Selasa, 28 April 2026

KISRUH REMPANG

Menilik Pesona Rempang Lewat Batu Keramat Datuk Panau di Kampung Pasir Panjang

Pesona Pulau Rempang lokasi investasi yang menjadi sorotan menyimpan hal yang menarik untuk diulas. Batu Keramat Datuk Panau misalnya.

Penulis: Ucik Suwaibah | Editor: Septyan Mulia Rohman
TribunBatam.id/Ucik Suwaibah
Keberadaan Batu Keramat Datuk Panau di Pasir Panjang, Rempang, Kecamatan Galang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). 

BATAM, TRIBUNBATAM.id - Keberadaan batu keramat di Kampun Tua Pasir Panjang, Rempang Cate dianggap sakral oleh warga asli di sana.

Selain keberadaan Makam Tua Lumbuk Lanjut, terdapat batu keramat bernama Keramat Datuk Panau.

Perjalanan menuju batu keramat ini membutuhkan waktu lebih kurang 1 jam 45 menit.

Terlepas dari pembahasan proyek Rempang Eco City, Pulau Rempang memang menyuguhkan pemandangan nan elok dengan hutannya yang masih asri.

Seorang warga setempat, Pandi menjelaskan nama kampung Batin Lawan diambil dari nama sesepuh yang mendirikan kampung tersebut pada awalnya.

Baca juga: Makam Tertua Pulau Rempang Batam itu Bernama Makam Lumbuk Lanjut

Di tempat inilah pertama kali Kampung Tua Pulau Rempang berdiri dengan nama Kampung Batin Lawan.

Tak banyak cerita yang bisa diungkap terkait sosok Batin Lawan sendiri, catatan sejarah tertulis juga tidak tertuang.

Namun keberadaan makam yang dibalut dengan kain berwarna kuning di makam Lumbuk Lanjut sebagai bukti bahwa ia merupakan salah satu tokoh tradisi atau leluhur yang berpengaruh pada jamannya.

Tiba saat Pandi mengajak Tribun Batam ke lokasi Batu Keramat yang dipercaya masyarakat merupakan Batu yang menjadi sejarah Pulau Rempang.

Selain dianggap mistis juga memiliki nilai sakral, masyarakat setempat mempercayai bahwa batu tersebut dulunya hanya berdiameter lebih kurang 40 cm, namun saat ini telah memiliki diameter mencapai 1 meter.

"Kalau nenek yang tinggal disini dahulu bilang batu ini dulunya gak sebesar ini, tapi lama-lama batu ini membesar seperti tumbuh saja," ujar pria 52 tahun itu kepada TribunBatam.id.

Baca juga: Warga Rempang Gelar Aksi Solidaritas Tolak Relokasi dan Bantah Pernyataan Bahlil

Sekilas memang tampak seperti batu biasa, namun yang menjadikan batu tersebut memiliki nilai kesakralan adalah terdapat bendera kuning yang berada tepat di samping batu tersebut.

Tentu dalam bayangan akan terlintas bahwa bendera kuning identik sebagai penanda kematian atau bagi mereka yang sedang berduka.

Tapi jangan salah, tanah Melayu memiliki makna tersendiri untuk melambangkan nilai-nilai penting sebuah warna.

"Makna warna kuning bagi masyarakat Melayu kan melambangkan kebesaran yang biasanya untuk raja-raja Melayu, warna kuning sebagai simbol keluarga raja," imbuh Pandi.

Penggunaan warna kuning begitu spesial bahkan penggunaannya terbatas kepada benda tertentu yang bernilai sakral.

Pada masa penjajahan saat penyebaran islam belum sampai ke pelosok daerah.

Baca juga: Relokasi Warga Rempang Terbaru, BP Batam Gelar Kenduri Akbar

Batu keramat tersebut banyak didatangi masyarakat setempat karena dianggap mampu memberikan keamanan, kesejahteraan, serta dipercaya mampu mengabulkan hajat bagi orang yang memiliki keinginan yang belum terwujud.

Dalam penjelasannya ia juga memberi petuah bagi pendatang yang mendatangi lokasi tersebut, termasuk saat TribunBatam.id mendatangi lokasi itu.

"Tapi perlu diingat, kalau orang macam kite ini nak sentuh batu tanpa permisi dulu ya pasti ada akibatnya. Tapi tak tahu pule nanti sampai rumah demam ke, atau kepala pusing ke," Pandi memberi petuah.

Ia menjelaskan, sebab batu ini merupakan keramat sewajarnya apabila datang ke lokasi baru untuk sekedar memberikan ucapan permisi.

Pandi kemudian melanjutkan, sebab masih adanya kepercayaan animisme waktu itu, saat islam mulai masuk, kepercayaan tersebut lambat laun mulai pudar, tak lagi banyak orang yang mendatangi batu keramat tersebut.

Seiring berjalannya waktu, Islam mulai menyebar ditambah dengan naiknya permukaan air laut, membuat sejumlah rumah waktu itu terendam air.

Masyarakat kemudian perlahan meninggalkan kawasan tersebut dan berpindah ke tempat lain, diantaranya Sembulang, Rempang Cate, Monggak, dan adapula yang bertempat tak jauh dari kawasan ini yang kita kenal dengan kampung Pasir Panjang.

Yang mana mereka secara bertahap mulai menganut agama Islam dan kepercayaan dengan batu keramat tersebut memudar.

Jika dilihat sekitarnya, keberadaan batu keramat juga dikelilingi batu-batu kecil.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, batu tersebut merupakan anak-anak dan cucu dari Batu Keramat yang paling besar.

Kemudian, lokasi yang langsung berhadapan dengan lautan, tentu membuat hawa dingin disekitar Batu Keramat semakin menjadi.

Pohon giam yang tinggi dan berakar sampai ke permukaan juga menandakan pohon tersebut sudah berusia tua.

Kemudian, jejak peninggalan bekas perkampungan saat itu pun juga sudah tak terlihat karena saat ini yang terpampang jelas hanya sebuah hutan yang seperti tak pernah dihuni.

Keberadaan lubang tempat persembunyian sebagai bukti bersejarah era penjajahan juga ditunjukkan, meskipun jejaknya terlihat tak seberapa dalam dan banyak yang sudah tertimbun tanah.

Akses yang dilalui untuk ke batu keramat juga harus menerabas hutan dengan jalan kaki.

Sedikit membuat bingung, apalagi bagi mereka yang pertama kali mendatangi hutan tersebut.

"Boleh saya bilang. Saya kalau berkunjung kesini sendiri saja sedikit khawatir dan tak berani," ucap Pandi.

Seperti tak terawat dan terkesan dibiarkan, Pandi menjelaskan bahwa untuk memetik satu daun saja di kawasan tersebut mereka akui tak memiliki keberanian.

"Bukannya kami tak mau merapikan atau membersihkan. Kami saja untuk memetik daun atau mengambil ranting pohon saja kami tak berani," ungkapnya.

Menghormati peninggalan warisan leluhur dengan cara menjaganya merupakan salah satu cara untuk mengetahui kehidupan saat itu dan menanamkan nilai-nilai luhur yang dianut nenek moyang terdahulu.

Dengan mengetahui sejarah, tentu dapat menjadi patokan untuk bisa menyongsong kehidupan di masa depan menjadi lebih baik.(TribunBatam.id/Ucik Suwaibah)

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved