Bintan Terkini

Pelangsir Solar di Bintan Dapat Untung Rp 50 Ribu Per Jeriken. Begini Modus yang Dilakukan

Tertangkapnya 6 warga Kijang, Bintan Timur atas dugaan penyelewengan solar subsidi di SPBU Km 25 Kijang, Senin (19/11/2018) lalu

Pelangsir Solar di Bintan Dapat Untung Rp 50 Ribu Per Jeriken. Begini Modus yang Dilakukan
Tribunbatam.id/Aminudin
Polisi menunjukkan mobil yang digunakan pelangsir solar untuk membeli solar di SPBU di Kabupaten Bintan. 

TRIBUNBINTAN.COM, BINTAN - Tertangkapnya 6 warga Kijang, Bintan Timur atas dugaan penyelewengan solar subsidi di SPBU Km 25 Kijang, Senin (19/11/2018) lalu melegakan sejumlah pihak terutama pemilik kendaraan berbahan bakar solar.

Aksi penyalahgunaan solar subsidi tersebut memang sudah lama disorot. Pasalnya mengganggu distribusi solar ke masyarakat. "Ya, kita legalah. Karena kayak saya pernah terpaksa pulang kosong karena saat ke SPBU solar kosong,"kata Ram, salah satu warga di Kijang.

Baca: Enam Mobil Pelangsir Diamankan Satreskrim Polres Bintan di SPBU Kijang, 14 Jiriken Jadi Barang Bukti

Baca: Penahanan Tersangka Pelangsir Solar di Tanjungpinang Ditangguhkan, Ini Alasan Polisi

Baca: Pelangsir Solar di SPBU Tanjungpinang Ditetapkan Tersangka. Begini Modus yang Dipakai

Muncul pertanyaan, kemana para pelangsir membawa solar subsidi hasil langsiran mereka dari SPBU? Apakah dipakai sendiri? Apakah untuk dijual lagi

Kasatreskrim Polres Bintan AKP Yudha Suryawardana mengatakan, sejauh pemeriksaan yang sudah mereka lakukan terhadap para pelangsir, solar solar tersebut rupanya dijual ke para nelayan.

"Disalurkan langsung ke nelayan. Kalau tak salah, per jeriken dijual dengan harga jual kurang lebih Rp 200 ribu sampai Rp 220 ribu,"kata Yudha.

Per jiriken yang dijual pelaku mendapatkan keuntungan Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu.

"Kalau menurut pengakuan terperiksa begitu. Ingat ya, mereka ini masih berstatus terperiksa ya (pelangsir),"kata Yudha sambil menekankan status para pelaku yang mereka amankan masih sebagai terperiksa, belum tersangka.

Para terperiksa tersebut kata Yudha dalam sehari bisa mengisi dua hingga tiga jiriken solar subsidi ke SPBU. Semua solar yang mereka dapatkan langsung didrop ke nelayan yang memesan. Solar tidak menggunakan sistem perantara, tapi langsung ke pemesan.

"Jadi pola kerjanya begini, mereka ini mengisi berulang ulang minyak di tangki mobil mereka. Dari tangki, solar dipindahkan ke jiriken. Setelah jiriken penuh, nanti akan ada nelayan yang mengontak menanyakan stok. Bang minyaknya ada tak, kalau ada bisa dibawakan,"kata Yudha.

Pola lain, pelaku akan mengisi solar bila ada pesanan masuk. Jika pesanan belum masuk, maka mereka belum ngantri ke SPBU. Model pelangsiran ini sebetulnya masih kategori sederhana. Mereka belum sampai menggunakan gudang khusus untuk menimbun solar langsiran. Masih menggunakan sistem tumpuk.

"Kan begini modelnya, ketika nelayan membeli, stok solarnya ada yang tidak sampai habis. Nah yang tidak habis ini ditumpuk, dua hingga tiga jiriken,"kata Yudha.

Lantas, bagaimana posisi pihak SPBU dalam kasus ini. Apakah terindikasi bermain juga dengan para pelangsir?

"Sampai sejauh ini, apakah ada permainan dengan pihak SPBU tentu masih perlu pendalaman. Tapi sampai sejauh ini, pola pengisian para pelaku ini kan normal sebagaimana umumnya"kata Yudha.

Petugas SPBU sendiri sudah diperiksa. Yang diperiksa adalah operator dan pegawai SPBU. (*)

Penulis: Aminnudin
Editor: Ucu Rahman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved