Tahun 2025, Selamat Jalan (perlahan) Bimbar Batam

Ada 3 jenis Bimbar. Bimbar Merah Maroon melayani penumpang dari Dapur 12 Sagulung ke Nagoya dan melintasi sub-terminal di Sukajadi.

Tahun 2025, Selamat Jalan (perlahan) Bimbar Batam
TRIBUNBATAM/ALFANDI
Warga naik angkot Bimbar, Kamis (8/3/2018) 

Terminal utama Bimbar ada di kawasan Muka Kuning, Sagulung, dan Dapur 12. Inilah kawasan industri ‘modern’ di dekade 1990 hingga 2000-an.

TRIBUN-BATAM.id, BATAM — Angkutan kota khas Kota Batam, Bimbar akan tinggal nama. 

Secara bertahap, mulai tahun 2020 izin trayek angkutan minibus tidak lagi diperpanjang. 

Selain Bimbar, 3 dekade terakhir warga Batam memanfaatkan jasa taxi, angkot carry, bus trans Batam, dan setengah dekade terakhir angkutan online rodan dua dan empat.

“Tahun 20205 nanti, Batam tanpa Bimbar lagi,” kata Wali Kota Batam HM Rudi kepada wartawan di Kantor Badan Pengusahaan Batam, Kawasan Engku Putri, Kamis (17/1/2020).

Rudi yang baru memasuki bulan kelima merangkap jabatan (ex officio) Kepala BP Batam ini punya mimpi, lima tahun kedepan alat angkutan publik darat itu akan digantikan moda transportasi yang lebih modern.

“Insyallah, tahun 2025 transportasi Batam akan maju, kalau bisa kalahkan Singapura,” ujar Rudi menjelaskan visi lima tahunnya.

Masa jabatan Rudi sebagai wali kota berakhir Maret 2021. Jabatan kepala ex officio Batam melekat di masa jabatan walikota.

Pemilihan Wali Kota Batam digelar 23 September mendatang. Jika terpilih, incumbent mayor ini akan berakhir 2025.

Rudi tak merinci jenis transportasi pengganti Bimbar.

“Pokoknya lebih nyaman, ada AC, Wifi, dan cocok untuk turis.”

Dia menyebutkan, para mantan supir dan awak Bimbar akan diberdayakan dengan memberi pelatihan dan keterampilan lebih.

Sekretaris DPW Partai Nasdem Kepri ini mengau masih khawatir menghentikan operasional angkutan rakyat itu. “Kalau disetop sekarang, nanti saya didemo terus. Sekarang saya kasi tahu dulu, akan kita revitalisasi,” ujarnya.

Rudi juga berjanji akan memperbaiki infrastruktur transportasi publik lebih dahulu, sebelum mengganti Bimbar. “Makanya jalan kita lebarkan dulu, kita bersihkan dulu,” ujar mantan anggota DPRD dan wakil wali kota Batam ini.

Bimbar adalah nama perusahaan jasa angkutan mini bus asal Medan, yang populer akhir dekde 1990-an.

Nama ini kemudian melekat di lidah publik, menyusul dominasinya mulai awal dekade 2000-an, bersamaan Batam menjadi kota urban industri, diluar Jabodetabek dan Surabaya.

Tahun 1990 - 2000 transportasi di Batam mengandalkan taksi. Tak seperti taksi kebanyakan yang hanya melayani satu penumpang, taksi ala Batam, juga menjemput  penumpang lain, meski  jurusan berbeda.

“Lama baru nyampe, dan kita harus rela berbagi dengan penumpang lain, meski tak dikenal,” ujar Nina (36), warga Tiban, yang sudah menetap di Batam, sejak usia taman kenak-kanak.

Di tahun tersebut, otoritas transportasi negara, kementerian perhubungan juga menyiapkan Damri.  Hanya saja, karena jumlah yang terbatas, moda transportasi publik ini kalah pamor dari Bimbar. 

Terminal utama Bimbar ada di kawasan Muka Kuning, Sagulung, dan Dapur 12. Inilah kawasan industri ‘modern’ di dekade 1990 hingga 2000-an.

Bimbar di Batam hanya melayani tiga trayek. Untuk membedakan cukup melihat warna karoserinya.

  1. Bimbar Biru melayani rute Dapur 12 Sagulung ke kawasan dagang dan jasa, Nagoya. Jalur ini juga melintasi Batam Center
  2. Bimbar Merah Maroon melayani penumpang dari Dapur 12 Sagulung ke Nagoya dan melintasi sub-terminal di Sukajadi.
  3. Bimbar Pink, yang juga populer dengan sebutan Jono (Jodoh ke Nongsa), melayani trayek Sei Jodoh, Nongsa dan melintasi kawasan pemukiman dan perkantoran di kawasan Batam Center.

Tarif laiknya, angkot di kota besar lain di Indonesia, antara Rp500 hingga Rp 2000 per penumpang. Lima tahun terakhir tarifnya menyesuikan inflasi, antara Rp5000 hingga Rp10 ribu per trayek.

Halaman
Penulis: Rio Batubara
Editor: thamzil thahir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved