Wahyu Wahyudin Dorong Percepatan Ekonomi Nelayan Karimun, Usulkan 3 Program Prioritas
Sekretaris Komisi II DPRD Provinsi Kepulauan Riau, Wahyu Wahyudin mengusulkan percepatan peningkatan ekonomi nelayan di Kabupaten Karimun
Penulis: Renhard Patrecia Sibagariang | Editor: Mairi Nandarson
Ringkasan Berita:
- Sekretaris Komisi II DPRD Kepulauan Riau, Wahyu Wahyudin, mengusulkan langkah percepatan peningkatan ekonomi nelayan di Kabupaten Karimun
- Wahyu menyoroti besarnya potensi sektor maritim yang dimiliki Kabupaten Karimun. Wilayah tersebut berada di jalur pelayaran internasional Selat Malaka serta berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia
TRIBUNBATAM.id, BATAM - Sekretaris Komisi II DPRD Kepulauan Riau, Wahyu Wahyudin, mengusulkan langkah percepatan peningkatan ekonomi nelayan di Kabupaten Karimun melalui sejumlah investasi strategis yang dinilai mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat pesisir.
Gagasan tersebut disampaikan Wahyu dalam lokakarya akademik yang diselenggarakan Fraksi PKS MPR RI bersama DPW PKS Kepri di Hotel Aston Batam pada Sabtu (13/6/2026).
Dalam kesempatan itu, ia menyoroti besarnya potensi sektor maritim yang dimiliki Kabupaten Karimun. Wilayah tersebut berada di jalur pelayaran internasional Selat Malaka serta berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia, sehingga memiliki peluang besar untuk mengembangkan ekonomi berbasis kelautan dan perikanan.
Menurut Wahyu, saat ini masyarakat Karimun telah memiliki sedikitnya 200 kapal nelayan berkapasitas di atas 30 GT. Dengan asumsi setiap kapal mampu menghasilkan 50 ton ikan dalam satu perjalanan melaut dan melakukan empat trip per tahun, total produksi dari kapal-kapal besar tersebut diperkirakan mencapai 40.000 ton ikan setiap tahun.
"Potensi maritimnya luar biasa. Saat ini saja, masyarakat Karimun sudah memiliki sedikitnya 200 unit kapal nelayan dengan kapasitas di atas 30 GT," katanya.
Jumlah tersebut belum termasuk kontribusi ribuan nelayan tradisional yang menggunakan kapal berukuran 2 hingga 29 GT. Jika digabungkan, potensi tambahan hasil tangkapan diperkirakan mencapai sekitar 10.000 ton per tahun, sehingga total produksi perikanan Karimun bisa menembus angka 50.000 ton setiap tahun.
"Itu baru dari kapal besar. Jika ditambah sumbangsih ribuan nelayan kecil dengan kapal ukuran 2 hingga 29 GT, potensinya bertambah lagi sekitar 10.000 ton. Totalnya bisa tembus 50.000 ton per tahun," ujarnya.
Melihat besarnya potensi tersebut, Wahyu menilai investasi maritim di Karimun perlu diarahkan pada sektor-sektor yang realistis dan mampu memberikan manfaat ekonomi dalam waktu relatif singkat, yakni satu hingga dua tahun ke depan.
Dari enam opsi pengembangan yang dipaparkannya, ia menyoroti tiga program investasi prioritas yang dinilai paling cepat memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan masyarakat.
Program pertama adalah pembangunan Sentra Perikanan Terpadu yang dilengkapi fasilitas cold storage, pabrik es, dan tempat pelelangan ikan modern. Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut penting untuk menjaga kualitas hasil tangkapan, menstabilkan harga ikan, serta mengurangi kerugian pasca-panen yang selama ini dialami nelayan.
"Fasilitas ini krusial agar harga ikan hasil tangkapan nelayan lokal tetap stabil dan menekan angka kerugian pasca-panen," ujarnya.
Prioritas kedua adalah pengembangan sektor budidaya laut atau mariculture untuk komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti kerapu, kakap, lobster, dan rumput laut. Wahyu menilai sektor ini memiliki masa panen relatif cepat, antara enam hingga 18 bulan, dengan kebutuhan modal yang lebih kecil dibandingkan pembangunan infrastruktur pelabuhan berskala besar.
Selain berpotensi menyerap tenaga kerja di kawasan pesisir, hasil budidaya laut juga memiliki peluang ekspor yang besar ke pasar negara tetangga, khususnya Singapura.
"Modal budidaya ini relatif lebih kecil daripada membangun pelabuhan besar, tapi cepat menyerap tenaga kerja pesisir dan punya potensi ekspor tinggi langsung ke Singapura," kata Wahyu.
Adapun program ketiga yang diusulkan adalah pengembangan wisata bahari berbasis masyarakat. Potensi pantai, pulau-pulau kecil, serta aktivitas memancing dinilai dapat menjadi daya tarik wisata yang mampu menggerakkan sektor UMKM, kuliner, hingga usaha homestay milik warga setempat.
Wahyu menegaskan bahwa kombinasi pengembangan industri perikanan modern, budidaya laut, dan logistik hasil laut untuk ekspor merupakan pilihan yang lebih efektif dibandingkan investasi besar seperti pembangunan pelabuhan peti kemas.
| DPRD Kepri Soroti Penangkapan Nelayan di Perbatasan Malaysia, Desak Perlindungan Diperkuat |
|
|---|
| Wahyu Wahyudin Dorong Revisi MoU Indonesia-Malaysia untuk Perlindungan Nelayan Perbatasan |
|
|---|
| Satpolairud Polres Karimun Bagikan Life Jacket ke Nelayan, Tekankan Pentingnya Keselamatan Berlayar |
|
|---|
| Nelayan Karimun 4 Hari Terombang-Ambing Hingga Malaysia, Iskandi Berjuang Antara Hidup dan Mati |
|
|---|
| Pulau Akar Batam Diisukan Masuk Rencana Induk Pariwisata, Ini Tanggapan Anggota DPRD Kepri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/Sekretaris-Komisi-II-DPRD-Provinsi-Kepulauan-Riau-Wahyu-Wahyudin.jpg)