Kisah Para Wanita Utara yang Kabur dan Jadi Budak Nafsu ke China. Tak Ada Jalan untuk Pulang
Seorang wanita yang melarikan diri dari Korea Utara ke China mengisahkan pengalamannya dijual sebagai budak seks di China sebelum akhirnya kabur
Namun Michael Glendinning, Direktur KFI yang berbasis di London itu mengatakan upaya Beijing masih belum cukup dalam melindungi anak-anak maupun perempuan Korut di wilayah mereka.
Hasil laporan KFI menyebutkan bahwa ribuan wanita Korut dijual sebagai budak seks di China. Mereka diculik dan dijual sebagai PSK atau dipaksa menikahi pria China.
Organisasi ini mengatakan, nilai perdagangan perempuan ini menghasilkan setidaknya 100 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,4 triliun per tahun untuk berbagai kelompok kejahatan.
Para perempuan itu tak bisa berbuat apa-apa karena pilihan lain adalah dipulangkan ke Korea Utara. Ini tentu jauh lebih buruk karena mereka terancam mendapat siksaan bahkan hukuman mati.
"Korban dijual sebagai PSK dengan paling murah dengan harga 30 yuan (Rp 62.000) dan 1.000 yuan (Rp 2 juta) jika di jual sebagai istri," kata penulis laporan, Yoon He-soon.

"Mereka juga dijual ke situs-situs sex untuk diekploitasi oleh para penonton di seluruh dunia secara online," tambah Yoon.
Para perempuan yang berusia antara 12-29 tahun ini diculik dan dijual di China atau diperdagangkan langsung dari Korea Utara.
Banyak di antara mereka pernah dijual lebih dari satu kali dan dipaksa menjalani lebih dari satu bentuk perbudakan seks dalam kurun waktu setahun setelah mereka meninggalkan Korea Utara.
Sebagian besar dari mereka dipekerjakan di rumah-rumah bordil di wilayah timur laut China tempat banyak pekerja migran berdiam.
Para perempuan itu juga dipaksa bekerja di industri seks siber untuk melakukan aksi seksual dan kerap mengalami serangan seksual di depan kamera.
Para pelanggan situs-situs semacam ini sebagian besar diyakini berasal dari Korea Selatan. Perempuan yang dipaksa menikah biasanya dijual di kawasan pedesaan dengan harga mulail 1.000 yuan hingga 50.000 yuan atau sekitar Rp 104 juta.
Setelah dinikahi, para perempuan ini biasanya kerap menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan suaminya.
Organisasi HAM ini mengumpulkan informasi dari sejumlah korban di China dan para penyintas yang hidup di Korea Selatan.
Salah satu korban, hanya disebut bernama Nona Pyon asal kota Chongjin, Korea Utara, membeberkan kisahnya.
"Saya dijual ke sebuah rumah bordil dengan enam perempuan lain asal Korea Utara di sebuah hotel. Kami tak diberi cukup makan dan diperlakukan amat buruk," kata Pyon.