NATUNA TERKINI

Pemadaman Listrik di Natuna Ekstrem Buat Warga Resah Hingga Datangi Kantor PLN

Pemadaman listrik di Natuna bikin warga resah. Mereka mendatangi kantor ULP PLN Ranai, Rabu (17/5/2023).

TribunBatam.id/Muhammad Ilham
LISTRIK DI NATUNA - Sejumlah masyarakat datangi Kantor ULP PLN Ranai, Rabu (17/5/2023). Mereka mempertanyakan sebab pemadaman listrik bergilir di Natuna. 

NATUNA, TRIBUNBATAM.id - Sejumlah warga Natuna mendatangi kantor ULP PLN Ranai, Rabu (17/5/2023).

Tujuan mereka untuk mempertanyakan soal kebijakan pemadaman listrik di Natuna secara bergilir di Pulau Bungurun yang sudah terjadi beberapa waktu lalu.

Akibat pemadaman listrik di Natuna yang sering terjadi di tengah cuaca panas saat ini membuat resah masyarakat khususnya kaum emak-emak di Natuna.

Terlebih saat siang hari di kala cuaca terik, kebanyakan orang akan menghidupkan segala jenis alat pendingin ruangan untuk mendapatkan kesegaran.

Pagi ini, people power yang terdiri dari rombongan Sabar, Ayu, Samin dan Ibu Siti sambangi kantor PLN.

Kedatangan mereka tentunya karena PLN mulai bertingkah lagi.

Dimana listrik padam hingga tiga jam menjadi bulan-bulanan warga Natuna setiap harinya.

Sabar, merupakan salah satu tokoh yang cukup fokal di Natuna mengatakan, menjadi beban moral bagi dirinya dan kawan lainnya ketika listrik padam setiap harinya selama berapa pekan terakhir ini.

"Kami datang mau minta keterangan pasti kenapa listrik mati. Kami datang tidak untuk demo, tapi kalau tidak selesai juga permasalahan listrik kami akan demo," kata Sabar bersama rombongan di hadapan Manager ULP PLN Ranai, Boni Sofianto, Rabu (17/5/2023).

Saat di PLN, Sabar juga menanyakan kepada Manager ULP PLN Ranai, Apa penyebab listrik mati? Sabar juga menanyakan, kapan selesai permasalahan listrik mati?

Boni selaku pimpinan di PLN Ranai menjawab permasalahan tersebut, katanya, saat ini dua unit mesin PLN rusak, satu mesin di Pian Tengah rusak mulai dari bulan April lalu dan satu mesin di Ranai juga rusak pada 10 Mei.

"Teknisi Trakindo yang perbaiki mesin dan saat ini proses pengetesan mesin PLN yang rusak di Pian Tengah, dalam waktu dekat akan kembali normal. Untuk mesin di Ranai masih tahap pergantian alat yang rusak, diperkirakan sebulan perkiraan selesai paling lamanya, mudah-mudahan bisa lebih cepat," ujar Boni menjawab pertanyaan masyarakat.

Boni juga menjelaskan bahwa, beban puncak saat gelombang panas yang melanda Indonesia termasuk Natuna kini mencapai 7,2 Mega- 7,4 Mega. Untuk jumlah mesin Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) ada 9 mesin dengan jumlah total kekuatan mencapai 8 Mega.

"Lima mesin di Pian Tengah dan 4 mesin di Ranai," tuturnya.

Lanjut Boni, bila saja tidak ada kerusakan pada mesin, kondisi surplus, yaitu sekitar 600 kilo kWh. Namun kerena kondisi dua unit mesin rusak saat ini menjadi defesit 1,4 Mega.

Untuk itu PLN melakukan pemadaman terencana secara bergilir.

Dijelaskan Boni, untuk dua mesin yang rusak adalah mesin bantuan kemarin, mesin tersebut memang tidak baru, relokasi dari Tembilahan, Riau ke Natuna.

Sementara itu, Ayu yang juga merupakan tokoh wanita yang memimpin demo besar ke PLN pada 2014 silam meminta agar pihak PLN dapat menambah jumlah mesin lagi untuk mengakomodir bila mesin PLN ada yang rusak.
Sehingga masyarakat Natuna tidak menjadi korban pemadaman listrik bergilir.

"Pihak PLN seharusnya ajukan mesin tambahan, sehingga ada kendala mesin tidak seperti ini, lama menunggu pihak teknisi dan barang mesin rusak yang akan diganti," kata Ayu.

Hal ini pun menjadi atensi manager ULP PLN Ranai, Boni.

Pihaknya telah melayangkan surat permohonan untuk penambahan mesin di Natuna.

Untuk itu, Boni juga mengharap peran serta Pemerintah Daerah Natuna untuk mendukung penambahan mesin di Natuna.

Hal senada disampaikan Ita, ia sangat miris dengan pihak PLN, katanya, dengan padamnya listrik, sebagai ibu rumah tangga yang juga ikut mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga menjadi kendala.

Dimana saat usai bekerja, ia harus menyelesaikan kebutuhan rumah tangga.

Namun listrik mati, sehingga untuk menggosok dan mencuci pakaian menggunakan mesin cuci jadi terkendala.

Lebih lanjut, Samin yang merupakan Kepala RW Batu Ampar yang juga salah satu orang kritis di media sosial Natuna tentang kebijakan Pemerintah Natuna menanyakan, apakah ada dampak kehadiran perusahan pasir kuarsa di Buton yang saat ini menggunakan listrik?

Boni menjawab, untuk pasokan listrik tidak menjadi kendala, ia menjelaskan bahwa saat ini pihak PT.IKJ memang sudah menjadi pelanggan ULP PLN Ranai.

"Kebutuhan mereka hanya 30 kilo, tidak menjadi kendala," ungkapnya.

Samin juga memastikan, apakah dulu rencana satu mesin bertenaga 1 Mega jadi disalurkan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan pasir di daerah Teluk Buton?

Hal ini langsung dibantah Boni, bahwsanya, tidak ada mesin yang diarahkan untuk pihak pasir kuarsa, namun Boni juga membenarkan, pihak PT. IKJ memang pernah meminta agar satu unit mesin untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Boni juga menjelaskan, untuk permasalahan listrik, bila mesin PLN di Pian Tengah sudah normal, maka sistem padam bergilir akan berkurang.(TribunBatam.id/Muhammad Ilham)

Sumber: Tribun Batam
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved