Breaking News:

TRIBUN WIKI

TATA Cara dan Larangan yang Bisa Membatalkan I'tikaf di 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan

I'tikaf adalah aktivitas berdiam diri di dalam masjid untuk beribadah kepada Allah yang dilakukan oleh orang tertentu dengan tata cara tertentu.

KOMPAS
Ilustrasi Iktikaf di masjid 

"Janganlah tergesa-gesa sehingga aku pulang bersamamu."

Dan rumah Shafiyyah berada di kampung Usamah bin Zaid 4/203).

Kemudian Nabi berdiri bersama untuk mengantarkannya pulang.

Sehingga, ketika sampai di (sekat 4/45) pintu masjid yang ada di pintu (dalam satu riwayat: tempat tinggal) Ummu Salamah (istri Nabi), lewatlah dua orang laki-laki kalangan Anshar. 

Lalu, mereka memberi salam kepada Rasulullah (Dalam satu riwayat: lalu mereka memandang kepada Rasulullah, kemudian keduanya berlalu. Dalam riwayat lain: bergegas).

Maka, Nabi bersabda kepada keduanya, "Tunggu! (Kemarilah), dia adalah Shafiyyah binti Huyyai."

Kemudian mereka berkata, "Subhanallah, wahai Rasulullah."

Hal itu berat dirasa oleh kedua orang itu, maka Nabi bersabda, "Sesungguhnya setan itu dapat mencapai pada manusia pada apa yang dicapai oleh (dalam satu riwayat: mengalir di dalam tubuh anak Adam pada tempat mengalirnya) darah.

Aku khawatir setan itu melemparkan (suatu keburukan, atau beliau bersabda:) sesuatu ke dalam hatimu berdua." (Aku bertanya kepada Sufyan, "Apakah Shafiyyah datang kepada Nabi pada waktu malam?" Dia menjawab, "Bukankah ia tidak lain kecuali malam hari?" 2/259). (HR Bukhari)

8. Abu Hurairah RA berkata, "Nabi biasa beriktikaf dalam setiap bulan Ramadan selama sepuluh hari. Kemudian setelah datang tahun yang pada tahun itu beliau dicabut ruhnya (yakni wafat), beliau iktikaf selama dua puluh hari."

Dasar hukum dilakukannya iktikaf adalah ijma, yakni telah sepakatnya seluruh umat atas disyariatkannya iktikaf. 

Jenis Iktikaf

Iktikaf yang disyariatkan ada dua macam, yaitu iktikaf sunah dan wajib.

1. Iktikaf sunnat adalah iktikaf yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk mendekatkan diri dan mengharapkan ridha Allah Ta'ala seperti; iktikaf 10 hari terakhir pada bulan Ramadan.

2. Iktikaf wajib adalah iktikaf yang dikarenakan bernazar (janji), seperti: "Kalau Allah Swt. menyembuhkan penyakitku ini, maka aku akan beriktikaf.

Syarat-syarat Iktikaf

Orang yang beriktikaf harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

- Muslim

- Niat

- Balig dan Berakal

- Suci dari hadas (junub), haid dan nifas

- Dilakukan di dalam masjid

Oleh karena itu, iktikaf tidak sah bagi orang yang bukan muslim, anak-anak yang belum dewasa, orang yang terganggu kewarasannya, orang yang dalam keadaan junub, wanita dalam masa haid dan nifas. 

Rukun Iktikaf

1. Niat

Seperti ibadah-ibadah lainnya maka menurut mayoritas ulama salah satu rukun terpenting dari iktikaf adalah niat, sehingga dengan niat inilah ada pembeda antara mereka yang beriktikaf atau bukan.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: ”Sungguh setiap pekerjaan itu bergantung dengan niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan” (HR. Muslim).

2. Berdiam Diri di Masjid

Inilah intinya iktikaf sebagaimana definisi iktikaf, yaitu berdiam diri atau mengurung diri di masjid guna mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala tentunya berdiam diri yang dimaksud tempatnya di masjid, bukan di tempat lain.

Selama berdiam diri di masjid ini hendaknya mutakifin (orang-orang yang beriktikaf) memaksimalkan rangkain ibadah; salat wajib, salat-salat sunah, berzikir, membaca Alquran, dan sebagainya.

Tidak hanya memperbanyak tidur, atau ngobrol kesana-kemari, atau sibuk dengan gawainya.

Perihal memperbanyak membaca Alquran, misalnya boleh juga jika ada yang mempunyai target bacaan untuk mengkhatamkan Al Quran selama iktikaf.

Ada banyak riwayat yang menyebutkan tentang keutamaan mengkhatamkan Alquran. 

Hal-hal yang diperbolehkan selama Iktikaf

- Keluar dari tempat iktikaf untuk mengantar istri, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam terhadap istrinya Sofiyah RA. (HR. Riwayat Bukhari dan Muslim)

- Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran dan bau badan.

- Keluar untuk keperluan yang harus dipenuhi, seperti membuang air besar dan kecil, makan, minum (jika tidak ada yang mengantarkannya), dan segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di masjid, tetapi ia harus segera kembali setelah menyelesaikan keperluannya .

- Makan, minum, dan tidur di masjid dengan senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid.

- Menemui tamu di masjid untuk hal-hal yang diperbolehkan dalam agama. 

Hal-hal yang membatalkan Iktikaf

- Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan yang dikecualikan walaupun sebentar.

- Murtad (keluar dari agama Islam).

- Hilangnya akal, karena gila atau mabuk.

- Haid atau nifas.

- Bersetubuh dengan istri, akan tetapi memegang tanpa syahwat, tidak apa-apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan istri- istrinya.

- Pergi salat Jumat (bagi mereka yang membolehkan iktikaf di surau yang tidak digunakan untuk salat Jumat). (*)

*Artikel ini telah tayang di Tribunnewswiki.com dengan judul 'Iktikaf'.

Penulis: Widi Wahyuning Tyas
Editor: Tri Indaryani
Sumber: TribunnewsWiki
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved