Kamis, 9 April 2026

Preman Kampung Mengamuk Minta Setoran, Dadang Tewas di Hari Pernikahan Anak

Dadang meninggal dunia tepat di hari pernikahan anaknya di Kampung Cikumpay PTPN, Desa Kertamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta

Tribunnews.com/TRibun Jabar/Jaenal Abidin
HAJATAN BERDARAH - Ilustrasi Jenazah - Dadang (58) tewas dianiaya sekelompok pria saat gelar pesta pernikahan anaknya di Campaka, Purwakarta. Diduga dipicu penolakan uang jatah miras. 

Ringkasan Berita:
  • Pesta pernikahan berubah mencekam
  • Dadang tewas dikeroyok preman kampung
  • Preman minta jatah setoran

 

TRIBUNBATAM.id - Pesta pernikahan mencekam. Jerit tangis keras terdengar saat Dadang (58) roboh terkena pukulan benda keras.

Dadang meninggal dunia tepat di hari pernikahan anaknya di Kampung Cikumpay PTPN, Desa Kertamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu (4/4/2026).

Suasana tidak terkendali ketika 10 orang preman kampung mengamuk.

Mereka meminta jatah setoran ke Dadang yang merupakan tuan rumah hajatan.

Permintaan uang yang diduga sebagai “jatah” itu berujung keributan setelah tidak dipenuhi sesuai keinginan pelaku. Suasana pesta pernikahan yang semula penuh kebahagiaan mendadak berubah mencekam.

Di tengah kekacauan, Dadang yang tengah mengurus jalannya acara justru menjadi sasaran amukan. 

Ia diduga dianiaya secara brutal menggunakan benda keras hingga tak sadarkan diri di lokasi kejadian.

Jeritan histeris keluarga dan tamu undangan pecah. Sejumlah warga berusaha memberikan pertolongan, sementara lainnya berlarian menyelamatkan diri dari situasi yang semakin tak terkendali.

Dalam rekaman video yang beredar, terlihat kepanikan di lokasi hajatan. Korban tampak tergeletak tak berdaya di tengah kerumunan. Istri korban, Juju, bahkan pingsan saat melihat kondisi suaminya.

"Awalnya cuma minta uang, sekali dikasih, mereka minta lagi sampai Rp500 ribu." 

Menurut Asep, sekelompok pria yang diduga berjumlah sekitar 10 orang datang ke lokasi hajatan dan meminta uang kepada pihak keluarga.

"Pertama dikasih, terus minta lagi. Katanya Rp500 ribu. Kejadiannya terus begitu (pemukulan)," ujar Asep kepada wartawan di Mapolres Purwakarta, Sabtu (4/4/2026) malam.

Ia mengaku tidak mengenal para pelaku karena dirinya tinggal di Karawang, sementara sang kakak menetap di Purwakarta.

Namun, dari informasi yang ia terima, jumlah pelaku cukup banyak dan sempat membuat situasi tak terkendali.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved