PESAWAT JATUH DI BOGOR

Kisah Marsma Fajar sebelum Tewas Kecelakaan Pesawat, Pernah Duel Udara dengan Pesawat Tempur AS

Kisah heroik Marsma Fajar yang lolos setelah dikunci rudal rudal atau missile lock pesawat F/A-18 Hornet Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy).

Editor: Khistian Tauqid
kolase Instagram fajar_f16
PESAWAT LATIH JATUH - Sosok pilot pesawat latih yang jatuh di Ciampea, Kabupaten Bogor, Marsekal Pertama TNI Fajar Adriyanto. Postingan terakhirnya jadi sorotan. 

Sementara, satu F-16 lainnya, Falcon 2 TS-1602 dikendalikan Kapten Tonny/Kapten Satriyo.

Pada pukul 17.25, Falcon 1 terlbat manuver jarak dekat dengan dua F-18 Hornet. Kedua pesawat US Navy itu mengambil posisi menyerang dan membuat F-16 yang ditumpangi Marsma Fajar terancam. 

Sementara itu, Falcon 2 memposisikan sebagai support fighter. 

Falcon 1 kemudian melihat, kapal fregat US Navy tengah bergerak ke timur. 

Falcon 2 lalu melakukan rocking the wing sebagai pernyataan bahwa Falcon 1 tidak mengancam. Falcon 1 kemudian menjalin kontak suara dengan F-19 Hornet di UHF 243.0. 

Pesawat asing itu lalu mengabarkan bahwa mereka berasal dari satuan US Navy yang terdiri dari beberapa kapal perang. Para penerbang dari Paman Sam itu mengeklaim telah mengantongi izin lintas. 

Falcon 1 pun menyatakan pihaknya sedang berpatroli dan datang hanya untuk identifikasi. Setelah itu, F-18 Hornet menjauh dan tidak lagi mengancam. 

F-18 Tak Belum Jalin Kontak Kepala Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) saat itu, Marsekal Muda Wresniwiro menyebut, lima pesawat F-18 Hornet itu belum melakukan kontak. Mereka terbang dari kapal induk US Navy yang berkonvoi dengan beberapa kapal perang di wilayah Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). 

Pemberitahuan atau kontak saat itu hanya dilakukan untuk kapal laut, bukan pesawat tempur. 

Buntut peristiwa ini, pemerintah Indonesia menyampaikan protes keras kepada Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. 

Pemerintah keberatan pesawat tempur AS bermanuver di atas laut Indonesia. 

"Kita ini tidak selemah yang mereka (AS) duga. Kita memang tidak ingin membuat hubungan kedua negara menjadi buruk, tetapi kita juga tidak ingin mereka tidak mengakui kedaulatan kita," ujar Menteri Kehakiman dan HAM (Menkeh dan HAM) Yusril Ihza Mahendra dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (8/7/2003), dikutip dari Harian Kompas edisi 9 Juli 2003.

Baca juga: Kesaksian Mencekam Warga Lihat Pesawat Jatuh di Bogor, Marsma Fajar Adrianto Meninggal

Sosok Marsma Fajar

Marsma TNI (Purn) Fajar Adrianto merupakan perwira tinggi TNI AU yang lahir pada 20 Juni 1970. 

Ia merupakan lulusan Akademi Angkatan Udara tahun 1992 dan dikenal sebagai penerbang pesawat tempur F-16 Fighting Falcon dengan callsign "Red Wolf". 

Fajar merupakan alumnus SMA Negeri 1 Malang angkatan 1989, dan memiliki rekam jejak panjang di TNI AU. 

Ia pernah menjabat sebagai Komandan Skadron Udara 3 Lanud Iswahyudi (2007–2010), Komandan Lanud Manuhua Biak (2017–2019), dan menjabat sebagai Kepala Dinas Penerangan TNI AU dari Mei 2019 hingga November 2020.

Terakhir, ia dipercaya menjabat sebagai Kapoksahli Kodiklatau sejak Desember 2024. 

Fajar juga dikenal sebagai pelaku sejarah dalam insiden udara antara F-16 TNI AU dan pesawat F/A-18 Hornet milik Angkatan Udara Amerika Serikat di wilayah udara Pulau Bawean pada tahun 2003. 

Atas dedikasinya, ia menerima berbagai penghargaan, termasuk Sertifikat dan Brevet "Tanggap Tangkas Tangguh" dari BNPB, serta penghargaan tesis terbaik dari Universitas Pertahanan Indonesia.

(TribunBatam.id)

Baca juga Berita TribunBatam.id lainnya di Google News

Artikel ini telah tayang di TribunJakarta.com dengan judul "Momen Menegangkan Manuver F-16 Marsma Fajar Adriyanto Lolos Usai Dikunci Jet Tempur AS di Bawean"

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved