Jumat, 12 Juni 2026

HARGA BBM NAIK

Apindo Batam Khawatir Kenaikan BBM Non Subsidi Picu Inflasi, Minta Pasokan Pertalite Dijaga

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi dinilai berpotensi mendorong kenaikan inflasi di Batam. 

Tayang:
Penulis: Ucik Suwaibah | Editor: Eko Setiawan
Tribunnews.com/Ucik Suwaibah
Ketua Apindo Batam, Rafki Rasyid saat ditemui di kegiatan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2025 di Batam 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi dinilai berpotensi mendorong kenaikan inflasi di Batam. 

Selain berdampak pada biaya logistik dan transportasi, pelaku usaha juga mengkhawatirkan kenaikan harga kebutuhan pokok yang sebagian besar masih didatangkan dari luar daerah.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, mengatakan kenaikan harga BBM non subsidi memang sulit dihindari karena mengikuti perkembangan harga energi global. 

Namun demikian, kebijakan tersebut diperkirakan akan memberikan efek berantai terhadap berbagai sektor usaha.

Diketahui, Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga jual BBM non subsidi untuk produk Pertamax RON 92 di wilayah Free Trade Zone (FTZ) Batam dari Rp 11.750 per liter menjadi Rp 15.500 per liter yang berlaku mulai 10 Juni 2026. 

Kenaikan tersebut memicu kekhawatiran akan meningkatnya biaya transportasi dan distribusi barang.

"Yang kita khawatirkan ini kenaikan harga BBM non subsidi akan memicu inflasi. Harga kebutuhan pokok bisa ikut naik karena sebagian besar barang kebutuhan masyarakat Batam didatangkan dari berbagai daerah dan membutuhkan biaya transportasi," kata Rafki, Kamis (11/6/2026) petang.

Menurutnya, dunia usaha sebelumnya juga telah menghadapi kenaikan biaya logistik akibat penyesuaian harga solar non subsidi. 

Kondisi tersebut menyebabkan adanya tambahan biaya pengiriman, termasuk untuk distribusi kontainer dari Batam ke berbagai daerah maupun ke luar negeri.

Dengan naiknya harga Pertamax, Rafki menilai beban operasional perusahaan akan kembali bertambah, terutama untuk kendaraan operasional yang digunakan dalam kegiatan usaha sehari-hari.

"Kalau untuk produksi mungkin tidak terlalu berpengaruh, tetapi untuk biaya transportasi dan logistik tentu ada tambahan beban," tambahnya.

Rafki menjelaskan, kenaikan biaya transportasi berpotensi diteruskan ke harga barang dan jasa yang diterima konsumen. 

Akibatnya, tekanan inflasi dapat semakin terasa di tengah masyarakat.

Menurut dia, dampak yang paling dikhawatirkan adalah berkurangnya kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari apabila harga kebutuhan pokok ikut mengalami kenaikan.

"Ketika inflasi naik, beban pekerja juga meningkat. Kita khawatir upah yang diterima menjadi tidak cukup apabila harga-harga kebutuhan pokok ikut naik," katanya.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved