber: Tribun Batam
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved