BATAM TERKINI

PT Foster Hengkang, Kepala BP Batam: Biar Saja! Hilang Satu Datang Seribu

Kepala BP Batam, Edy Putra Irawady mengaku tak ambil pusing soal hengkangnya PT Foster Electronic Indonesia setelah 28 tahun membuka usaha di Batam.

Penulis: Dewi Haryati |
TRIBUNBATAM.ID/ENDRA KAPUTRA
Kepala BP Batam, Edy Putra Irawadi 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Edy Putra Irawady mengaku tak ambil pusing soal hengkangnya PT Foster Electronic Indonesia setelah 28 tahun membuka usaha di Batam.

Edy justru percaya diri, Batam akan tetap menjadi tujuan investasi dari negara-negara luar.

Mengingat Batam memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif yang jarang dimiliki daerah, atau negara lainnya.

"Biar saja, hilang satu datang seribu," kata Edy, Selasa (20/8/2019) di Hotel Aston Batam.

Untuk alasan berhenti operasi ini, menurutnya, bisa saja karena usahanya kalah saing, atau ingin mencari tenaga kerja murah.

Edy menyebut, untuk footloose industry, cenderung mencari upah murah.

Dari pengertiannya, footloose industry, adalah istilah umum untuk industri yang dapat ditempatkan dan terletak di lokasi manapun tanpa efek dari faktor-faktor seperti sumber daya atau transportasi.

BREAKINGNEWS - Seorang Tahanan Rutan Kelas IIA Batam Meninggal Dunia

PT Foster Hengkang dan PHK 1.160 Karyawan, Walikota Batam: Sudah Tutup Sejak Maret

Ciri footloose industry, jenis industri yang hanya mempertimbangkan biaya produksi murah di satu negara.

Edy menyebut, cirinya juga ditandai bisa berpindah tempat setiap saat dan gampang.

"Dia (Foster), termasuk industry footloose atau tidak. Kalau Anda cari upah murah, silakan ke negara baru berkembang," ujarnya.

Sementara di Batam, pria yang pernah menjabat Staf Khusus Kemenko Perekonomian RI ini menyebut, sumber daya manusia (SDM) yang ada di sini memiliki keterampilan kerja yang mumpuni. Tidak bisa disamakan dengan daerah atau tempat lain, yang menganut upah murah.

"Skill Batam ini hebat-hebat. Kita punya tiga vokasi international certificate. Masa cari tenaga kerja murah di sini," kata Edy.

Dari BP Batam, sebenarnya konsen terhadap tenaga kerja dan nilai tambah tenaga kerja. Bukan soal seberapa banyak jumlah pekerja. Ia lantas membandingkan kalkukasi biaya tenaga kerja yang memiliki nilai tambah, antara Batam-Indonesia dengan Singapura dan Malaysia.

"Di Singapura itu, satu nilai tambah tenaga kerja manufaktur 9.600 US dolar per tahun. Satu orang pekerja industri di Malaysia, 3600 US dolar. Kita di Batam, Indonesia, 800 US dolar per tahun," ujarnya.

Meski begitu, Edy tetap mengajak pihak terkait lainnya, termasuk Pemerintah Daerah untuk menghormati Peraturan Pemerintah No.78 Tahun 2015 tentang Pengupahan. Supaya investor yang datang ke Batam yakin dan bisa menghitung bisnisnya.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved