HUMAN INTEREST

Terjerat Bisnis Haram Narkoba, M Saleh: Tak Ada Lagi Tempat Mengadu

Jika waktu bisa diulang, M Saleh lebih memilih menjadi tukang pungut sampah daripada kurir narkotika. Simak wawancara ekslusif dengan tribunbatam.id

Penulis: Beres Lumbantobing |
tribunbatam.id/bereslumban tobing
Tersangka kasus narkoba M Saleh. Sebelumnya, Saleh pernah jadi kontraktor 

Terjerat Bisnis Haram Narkoba, M Saleh: Tak Ada Lagi Tempat Mengadu

TRIBUNBATAM.id - Apa boleh buat. Ibarat kata pepatah, nasi sudah menjadi bubur. Jika waktu bisa diulang kembali, M Saleh lebih memilih menjadi tukang pungut sampah daripada kurir narkotika.

Penyesalan itu disampaikan Saleh, kurir narkotika jenis sabu yang ditangkap tim Reaksi Cepat atau Western Fleet Quick Response (WFQR) Lanal Batam, saat membawa sabu seberat 2,23 kg.

M Saleh diringkus tim WFQR Lanal Batam di sebuah tambak kelong ikan, Sei Piayu, Sei Beduk, Batam, beberapa waktu lalu, saat akan menjemput sabu dari salah satu speed boat, saat waktu subuh.

"Tidak tau lagi apa kelanjutan hidupku, aku hanya bisa berpasrah menerima hukuman. Apakah mati atau masih hidup," ujar Saleh kepada wartawan Tribun, Beres Lumbantobing Jumat (15/11/2019)

Pria asal Medan ini bahkan bisa tidak melihat masa depan anak-anaknya karena ia bisa diancam hukuman mati. Berikut petikan wawancaranya:

Sudah berapa lama Anda menetap di Batam?

Harta Hingga Rp12 Triliun, Bos Narkoba Asal Batam ini Habiskan Puluhan Juta untuk Uang Makan Sehari

Sudah 24 tahun, sejak tahun 1995

Apa pekerjaan Anda sebelum jadi kurir narkoba?

Dulunya saya pernah bekerja dalam dunia kontraktor asing, proyek bangunan.

Proyek apa itu?

Beberapa proyek saya kala itu di Kompleks Nagoya. Sejak tahun 1995 saya sudah di Batam. Awalnya saya kerja di bangunan hingga saya menjadi kontraktor.

Lalu kenapa tiba-tiba menjadi kurir narkotika?

Tahun terakhir lemahnya perekonomian Batam, saya tidak dapat proyek lagi sehingga usaha saya sempat berhenti. Akhirnya, saya pun ditawari kawan untuk mengantar barang. Nah dari sutulah saya terjebak dalam pekerjaan menjadi kurir narkotika.

Berapa Anda dibayar sebagai kurir?

Awalnya saya coba dengan mengantar satu kali jalan, dapat imbalan Rp 6 juta. Dari upah itu, saya pikir lumayan besar dan bisa membantu memenuhi kebutuhan anak dan istri.

Bagaimana cara kerja Anda melakukannya?

Kalau dipikir-pikir cara kerjanya nggak susah, pakai sistem SMS (pesan singkat HP) berantai. Nanti kita dihubungi lewat SMS untuk datang kesebuah lokasi. Habis itu dapat balasan SMS lagi, diarahkan ke sebuah tempat hinga waktu itu sekira pukul 03.00 dinihari.

Bagaimana Anda bisa tertangkap?

Saya juga tidak tahu. Sekira pukul 03.00 itu saya tiba di Piayu. Paling ujung ada tambak kelong ikan untuk menemui pompong yang membawa narkotika itu. Lalu saya bawa ke darat dan belum jauh dari laut saya sudah dikepung petugas Angkatan Laut. Lalu sabu-sabu itu saya letakkan di tanah dan saya langsung lompat ke laut. Namun upaya saya gagal dan petugas meringkus saya.

Kini bagaimana perasaan Anda?

Penyesalan sangat mendalam, tak ada lagi tempat mengadu. Semua sudah buntu tanpa harapan... (M Saleh menangis) Terima nasiblah, udah risiko dari kerjaan seperti ini...

Anda punya keluarga ?

Punya. Saya punya anak dua, mereka masih kecil. Sekarang ibunyalah yang merawat mereka (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved