BATAM TERKINI
Ombudsman Lapas Kelas IIA Batam, Kelebihan Penghuni Ruangan Jadi Catatan
Rombongan ombudsman mendatangi setiap ruang di lapas, para warga binaan tampak berkerumun di sekitar kamar mereka. Mata mereka menatap dengan lekat se
Anggota Ombudsman RI Jemsly Hutabarat mengatakan, sidak yang mereka lakukan di Lapas Kelas IIA Barelang dalam rangka mengetahui kondisi sebenarnya pembinaan warga binaan pemasyarakatan.
Dia memastikan, sidak yang mereka lakukan dilakukan secara mendadak, tanpa pemberitahuan.
Dari sidak, mereka memberikan sejumlah catatan yang perlu untuk disikapi, termasuk juga memberikan apresiasi atas beberapa hal dalam lapas.
Diantaranya fasilitas penunjang lapas yang bisa dibilang sudah cukup baik. Seperti fasilitas medis di Klinik Pratama Lapas Kelas IIA Batam. Fasilitas dapur umum hingga fasilitas pembinaan keagamaan.
"Saya lihat, klinik kesehatan sudah cukup baik, untuk pembinaan keterampilan saya lihat sudah cukup berjalan, tinggal pengembangan mengenai keterampilan yang perlu diperbaiki,"katanya.
Dalam soal pengembangan keterampilan menurut Jemsly Hutabarat belum memadai jika dibandingkan dengan jumlah warga binaan yang ada.
"Dengan penghuni lapas yang 1.600 orang, dimana di dalam yang kelihatan cuma 6, itu kami lihat belum sesuai kapasitasnya, maksudnya begini, kegiatannya sendiri memang sudah bagus, tapi masa iya sih cuma 6, 18 orang,"katanya.
Hal lain yang disorot adalah kelebihan penghuni dan overcrowding ruang para narapidana.
"Ada beberapa, terutama di lansia, itu sudah tidak memadai, dihuni 13, 14 orang dengan ruangan seperti itu,"katanya.
Ia membayangkan bagaimana ruangan sepadat itu harus dikelola pada saat pandemi Covid-19 melanda yang lalu.
"Kalau itu kan sangat rapat, jadi masalah kapasitas untuk beberapa ruang, kalau kami lihat semuanya ya bagus-bagus saja, cuma dengan lapas sebesar ini kok rasanya kekecilan,"kata Jemsly Hutabarat.
Jemsly Hutabarat mengatakan, hal yang perlu dipikirkan dan dicari jalan keluar dari masalah narapidana adalah pasca-pembebasan.
"Di sini mereka kan sudah mengembangkan kemampuan dan keterampilan, tapi bagaimana nanti kalau sudah keluar dari sini. Misalnya tadi ada napi yang bisa bikin kue, nanti bagaimana pas keluar di sini tidak ada yang merekrut dia bikin kue, kan bisa gagal kan program ini, nah itu keberlanjutan itu yang perlu dipikirkan,"katanya.
(AMINUDDIN/TRIBUNBATAM.id)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/sidak-lapas.jpg)