Selasa, 19 Mei 2026

LIMBAH DI BINTAN

Nelayan Bintan Kritik Lambatnya Pemerintah Tangani Persoalan Minyak Hitam di Laut

Sudah hampir sepekan minyak hitam di pantai Bintan belum ditangani dengan baik. Sejumlah nelayan kritik lambatnya kerja Pemkab dan Pemprov Kepri

Tayang:
Penulis: ronnye lodo laleng | Editor: Dewi Haryati
TribunBatam.id/Ronnye Lodo Laleng
MINYAK HITAM - Ratusan karung berisi minyak hitam tersebar di pesisir pantai Pulau Pucung, Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau (Kepri) Senin (2/2/2026). Nelayan kritik kerja pemerintah tangani persoalan minyak hitam di laut yang sudah berulang kali terjadi 
Ringkasan Berita:
  • Nelayan dan warga di Desa Malang Rapat, Bintan, mengeluhkan lambannya penanganan pencemaran minyak hitam di laut yang telah berlangsung hampir sepekan
  • Minyak hitam dalam ratusan karung yang pecah mencemari pesisir hingga Pantai Trikora, mengganggu aktivitas melaut nelayan dan membuat wisatawan membatalkan rencana berenang
  • Pelaku usaha pariwisata menilai pencemaran ini berdampak besar terhadap ekonomi dan citra Bintan sebagai destinasi wisata, serta mendesak penanganan yang cepat dan serius

 

BINTAN, TRIBUNBATAM.id - Sejumlah nelayan di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mengeluhkan lambatnya Pemerintah Kabupaten Bintan dan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menangani persoalan pencemaran minyak hitam di laut.

Pasalnya sudah hampir sepekan, minyak hitam ini belum juga ditangani dengan baik.

"Lamban penanganannya. Saya pikir hari ini petugas sudah turun ke lapangan untuk membersihkan minyak hitam, nyatanya belum. Mereka masih rapat-rapat saja," kata nelayan Malang Rapat, yang enggan menyebutkan namanya, Senin (2/2/2026).

Ia menilai, harusnya koordinasi antar Instansi cepat dilakukan, dengan menurunkan personel untuk membersihkan minyak hitam.

"Jangan sampai minyak hitam itu membawa dampak lebih luas lagi ke nelayan," ujarnya.

Hal serupa disampaikan warga Malang Rapat, Hairuddin.

Ia mengatakan, keberadaan minyak hitam dalam karung ini ditemukan sejak 3 hari lalu.

"Awalnya sedikit. Hari ini makin banyak," tuturnya.

Munculnya minyak hitam ini membuat nelayan susah untuk melaut. Sebab ketika jaring terkena minyak hitam, akan susah untuk dibersihkan.

Apalagi saat ini minyak hitam dalam karung sudah banyak yang pecah.

Bau yang menyengat juga menjadi keluhan warga setempat.

"Kawan-kawan nelayan dari Berakit dan Teluk Bakau juga mengeluhkan hal yang sama," kata Hairuddin.

Ia mengatakan, hari ini petugas dari DLHK Kepri, Dinas Perikanan dan Kecamatan Gunung Kijang sudah turun ke lokasi. Namun minyak hitam itu belum juga dibersihkan.

"Itu minyak masih menumpuk di pesisir pantai," kata Hairuddin sembari menunjuk ke arah laut.

Peristiwa seperti ini sudah berulang kali terjadi. Hanya berbeda di volumenya.

Ia pun bingung minyak hitam ini datang dari mana. Hairuddin berharap, pemerintah segera membersihkan minyak hitam ini.

"Pemerintah bisa koordinasi agar bisa mencegah peristiwa semacam ini terulang kembali. Perketat pengawasan di laut," harapnya. 

Pengunjung Batal Berenang di Pantai

Sebelumnya diberitakan, karung berisi minyak hitam berserakan di pesisir pantai Pulau Pucung, Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau (Kepri).

Jumlahnya cukup banyak mencapai ratusan karung, dan tersebar hingga ke Pantai Trikora 4 Bintan.

