Kebakaran di Tanjungpinang
Keluh Kesah Korban Kebakaran, Hanya Tersisa Becak Bantuan Bu Suryatati A Manan!
Keluh Kesah Korban Kebakaran, Hanya Tersisa Becak Bantuan Bu Suryatati A Manan!
Penulis: Thom Limahekin |
BATAM.TRIBUNNEWS.COM, TANJUNGPINANG-Efina Dewi (54), wanita berkaos hijau itu berdiri di tengah kerumunan para korban kebakaran. Jumlah mereka belasan orang, umumnya para ibu dan wanita muda dari berbagai etnis.
Baca: BREAKINGNEWS: Tabrakan Maut di Teluk Bakau, 2 Pengendara Motor Tewas! Korban Mahasiswa Pinang
Baca: Prarekonstruksi 5 ABK Wanderlust di Tanjung Uncang Tegang, Kapolri Dijadwalkan ke Batam!
Baca: Kesaksian Nenek Siti. Begini Detik-detik Tenggelamnya Pokcai Pengujan! Teriakan Menyayat Hati!
Baca: Buntut Rusuh KJJ, Beredar Kabar Bareskrim Panggil Bupati Anambas, Benarkah?
Mereka berkumpul di bawah tenda yang dibangun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di dekat lokasi kebakaran, daerah berita Teladan Tanjungpinang, Minggu (16/7) siang. Udara siang itu cukup menyengat. Hawa panasnya masih begitu terasa di bawah nanungan terpal. Tak seorangpun kaum wanita itu beranjak dari tempatnya untuk mencari tempat berteduh yang lebih adem.
Tangan mereka memegang amplop yang berisi sumbangan para penderma. Efina yang kerap disapa Ibu Upi menggenggam erat selembar amplop dalam raut wajah sedih. Matanya menatap beberapa penderma dengan wajah termangu-mangu. Tak satu katapun terucap dari mulutnya.
Para wanita itu pun beranjak keluar dari tenda setelah mereka semuanya menerima bantuan. Efina sendiri memilih tempat yang lebih teduh, sekadar menghindar dari sengatan matahari. Dia berbincang dengan beberapa wanita di depan sebuah rumah.
Saat ditemui, Efina langsung menebar senyum khasnya. Senyum dari raut wajahnya itu masih sama seperti empat tahun lalu, ketika wanita itu ditemui Tribun sedang mengayuh becak. Yah, Efina memang dikenal sebagai wanita pengayuh becak oleh warga di sekitar daerah Teladan dan Potong Lembu.
"Iya, ibu termasuk korban kebakaran ini. Rumah kontrakan ibu ikut terbakar," ungkap Efina dalam nada sedih.
Rumah itu sudah dikontrak Efina bersama suami dan keempat anaknya hampir dua tahun belakangan. Pada Oktober 2017 nanti, mereka mendiami rumah itu genap dua tahun. Uang kontrakan yang dibayar mereka per bulan sebesar Rp 300 ribu.
Ada barang-barang berharga yang tersimpan di dalam rumah kontrakan ini ikut habis dilalap api pada Jumat (14/7) malam lalu. Alat-alat dapur, pakaian-pakaian mereka dan perabot rumah tangga kini sudah menjadi arang. Kalaupun ada yang terhindar dari lalapan apir, barang-barang itu praktis tidak bisa digunakan lagi karena sudah terkena air asing dan jatuh ke dalam laut.
"Waktu kebakaran, bapak dan anak-anak ada di rumah. Ibu sedang ada di luar rumah. Anak-anak hanya bisa selamatkan ijazah. Surat rumah, sepeda motor dan lain-lain tak ada. Karena kami tak punya itu," ucap Efina sambil berusaha tersenyum.
Kendatipun sadar akan kehilangan banyak barang berharga, wanita itu masih tetap melayangkan syukur kepada Allah. Dia mengatakan, barang-barang bisa dicari di kemudian hari. Hal yang paling disyukurinya adalah seluruh anggota keluarganya selamat dan tidak mengalami cedera dalam musibah tersebut.
"Yang penting kami selamat dan sehat. Barang-barang nanti kami bisa cari lagi," ujar wanita itu penuh harapan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/tkp-kebakaran-teladan_20170716_231542.jpg)