BATAM TERKINI

Arifin Nasir Masih Saksi, Polda Kepri Periksa 40 Saksi Terkait Pembangunan Monumen Bahasa 

Ditkrimsus Polda Kepri telah memeriksa 40 saksi terkait dugaan korupso pembangunan tugu Monumen Bahasa di Pulau Penyengat, Tanjungpinang.

Arifin Nasir Masih Saksi, Polda Kepri Periksa 40 Saksi Terkait Pembangunan Monumen Bahasa 
tribunnews batam/thomm
Maket Monumen Bahasa di Pulau Penyengat Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri). 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Direktorat Kriminal Khususnya (Ditkrimsus)  Polisi Daerah (Polda)  Kepri telah memeriksa 40 saksi terkait kasus dugaan korupsi pembangunan tugu Monumen Bahasa di Pulau Penyengat, Tanjungpinang.

Kabid Humas Polda Kepri Kombes S Erlangga Rabu mengatakan,  ke 40 saksi itu termasuk saksi ahli.

Yakni dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang.

Dan dari Jasa Pemerintahan dan Lembaga Pengembangan Jasa Kontruksi (LPJK).

"Tentu penyidik punya penilaian sendiri. Tujuan pemeriksaan 40 saksi, untuk menggali sejauh mana dampak kerugian negara pada proyek yang dikerjakan," kata Erlangga.

Polisi juga sudah memeriksa Dinas Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau dan Arifin Nasir sebagai Kuasa Pengguna Anggaran atau KPA, pada proyek mangkrak itu sekarang.

Termasuk polisi memintai keterangan saksi Mantan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri Guntur Sakti.

Polda Kepri Hadirkan Saksi Ahli Kasus Dugaan Korupsi Monumen Bahasa di Penyengat Tanjungpinang

TIAP Pagi Jalanan di Batam Ini Selalu Macet, Bisa Mengular hingga 2 Kilometer

Malaysia Disebut Negara Transit, Negara Ini Diduga Penghasil Sabu yang Kerap Masuk Batam

Erlangga mengatakan, kasus hingga saat ini polisi terus mendalami. Ketika ditanya status Arifin Nasir, katanya, masih sebatas sebagai saksi.

Meski santer terdengar sebelumnya,  Arifin Nasir telah ditetapkan sebagai tersangka.

"Jadi tidak serta orang jadi tersangka. Penyidik masih menggali sejauh mana keterlibatan pihak-pihak tertentu dalam proyek tersebut," tambahnya.

Seperti diketahui, proyek pembangunan monumen bahasa Pulau Penyengat itu, dikerjakan secara bertahap sejak tahun 2013. Dengan pagu anggaran senilai Rp12,5 miliar. 

Namun belakangan diketahui terbengkalai.

Hal ini terkuak berdasarkan pemeriksaan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Kepri.

BPKP ini menemukan kerugian negara sebesar Rp 2,3 miliar.

Pembangunan monumen bahasa itu menggunakan anggaran Dinas Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau dan Arifin Nasir sebagai Kuasa Pengguna Anggaran atau KPA, pada waktu itu. (tribunbatamid/leo halawa)

Penulis: Leo Halawa
Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved