HUMAN INTEREST

Ini Curhatan Sopir Taksi Konvensional, Rezeki Tergerus Kecanggihan Teknologi

Sudah 15 tahun menjadi sopir taksi, Rahmat mengaku pendapatannya menurun drastis dengan adanya taksi online

Ini Curhatan Sopir Taksi Konvensional, Rezeki Tergerus Kecanggihan Teknologi
TRIBUNBATAM.ID/BERES LUMBANTOBING
Jalanan di depan Pelabuhan Batam Center macet total saat bentrok antara taksi online dan konvensional, Selasa (3/12/2019) 
TRIBUNBATAM.id, BATAM - Kehadiran taksi online di Batam di satu sisi membantu masyarakat yang ingin bepergian, tanpa perlu ribet.

Di sisi lain, keberadaannya juga menimbulkan reaksi bagi pihak-pihak terkait, seperti taksi konvensional.

Hal ini dirasakan Rahmat. Sudah 15 belas tahun terakhir ini dia berprofesi sebagai sopir taksi konvensional.
Kepada Tribunbatam.id, Rahmat mengaku dua tahun terakhir pendapatannya sebagai sopir taksi menurun drastis dengan kehadiran taksi aplikasi atau online.
"Mobil saya ini kan pribadi masih Corona Altis 2002. Nah karena punya sendiri masih mending. Dapat Rp 120 ribu per hari tak masalah.
Tapi kawan-kawan yang mobilnya masih sewa tinggal tunggu mukjizat. Karena kalau pun pendapatan kotor Rp 150-200 ribu belum tentu dapur mengepul.

Jadi rezeki taksi konvensional digerus kecanggihan zaman," kata pria asal Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara ini, Rabu (4/12/2019).
Sebenarnya, Rahmat ingin mengikuti perkembangan zaman dengan beralih menjadi sopir taksi online. Hanya saja, mobilnya tak lolos jika beralih pada aplikasi online.


Karena tahun mobilnya 2002, termasuk usia tua. Seingat Rahmat, yang bisa didaftarkan online hanya mobil rakitan tahun muda.

"Nah karena tak bisa terpaksa saya main konvensional. Jadi ini karena keterpaksaan. Saya pribadi bukan tak mau ikut arus perubahan.
Tapi keadaan yang tak memungkinkan," kata bapak dari lima anak ini.
Rahmat yakin, Tuhan punya cara bagi umat-Nya memberikan rezeki. Hanya saja dia menggeluti profesi menjadi driver. Soal rezekinya diserahkan kepada Tuhan.
"Doa saya, Tuhan pelihara kelima anak saya. Jadi saya lakukan rutin setiap kali keluar mencangkul (istilah mencari sewa,red). Dan syukur terpenuhi.

Meski terkadang tidak tertutupi," kata Rahmat.
Rahmat beruntung istrinya masih punya keahlian tangan. Yakni menjahit di rumah, sehingga bisa membantu keuangannya di keluarganya.

Petugas Jaga Ketat Pelabuhan Batam Center, Usai Ribut Taksi Konvensional dan Taksi Online

Berbeda dengan TM, sopir taksi konvensional yang meminta namanya diinisialkan ini mengatakan, memilih mangkal di Pelabuhan Internasional Batam Center bukan tanpa alasan.

Ia mengatakan, tidak sedikit uang yang ia keluarkan supaya dapat nomor antrean di sana.
"Puluhan juta mas. Makanya kita marah ketika periuk kita diganggu. Kami menganggap taksi online itu mengganggu periuk kami.
Kami juga anak bangsa dan punya anak. Nah, pemerintah sebenarnya yang harus bijak menengahi ini. Kita orang bawah ini mati ketika periuk anak-istri diganggu.

Makanya ribut terus. Gimana? Kalau jumlah bayar itu rahasia kami lah. Puluhan juta rupiah pokoknya," ucap pria berinisial TM itu.
Selain itu, mobil-mobi taksi mereka kebanyakan tahun lama. Sehingga tak memungkinkan mendaftar di aplikasi online.

Pria yang sudah menghabiskan separuh umurnya (60) sebagai sopir taksi memang mengeluh atas lahirnya taksi online.
"Dulu kami asem-adem saja. Kami juga sebagai pendongkrak ekonomi dan pariwisata di pelabuhan ini. Sekarang ada orang baru tak tahu menahu apa-apa, tiba-tiba main ambil sewa. Marah lah kami," tuturnya.
(Tribun Batam.id/leo halawa
Penulis: Leo Halawa
Editor: Dewi Haryati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved