Sabtu, 18 April 2026

Anwar Ibrahim Sebut Ada Penghiantan Terkait Manuver Politik Mahathir Muhamad

Dia merujuk pada janji Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad yang akan menyerahkan kursi kepadanya setelah dua tahun menjabat.

Editor: Eko Setiawan
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Politisi senior Malaysia, Anwar Ibrahim menjawab pertanyaan wartawan di Kediaman BJ Habibie, Jakarta, Minggu (20/5/2018). 

Kontributor Kompas.com Singapura, Ericssen

JAKARTA, TRIBUNBATAM.id - Mundurnya Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad membuat Politisi Senior Malaysia Anwar Ibrahim angkat bicara.

Pasalnya, dalam hal ini Anwar Ibrahim dahulu dijanjikan akan menggantikan pucuk pimpinan setelah Mahatir Mohamad dua tahun menjabat.

Politisi senior Malaysia Anwar Ibrahim merasa dikhianati atas langkah yang dilakukan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad.

Pastikan Kepri Bebas Corona, Aspabri & Dispar Undang Perwakilan Agen Travel Keliling Bintan Resort

Ini Prediksi Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unrika Soal Pilwako Batam

CATAT, Ini Syarat Peserta CPNS Ikuti SKD di Karimun

Pernyataan itu dia keluarkan di tengah beredarnya kabar bahwa koalisi baru pemerintahan Malaysia akan segera diumumkan.

“Saya jujur sangat kaget dengan dinamika politik yang sedang terjadi. Ini adalah pengkhianatan karena jelas sudah ada janji Mahathir akan menyerahkan kekuasaan ke saya,” tutur Anwar di kediamannya, Minggu (23/2/2020) malam, dikutip Malaysia Kini.

 

Dia merujuk pada janji Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad yang akan menyerahkan kursi kepadanya setelah dua tahun menjabat.

Presiden Partai Keadilan Rakyat (PKR) itu mengiyakan bahwa koalisi pemerintahan baru akan terbentuk paling cepat besok.

“Walaupun sejauh ini belum ada pengumuman malam ini, dari informasi yang saya terima, koalisi baru tinggal menunggu waktu.”

Anwar melanjutkan, walau kaget, dia sudah mengetahui upaya untuk menjegalnya menjadi orang nomor satu "Negeri Jiran”.

Pembentukan koalisi pemerintahan baru akan terdiri dari pecahan Koalisi Pakatan Harapan yang dipimpin oleh Partai Bersatu.

Kemudian, kubu oposisi Barisan Nasional dimotori Partai Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) dan Partai Islam se-Malaysia (PAS) untuk membuyarkan ambisi Anwar menjadi PM Malaysia.

 

Politisi berusia 72 tahun itu telah menunggu selama 22 tahun sejak dia dipecat oleh Perdana Menteri Mahathir Mohamad dan dipenjara karena tuduhan korupsi dan sodomi pada tahun 1998.

Anwar yang mendekam dua kali di penjara karena kasus sodomi berkali-kali berhasil melakukan comeback politik dengan memimpin gerakan oposisi.

Terakhir, dia menerima grasi dari Raja Malaysia setelah kemenangan mengejutkan Pakatan pada pemilu Mei 2018.

Grasi itu diajukan oleh Mahathir yang memutuskan berekonsiliasi dengan Anwar guna mengalahkan mantan Perdana Menteri Najib Razak.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved