Selasa, 12 Mei 2026

Konflik Thailand vs Kamboja

Konflik Thailand dan Kamboja Memanas, 9 Warga Sipil Tewas, Warga 86 Desa Mengungsi

Konflik Thailand dan Kamboja memucak setelah sengketa wilayah perbatasan yang lebih dari satu abad. Sedikitnya 9 warga tewas dalam insiden itu.

Tayang: | Diperbarui:
TribunBatam.id via Google Maps
KONFLIK THAILAND DAN KAMBOJA - Tangkap layar wilayah Thailand dan Kamboja dari Google Maps. Otoritas Thailand melaporkan sedikitnya 9 warga tewas dalam serangan militer, Kamis (24/7/2025) waktu setempat. 

 

Konflik Thailand dan Kamboja

  • Jet tempur Thailand serang target militer Kamboja
  • Kamboja Tembakan Artileri ke Pos Penjagaan Perbatasan
  • Thailand mengonfirmasi 9 warga sipil tewas, sedikitnya warga 86 desa terpaksa mengungsi.
  • Duta besar ditarik pulang oleh kedua negara.
  • Kamboja mengajukan gugatan ke ICJ, Thailand tolak yurisdiksi.
  • Blokade ekonomi dan media dua Negara makin masif
  • Sengketa Wilayah Lebih dari Seabad

TRIBUNBATAM.id - Situasi dekat Candi Ta Moan Thom, wilayah sengketa di kawasan timur perbatasan antara Thailand dan Kamboja memanas pada Kamis (24/7/2025) waktu setempat.

Konflik Thailand dan Kamboja ini menewaskan sedikitnya 9 warga sipil dari Negeri Gajah Putih. 

Termasuk melukai beberapa tentara dan memaksa lebih dari puluhan ribu warga sipil dari 86 desa mengungsi dari wilayah perbatasan itu.

Kedua negara yang bertikai ini pun mengklaim jika mereka merespons serangan yang membuat situasi berubah mencekam.

Otoritas Thailand menyebut jika militer Kamboja memulai serangan dengan tembakan artileri ke arah pos penjagaan perbatasan.

Sebaliknya, Kamboja menuduh Thailand menginvasi dengan mengerahkan jet tempur F-16 yang menyerang sejumlah titik strategis di wilayah Provinsi Oddar Meanchey, Kamboja.

Kepala Distrik Kabcheing, Provinsi Surin,  Sutthirot Charoenthanasak mengungkap jika peluru artileri jatuh ke permukiman warga.

Ia mengonfirmasi jika terdapat dua warga yang tewas dalam serangan itu.

“Kami telah mengevakuasi sekitar 40.000 warga dari 86 desa ke lokasi yang lebih aman,” ujarnya.

Sementara Kamboja mengonfirmasi bahwa wilayah Provinsi Oddar Meanchey juga mengalami serangan dari pihak Thailand.

Terutama di sekitar kompleks kuil Ta Moan dan Ta Krabey.

Tarik Duta Besar

Buntut konflik Thailand dan Kamboja yang kian memanas, Thailand telah menarik duta besarnya dari Phnom Penh.

Tidak hanya itu, otoritas Thailand juga mengusir diplomat Kamboja dari Bangkok. 

Kamboja pun melakukan hal yang sama.

Kedua negara juga mulai membalas secara ekonomi. 

Kamboja melarang impor produk pertanian dari Thailand serta memblokir siaran media Thailand

Sementara Thailand mengancam akan memutus pasokan listrik dan koneksi internet ke wilayah perbatasan.

Kamboja secara resmi telah mengajukan permintaan penyelesaian ke Mahkamah Internasional (ICJ) yang dilihat TribunBatam.id.

Namun Thailand menolak yurisdiksi ICJ dan bersikeras penyelesaian harus dilakukan secara bilateral.

Sebagai anggota ASEAN, kedua negara sebenarnya diharapkan menyelesaikan masalah secara damai. 