Temuan ini membuat sejumlah wisatawan di Pantai Trikora resah.

Mereka risih dan membatalkan rencana berenang di pantai tersebut.

"Awalnya saya mau berenang, lihat karung berisik minyak hitam berserakan, saya jadi geli mau berenang," kata Nopi, Minggu (1/2/2026).

Ia mengatakan, minyak hitam itu masih berada di dalam karung. Tidak hanya di atas pasir, ada beberapa karung yang tergenang di laut.

"Saya sempat melihat minyak hitam itu tergenang di laut," katanya.

Sebelumnya, minyak hitam juga mencemari pantai Mutiara Beach Resort.

Jumlahnya lebih banyak, dan kental hingga mengeluarkan aroma tajam.

Pemilik Mutiara Beach Resort, Marc Thalmann, mengatakan laut merupakan aset utama pariwisata Bintan.

Selain mendukung industri pariwisata, laut juga menjadi sumber penghidupan bagi nelayan yang bergantung pada hasil laut.

“Laut adalah aset penting, bukan hanya untuk pariwisata tetapi juga bagi nelayan dan masyarakat yang menggantungkan hidup dari laut,” ungkap Marc.

Menurutnya, wisata alam memiliki peran vital dalam menarik kunjungan wisatawan ke Bintan.

Sehingga, kejadian pencemaran laut seperti limbah minyak akan memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap perkembangan pariwisata.

“Kejadian seperti ini membuat saya sangat sedih, karena dampaknya besar bagi kita semua," bebernya.

Dampak pencemaran limbah minyak tidak hanya dirasakan oleh pengusaha pariwisata, melainkan juga masyarakat secara luas, termasuk karyawan resort, pemasok, kontraktor, hingga pemerintah dari sisi penerimaan pajak.

“Kalau terjadi musibah seperti ini, semua pihak terdampak. Bukan hanya pelaku usaha, tetapi juga masyarakat dan pemerintah,” katanya.

Selain berdampak ekonomi, pencemaran limbah minyak juga dikhawatirkan merusak citra Bintan sebagai destinasi wisata yang bersih, aman, dan nyaman bagi wisatawan.

Masalahnya bukan hanya terlihat secara fisik, tetapi bau limbah yang menyengat dan membuat wisatawan tidak nyaman.

Jangan sampai menimbulkan persepsi negatif terhadap Bintan.

Ia berharap penanganan pencemaran limbah minyak dilakukan secara serius dan cepat, mengingat sektor pariwisata merupakan salah satu penyumbang utama pendapatan daerah.

Marc juga mengajak seluruh pihak terkait untuk bekerja sama mencari solusi agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang.

“Mudah-mudahan dengan kerja sama semua pihak, ada solusi yang tepat dan musibah seperti ini tidak terjadi lagi,” ujarnya.

Pelaku usaha pariwisata di Bintan berharap permasalahan limbah minyak yang mencemari sejumlah pantai dapat segera ditangani secara cepat dan serius.

Pencemaran tersebut dinilai berpotensi merusak sektor pariwisata yang selama ini menjadi andalan perekonomian daerah.

Jadi Atensi DLHK Kepri

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Kepri, Hendri menyampaikan akan serius menangani fenomena ini.

Tumpahan minyak hitam sering terjadi pada musim utara, seperti di perairan Nongsa, Batam dan Trikora, Bintan, hingga Lagoi Bintan

Tumpahan minyak terjadi di tengah laut, namun dibawa arus sampai ke pesisir pantai.

"Upaya yang sudah kami lakukan selama ini, DLHK bersama warga membersihkan (minyak hitam) dan mengumpulkan, kemudian dimusnahkan dengan anggaran dari Kementerian Lingkungan Hidup," kata Hendri.

Ke depan, pihaknya akan berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait untuk menuntaskan persoalan minyak hitam di Kepri.

(TRIBUNBATAM.id/ Ronnye Lodo Laleng)

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved