Setelah Batam, 8 Kontainer Sampah di Surabaya Dipulangkan ke Australia
Indonesia akan memulangkan lebih 210 ton sampah ke Australia yang ditemukan di Pelabuhan Tanjungperak, Surabaya. Termasuk botol plastik dan pembalut,
TRIBUNBATAM.ID, JAKARTA - Indonesia akan memulangkan lebih 210 ton sampah ke Australia yang ditemukan di Pelabuhan Tanjungperak, Surabaya.
Sebanyak delapan kontainer sampah yang ditangkap di Surabaya itu berisi kertas skrap bersih, namun juga mengandung bahan berbahaya dan sisa rumah rumah tangga.
Termasuk botol plastik dan pembalut, lampin bekas pakai pakai, sisa elektronik dan bekas, kata jurubicara Bea dan Cukai Jawa Timur.
Dari hasil pemeriksaan, Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia meminta agar sampah itu di-reekspor kembali ke Australia.
• Aksi Pria Pakai 15 Baju Sekaligus Jadi Viral, Tolak Bayar Biaya Tambahan Bagasi Pesawat
• Terapkan Tata Kelola Baik, BPJS Ketenagakerjaan Sumbarriau Ajak Stakeholder Dukung Good Governance
• Demi Fantasi dan Uang, Suami di Surabaya Tega Jual Istri Sah ,Tawarkan Kencan Bertiga
• Tak Kuasa Nahan Hasrat Birahi Jelang Pernikahan, Chat Mesum soal Organ Intim Nyasar di WhatsApp Grup
“Langkah ini bertujuan untuk melindungi masyarakat dan lingkungan Indonesia, Terutama Jawa Timur dari sisa B3 yang mengandung bahan berbahaya dan bertoksik,” katanya seperti dilansir AFP.
Menurut BC, sampah itu didatangkan ke Indonesia oleh oleh perusahaan Oceanic Multitrading Australia, dibantu PT MDI di Indonesia.
Temuan limbah di Tanjungperak ini menambah daftar panjang impor sampah ke Indonesia setelah sebelumnya ditemukan di Pelabuhan Tanjungpriok dan Batam.
Di Tanjungpriok, lima kontainer sampah berasal dari Amerika Serikat, sementara di Batam jumlahnya lebih banyak lagi, 38 kontainer.

Sampah di Batam berasal dari sejumlah negara dan juga akan direekspor kembali ke negara asal sesuai dengan peraturan internasional.
Pemerintah memastikan bahwa puluhan kontainer sampah plastik di Batam akan dikembalikan ke negara asal sampah tersebut.
Indonesia adalah negara ketiga di Asia Tenggara yang menolak dijadikan sampah setelah Filipina dan Malaysia yang menolak keras negaranya menjadi tong sampah dengan alasan papun.
Sebanyak 38 dari 65 kontainer yang diperiksa berisi sampah, sampah plastik, dan bahan berbahaya yang melanggar aturan impor, menurut pejabat bea cukai di pulau Batam.
"Kami sedang berkoordinasi dengan importir untuk segera memproses pengembalian mereka," kata juru bicara kantor bea cukai Sumarna kepada AFP.
Sampah tersebut berasal dari Amerika Serikat, Australia, Perancis, Jerman dan Hong Kong.
• Hoaks dan Fakta Tak Pernah Kerja di NASA Tapi Audrey Yu Jia Hui Pernah Jadi Penerjemah di PBB
• Belatar Belakang Politik, TGPF Sebut Jenderal Polisi Bintang 3 Diperiksa dalam Kasus Novel Baswedan
• Pria yang Ancam Penggal Jokowi Menikah di Tahanan, Tetap Bahagia Didampingi Orang Tua dan Kerabat
• Tolak Lakukan Prilaku Menyimpang, Duda Penyuka Sesama Jenis Ini Setubuhi Mayat Pria yang Dibunuhnya
Bulan lalu, Jakarta juga mengembalikan lima kontainer limbah ke Amerika Serikat, bergabung dengan paduan suara negara-negara Asia Tenggara yang semakin tidak senang dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah dari negara-negara Barat.