Namun dengan kian memburuknya hubungan politik dan ekonomi, dan ditambah sentimen nasionalisme yang membesar, penyelesaian cepat tampaknya masih jauh dari harapan. 

Konflik Thailand dan Kamboja Serta Sengketa Wilayah Seabad Lebih

Konflik Thailand dan Kamboja rupanya bukan barang baru.

Sengketa wilayah khususnya terkait sengketa wilayah yang telah berlangsung lama lebih dari satu abad.

Khususnya di area sekitar Kuil Preah Vihear, lokasi bersejarah yang sejak dulu menjadi pusat konflik teritorial kedua negara.

Sengketa antara Thailand dan Kamboja dimulai pada awal abad ke-20, terkait batas wilayah warisan kolonialisme Prancis.

Sejak 1962, Mahkamah Internasional (ICJ) memutuskan bahwa Candi Preah Vihear adalah milik Kamboja, namun wilayah sekitar candi tetap menjadi sumber sengketa hingga kini.

Konflik meletus kembali pada tahun 2008 ketika Kamboja mengajukan status warisan dunia UNESCO untuk Candi Preah Vihear.

Langkah itu memicu ketegangan, yang berkembang menjadi bentrokan senjata dan menyebabkan korban jiwa hingga tahun 2011.

Meski sempat terjadi gencatan senjata dan penarikan pasukan melalui perjanjian bilateral dan mediasi ASEAN, isu perbatasan tidak pernah benar-benar terselesaikan, dan terus menjadi api dalam sekam bagi kedua Negara.

Ketegangan terbaru dimulai sejak 28 Mei 2025, ketika seorang tentara Kamboja tewas dalam baku tembak di wilayah Segitiga Zamrud—titik pertemuan perbatasan Thailand, Laos, dan Kamboja

Kedua negara saling tuduh sebagai pihak pemicu insiden.

Sebulan kemudian, Thailand mengklaim Kamboja kembali menanam ranjau darat di wilayah sengketa, menyebabkan tiga tentaranya terluka.

Kamboja membantah tuduhan itu dan menyebut bahwa ledakan disebabkan oleh sisa-sisa ranjau era perang saudara.

Memuncaknya ketegangan mendorong militer Thailand mengerahkan jet tempur F-16, salah satunya dilaporkan menyerang target militer Kamboja yang diyakini bertanggung jawab atas serangan ke wilayah Thailand.

"Kami telah menggunakan kekuatan udara untuk menyerang target militer sesuai rencana," kata Wakil Juru Bicara Angkatan Darat Thailand, Richa Suksuwanon melansir Tribunnews.com.

Serangan ini langsung dibalas oleh Kamboja. Perdana Menteri Hun Manet menyebut aksi tersebut sebagai bentuk invasi bersenjata.

“Kamboja selalu menjunjung penyelesaian damai atas setiap persoalan. Namun kali ini, kami tak punya pilihan selain merespons dengan kekuatan terhadap invasi bersenjata,” tegas Hun Manet dalam unggahan media sosial.

Wilayah sengketa saat ini sebagian besar berakar dari perbedaan interpretasi terhadap peta perbatasan yang dibuat Prancis saat menjajah Kamboja antara 1863–1953.

Pada 1962, ICJ memberikan Preah Vihear kepada Kamboja

Namun Thailand bersikukuh bahwa wilayah sekitar candi masih belum jelas statusnya.

Konflik ini juga berdampak pada politik dalam negeri Thailand

Ketegangan di perbatasan sering kali dijadikan alat tekanan terhadap pemerintahan sipil oleh militer. 

Ayah PM Paetongtarn, Thaksin Shinawatra, dan bibinya Yingluck, keduanya digulingkan dengan dalih nasionalisme perbatasan yang dimainkan oleh kelompok konservatif.

“Meski keluarga kami bersahabat, bukan berarti kami akan mengorbankan kepentingan negara... Jika seorang teman meminta rumah Anda, tidak mungkin Anda memberikannya,” ujar Paetongtarn soal kedekatannya dengan keluarga Hun Sen. (TribunBatam.id/*) (Tribunnews.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved