Sabtu, 11 April 2026

KECELAKAAN MAUT DI JALAN TRANS BARELANG

Kesaksian Pilu Ayah Korban Kecelakaan Maut di Barelang: Dia Minta Dicium Sebelum pergi

Tribun Batam menemui Alwani, ayah Safaraz, mendengar langsung kesaksian duka yang belum sempat ia selesaikan dengan tangis, Senin (6/4) siang. 

|
Penulis: Beres Lumbantobing | Editor: Eko Setiawan
Tribun Batam/Ucik Suwaibah
TKP Lakalantas yang menewaskan 3 pelajar SMP di Jalan Trans Barelang, Kawasan Bukit Bismillah, Sijantung, Galang, Kota Batam, Senin (6/4/2026) 

Tribunbatam.id, Batam - Minggu pagi, 5 April menjadi hari yang suram bagi keluarga Alwani. Bak petir di siang bolong, keluarga ini menerima informasi insiden buruk tentang anaknya. 

Anak bungsunya bernama Safaraz Akma, siswa kelas 9B SMPIT Insan Harapan Tembesi Sagulung dilaporkan terlibat lakalantas saat pergimemancing bersama dua sahabatnya Rino Arif Bakhtiar (kelas 8B) dan Ruhalzan Syakir (kelas 9B). Kecelakaan lalu lintas di Jalan Trans Barelang merenggut nyawa ketiga remaja itu sekaligus. 

Tribun Batam menemui Alwani, ayah Safaraz, untuk mendengar langsung kesaksian duka di rumahnya, Senin (6/4) siang. 

Siang itu, rumah almarhum tampak hening. Warga, kerabat hingga keluarga jauh masih terus berdatangan, menyampaikan ucapan duka atas kepergian almarhum. 

Di depan rumah, masih berdiri tegak tiang terpal hijau, kursi berjejer memenuhi teras rumah. Deretan papan bunga ucapan dukacita  terpampang di komplek. 

Kepergian Aras masih meninggalkan luka mendalam bagi keluarga. 

Berikut wawancra Tribun dengan ayah korban:

Tribun : Safaraz dikenal sebagai anak yang gemar memancing. Apakah Anda tahu betul soal hobinya itu? 

Alwani : Iya, betul. Safaraz memang betul-betul mancing. Hampir setiap hari dia ribut minta pergi mancing,maksudnya antusias, bukan ribut yang negatif. Jujur saya katakan, saya membolehkan karena saya pikir itu masih jauh lebih baik dibanding anak-anak lain yang mungkin sudah bergeser ke hal yang negatif.

Orang tua almarhum Safaraz, Alwani  bercerita tentang sang anak sebelum meninggal
Orang tua almarhum Safaraz, Alwani  bercerita tentang sang anak sebelum meninggal (Tribun Batam/Beres Lumbantobing)


Saya dapat dukungan dari kawan-kawan senior juga. Mereka bilang, hobi itu positif. Jadi saya tidak mempersempit ruangnya. Cuma saya selalu pesan, mancing jangan jauh-jauh, jangan sampai ngumpul di tempat yang tidak jelas.

Tribun : Hasil pancingannya diapakan?

Alwani : Ikan yang didapat kadang dijual, kadang dibawa pulang. Tapi lucu juga di rumah kami sendiri yang makan ikan justru saya. Istri saya orang Melayu Galang, tapi tidak makan ikan. Anak saya yang hobi mancing pun tidak mau makan ikannya (tertawa kecil). Anak-anak zaman sekarang, maunya sosis.

Jadi ikan hasil pancingannya, kalau tidak habis dimakan, ya saya yang urus. Kadang saya jual sedikit ke tetangga. Tapi buat anak saya, itu bukan soal uang dia memang suka prosesnya. Mancing itu hiburan dia.

Tribun : Bagaimana kejadian hari itu bermula?

Alwani : Malam Minggunya, dia masih main sama kawan di sebelah rumah. Jam 11 malam balik, buka baju, main HP sebentar, terus bilang "Besok saya mancing." Ya sudah, saya jawab iya saja.
Habis subuh, dia pamit. Biasanya yang ngurusin anak itu ibunya. Mamaknya waktu itu sedang sibuk mencuci — kebetulan air di rumah kami sedang mati, jadi nyuci di tempat kawan. Rupanya Safaraz sudah ditelpon kawannya, sudah janjian memang.
Sebelum pergi, dia tinggalkan HP-nya di rumah. Lalu dia pamit sama mamaknya 'minta cium'. Itu yang sampai sekarang tidak bisa saya lupakan.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved