ANAMBAS TERKINI

Pasar Inpres Tarempa Anambas Sepi Pembeli, Sudah Terjadi Dua Bulan

Pedagang Pasar Inpres Tarempa Anambas menduga, sepinya pembeli sejak dua bulan terakhir karena hak keuangan ASN yang belum cair.

Penulis: Novenri Halomoan Simanjuntak | Editor: Septyan Mulia Rohman
TribunBatam.id/Novenri Halomoan Simanjuntak
PASAR INPRES TAREMPA - Pedagang Pasar Inpres Tarempa, Kabupaten Kepulauan Anambas melayani pembeli, Kamis (23/2/2023). Mereka mengeluh sepi pembeli sejak dua bulan terakhir. 

ANAMBAS, TRIBUNBATAM.id - Pedagang Pasar Inpres Tarempa Kabupaten Kepulauan Anambas mengeluhkan sepinya pembeli sejak dua bulan terakhir.

Sementara pasar ini menjadi satu-satunya di ibu kota Kabupaten Kepulauan Anambas yang menjual aneka sayur dan bumbu dapur.

Pantauan TribunBatam.id, aktivitas Pasar Inpres Tarempa tampak lengang.

Hanya terlihat dua atau tiga pengunjung yang berkeliling membeli barang belanjaan.

Sejumlah pedagang sembako dan bumbu dapur juga tampak termangu tak bersemangat.

Baca juga: Pemkab Anambas Dorong Pengusaha Jadi Agen Gas Elpiji Subsidi 3 Kg

Beberapa di antaranya saling berbincang-bincang sementara yang lain merapikan letak barang dagangan.

Padahal pedagang Pasar Inpres Tarempa mengaku, sejumlah harga bahan pokok dan bumbu dapur secara umum masih terbilang normal meski beberapa di antaranya naik.

Nurbaya, seorang pedagang di sana mengaku, sejak dibuka pagi hingga menjelang tutup, lapak dagangan sembako dan bumbu dapurnya sepi pembeli.

"Kondisi sekarang ini sepi sekali pembeli ke pasar. Dari pagi tadi bisa dihitung jari orang yang belanja ke lapak saya," ucapnya, Kamis (23/2/2023).

Kondisi sepi pembeli ini, ungkapnya, sudah terjadi sejak awal tahun baru lalu hingga sekarang.

Sepinya pembeli membuat sejumlah dagangannya seperti sayuran, tomat dan barang tak tahan lama lainnya menjadi layu dan busuk.

Hal ini pun membuat dirinya merugi, lantaran barang-barang tersebut jadi terbuang.

"Karena situasinya begini, saya gak berani nyetok barang banyak-banyak, pemesanannya dikurangi jadi secukupnya aja," terangnya.

Nurbaya juga menilai, ditambah dengan biaya transportasi barang dan jasa buruh bongkar muat turut menambah kondisi pedagang semakin tercekik.

"Kan barang kita hitungan perkilonya Rp8 ribu di kapal dan upah buruhnya mau sampai Rp 20 ribu tergantung banyaknya jumlah barang. Kalau situasi sepi gini ya kita pun makin susah bang," jelas Nurbaya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Batam
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved