HIKMAH RAMADHAN
Ramadhan Otokritik Kehidupan
Dengan mengadakan otokritik ini, khususnya di bulan yang penuh maghfirah ini diharapkan dapat menciptakan suasana kondusif yang tentram dan aman.
Bagaimana sikap kita dalam menerima itu semua? (Wallahu a’lam).
Bulan Produktivitas Iman
”Berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebajikan”…(QS. 2: 148).
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, pernah suatu hari Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bertanya di depan para sahabatnya
“Siapakah di antara kamu yang berpuasa hari ini?” Abu Bakar menjawab, ana ya Rasulullah! Lalu Rasulullah Saw kembali bertanya kepada mereka, “Siapakah diantara kamu yang telah mengantarkan mayat ke kubur pada hari ini? Kembali Abu Bakar yang menjawab, ana ya Rasulullah.
Terakhir Nabi bertanya siapa di antara kamu yang memberi makan orang miskin hari ini? Lagi-lagi Abu Bakar yang menjawab, ana ya Rasulullah.
Lalu Rasulpun bersabda bahwa barangsiapa yang melakukan tiga amal tersebut, maka ia masuk syurga.
”Silabus Ramadhan dengan berbagai fadhilat, memberikan semua tamsil terhadap amal kebajikan sebagai produktivitas iman sebagai insane pilihan, muttaqin. Contoh di atas hanya salah satu dari kehidupan para sahabat Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang hidup dengan keimanan yang produktif.
Ini persis dengan perumpamaan al-Qur’an untuk iman,
”Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (iman) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan untuk manusia supaya mereka selalu ingat. ( QS. 14: 24-25).
Produktivitas adalah salah satu sifat yang sebenarnya merupakan sifat bawaan dari sebuah keimanan yang benar.
Iman akan dengan sendirinya selalu melahirkan amal-amal shaleh.
Karena iman ini mempunyai nilai didepan Allah apabila diisi dengan amal saleh dan begitu juga sebaliknya.
Maka betapapun kecil dan remehnya bentuk amal itu di depan manusia, seorang mukmin tidak akan pernah melewatkannya apabila ia mempunyai kesempatan untuk melakukannya.
Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
”Barang siapa di antara kamu dapat melakukan sekecil atau seremeh apapun dari amal saleh, lakukanlah! Iman ini membentuk kecintaan dan keinginan yang kuat untuk meraih pahala dan ridha Allah Ta'ala."
Para sahabat Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam misalnya, ketika dilarang Rasul untuk berangkat perang, karena situasi dan kondisi (sakit/lemah), menangis sedih karena kehilangan kesempatan itu.
Dalam sebuah hadits Qudsi diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala nanti akan berfirman:
“Hai hamba-hamba-Ku sesungguhnya ini hanyalah amal perbuatanmu (di dunia) yang aku hitung untukmu lalu aku balas dengan adil, maka barangsiapa yang menemukannya baik hendaknya dia bersyukur, dan barangsiapa yang menemukannya sebaliknya janganlah dia sesali kecuali dirinya sendiri”.
Terminology al-Qur’an sendiri menggunakan kata perintah “fastabiqu” yang berarti berlomba-lombalah atau berkompetisilah!
Untuk amal saleh dan kebajikan. Ini artinya bahwa seorang Mukmin tidak hanya mempunyai mekanisme hidup yang dinamis dan produktif, tetapi juga harus progresif dan kompetitif dalam memproduksi amal saleh sehari-hari, khususnya dalam melaksanakan amaliah Ramadhan dengan silabus puasanya. Semoga. (Wallahu a’lam). (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/19052020effendy-asmawi-alhajj.jpg)