KALEIDOSKOP KEPRI 2015

Diduga Hidup 'Bebas' Enam Pasangan Mahasiswa Digerebek Satpol PP

Pada saat pemergokan terjadi, pasangan-pasangan tersebut tengah tertidur pulas.

1. Bantah 'Tidur' Berpasangan

Ilustrasi penggerebekan pasangan bukan suami istri

Para mahasiswa yang digerebek warga dan Satpol PP Tanjungpinang di rumah kos Gang Satria, Jalan Pemuda, Tanjung Ayun Sakti, Tanjungpinang, Sabtu (11/4/2015) lalu, mengaku tidak pernah melakukan perbuatan tidak senonoh di tempat tersebut.

Para mahasiswa yang umumnya berasal dari Anambas itu membantah tuduhan warga yang menyatakan bahwa mereka tidur berpasangan saat digerebek.

Pada saat itu, mereka tidur di kamar masing-masing, bukan berpasang-pasangan.

Seorang mahasiswa bernama Tomi mewakili kawan-kawannya mengatakan, peristiwa itu membuat mereka syok karena para mahasiswa yang tinggal di tempat kos itu tidak pernah melakukan hal-hal yang dituduhkan.

Tomi mengakui, pemilik kos memang tidak memisahkan peruntukan kamar tersebut, antara laki-laki dan perempuan.

Namun, dirinya menjamin bahwa mahasiswa Anambas tidak pernah melaklukan perbuatan amoral di tempat kos tersebut.

Sebab, ia pernah tinggal di tempat kos yang digerebek itu dan dia tahu bagaimana mereka tinggal di situ.

"Penghuni rumah kos tersebut, ada yang pria dan ada juga yang wanita. Tapi mereka memiliki kamar masing-masing. Kami seperti saudara karena kami sama-sama kuliah di Tanjungpinang ini. Kami akrab dan sering makan bersama-sama. Tapi kami selalu menjaga pergaulan kami dengan baik" ungkap Tomi.

Menurut Tomi, semua informasi yang diberikan oleh warga dan Ketua RT/RW setempat tidak benar. Karena itu, dirinya kemudian angkat bicara untuk meluruskan apa yang disangkakan kepada mereka.

Tomi sendiri masuk daftar nama yang dipegang oleh Ketua RT sebagai penghuni rumah kos tersebut. Padahal, dia sendiri sudah tidak tinggal di rumah tersebut sejak tiga bulan lalu.

"Memang di rumah kos itu dulu pernah ada pasangan yang ditegur. Tetapi mereka kemudian keluar dari tempat kos tersebut. Saya tahu semua karena saya pernah tinggal di situ," kata Tomi.

Tomi menyampaikan hal itu kepada Bintan News, Senin (13/4) kemarin karena kasihan terhadap kawan-kawannya yang syok oleh penggerebekan tersebut.

Ia meminta kepada Satpol PP untuk menjelaskan, apa benar para mahasiswa yang ditangkap itu sedang tidur berpasang-pasangan.

"Saat Satpol PP datang, penghuni kos itu tidak tidur berpasangan dalam kamar. Mereka sedang tidur di kamar masing-masing. Mereka tidak tahu apa-apa, langsung disuruh naik ke mobil patroli," kata Tomi lagi.

Tomi juga membantah pernyataan Ketua RT 01 Suwarni tentang penemuan plastik kondom bekas di sekitar halaman kos.

Mahasiswa tersebut memastikan bahwa apa yang dituturkan oleh Ketua RT itu fitnah. Bahkan dirinya menantang Suwarni untuk membuktikan.

"Tidak pernah ada plastik kondom bekas ditemukan di situ. Apalagi ada anak kecil yang meniup plastik kondom seperti balon. Itu karangan dia saja," tambah Tomi lagi.

Ketua Himpinan Mahasiswa Kabupaten Kepulauan Anambas (Himka) La Ode Agus Prianto mengatakan, setelah peristiwa penggerebekan itu, dirinya juga sedah menemui para mahasiswa yang diangkut Satpol PP itu.

Dari pengakuan mereka, La Ode lalu menjamin bahwa tidak ada seorang pun anggota Himka yang tinggal di rumah kos tersebut melakukan tindakan asusila.

"Tidak ada mahasiswa Anambas yang melakukan tindakan tidak senonoh di rumah kos itu. Mereka juga sudah membuat surat pernyataan terkait masalah itu saat diperiksa di Kantor Satpol PP Tanjungpinang waktu itu," tegas La Ode.

Ketua RW setempat, sebelumnya mengatakan, para wanita dan pria seharusnya tinggal dipisah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, kata La Ode, hal itu seharusnya ditegaskan Ketua RW kepada pemilik tempat kos, bukan penghuni kos.

"Kalau soal pembagian kamar kos itu kan pemilik kos yang mengatur, bukan penghuni. Harusnya pemilik kosnya yang ditindak, bukan penghuni," katanya.

Seperti diberitakan sebelumnnya, sebuah rumah kos-kosan di Gang Satria, Jalan Pemuda, RT 01/RW 09 Tanjung Ayun Sakti, mendadak ramai pada Sabtu (11/4) dinihari.

Ketua RT, Suwarni, Ketua RW Johan dan puluhan warga bersama Satpol PP menggerebek rumah kos tersebut. Sebanyak enam mahasiswi dan enam mahasiswa dibawa ke Kantor Satpol PP Tanjungpinang di kawasan Tepi Laut.

Penggerebekan itu dilakukan karena Ketua RT/RW dan warga sekitar menduga di rumah kos itu sering terjadi tindakan yang senonoh.
Dugaan ini muncul setelah Ketua RT mendengar laporan dari warga mengenai plastik kondom bekas yang tercecer dan ditiup anak kecil. Dari Ketua RT juga diketahui bahwa dari rumah kos itu kepergok pasangan lawan jenis tanpa ikatan nikah resmi.

Kepala Bidang (Kabid) Operasional Satpol PP Tanjungpinang, Omrani mengakui bahwa para mahasiswa yang digerebek waktu itu belum diperiksa oleh penyidik pegawai negeri sipil (PPNS).

Karena itu, apa yang sebenarnya terjadi di rumah kos tersebut belum diketahui secara pasti. "Tetapi mereka dianjurkan untuk tinggal pisah saja, jangan bercampur laki-laki dan perempuan di rumah itu," tegas Omrani.

Omrani mengatakan, saat ini, para mahasiswa itu sudah mengambil inisiatif untuk keluar dari rumah itu. Menurut Omrani, dalam kasus-kasus seperti ini, semuanya tergantung kepada kesepakatan dan aturan yang dibuat oleh warga setempat.

"Kalau RT/RW kompak membuat aturan bahwa di wilayah itu tidak boleh kos-kosan bercampur, ya, mereka bisa terapkan itu kepada pemilik kos-kosan. Kalau tidak dibuat aturan bersama, ya, seperti inilah akibatnya. Apalagi pemilik kos tidak tinggal di tempat tersebut," kata Omrani. (Tribun Batam/tom)

Halaman
Penulis:
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved