BATAM TERKINI

Dampak Virus MR Luar Biasa, Dinkes Kepri Ajak MUI Sosialisasi Pemberian Vaksin

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Tjetjep Yudiana berharap pelaksanaan imunisasi Measle-Rubella (MR) di Kepri, dapat didukung semua pihak.

Dampak Virus MR Luar Biasa, Dinkes Kepri Ajak MUI Sosialisasi Pemberian Vaksin
TRIBUNBATAM/THOM LIMAHEKIN
Konfrensi Pers terkait soialisasi vaksin imunisasi yang disampaikan Dinkes Kepri dan MUI, Selasa (27/8/2018) 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Tjetjep Yudiana berharap pelaksanaan imunisasi Measle-Rubella (MR) di Kepri, dapat didukung semua pihak.

Mengingat saat ini realisasi pelaksanaan imunisasi itu, baru 44 persen di Kepri dari target 95 persen yang dicanangkan secara nasional.

Sasarannya anak usia 9 bulan hingga 15 tahun. Mayoritas anak di usia itu ada di sekolah.Ia memahami, adanya penolakan dari masyarakat terkait pemberian vaksin tersebut.

Namun dalam hal ini, Tjetjep lebih menitikberatkan pada akibat yang ditimbulkan dari penyebaran virus tersebut.

Terutama jika tertular bagi ibu hamil. Akan berakibat fatal bagi kandungannya."Luar biasa akibatnya. Ini menimbulkan kecacatan bagi anak yang terlahir dengan terserang virus Rubella.

Ada yang buta mata, tak bisa mendengar, jantung bocor, dan lainnya," kata Tjetjep saat kegiatan advokasi dan re-sosialisasi pelaksanaan imunisasi MR di Biz Hotel Batam, Kamis (27/9/2018).

Baca: Kepala Dinkes Kepri: Target Vaksinasi Campak dan Rubella 95 Persen, Namun di Kepri Baru 50 persen

Baca: Vaksin MR Banyak Ditolak, Menkes: Masyarakat Jangan Egois, Pikirkan orang di Sekitar Kita

Baca: Ratusan Kasus Campak dan Rubella Terjadi di Kepri, Dinkes Beri Waktu Vaksin hingga 30 September

Kegiatan itu melibatkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kepri, MUI Kota Batam, dokter spesialis anak, Dinas Kesehatan Kota Batam, pihak sekolah dan puskesmas yang ada di Kota Batam.

Selain itu juga menghadirkan pasien penderita Rubella.Tjetjep melanjutkan, dengan dampak yang luar biasa itu juga berpengaruh pada biaya pengobatannya. Butuh biaya yang tak sedikit. Untuk satu kasus saja, bisa merogoh biaya Rp 300 juta sampai Rp 400 juta.

Tjetjep memberi penekanan bagi orangtua yang memiliki ekonomi menengah ke bawah.Hal serupa disampaikan konsultan UNICEF untuk wilayah Riau-Kepri, Yufrizal Putra Candra.

Ia mengatakan, harapan anak yang sudah terkena virus ini, bisa dibilang tidak ada."Jangan berharap anak sembuh kalau sudah kena virus ini. Dampaknya pada anak ada yang katarak, tuli, jantung bocor, pengapuran di otak. Ada juga yang lumpuh. Bagi ibu hamil, keguguran," kata Yufrizal.

Halaman
123
Penulis: Dewi Haryati
Editor: Sihat Manalu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved