Wisata Kampung Bule Batam Ditutup, Pemilik Bar Sampai Jual Motor dan HP Bayar Sewa Ruko

Pemilik bar dan restoran di Wisata Kampung Bule Batam mengeluh karena tempat usahanya tidak beroperasi lagi selama pandemi Covid-19.

Editor: Thom Limahekin
TRIBUNBATAM.id
TRIBUN PODCAST - Pelaku usaha hiburan malam dalam acara live streaming Tribun Podcast (Tripod) di Lively Place bar, kawasan wisata Kampung Bule, Jumat (22/5/2020) malam. 

Bahkan, Icha harus terus memutar otak untuk melunasi biaya pengeluaran yang terus berjalan dan tidak sebanding dengan pendapatan.

Dengan tutupnya bar dan restoran, otomatis tidak ada pemasukan bagi Icha.

Sementara itu, dia masih tetap harus membayar uang sewa rumah toko (Ruko).

Jumlahnya mencapai Rp 5 juta hingga Rp 10 juta per bulan, plus denda apabila telat membayar.

Belum lagi, biaya listrik, air, internet serta gaji karyawan juga menjadi beban pengeluarannya.

Di tengah kondisi finansial yang terpuruk ini, Icha terpaksa merumahkan 26 karyawannya.

Tanpa ada penghasilan, Icha mengaku tidak sanggup membayar upah gaji masing-masing karyawan selama dirumahkan.

SURAT IZIN - Staff BPM Batam saat merazia dan meminta surat izin salah satu bar di kawasan Kampung Bule, Nagoya, Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Selasa (4/11/2014) malam.
SURAT IZIN - Staff BPM Batam saat merazia dan meminta surat izin salah satu bar di kawasan Kampung Bule, Nagoya, Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Selasa (4/11/2014) malam. (tribunnews batam/anne maria)

"Kita bukannya tidak mau memberi gaji ke karyawan,

Tapi kita sudah tidak bisa lagi.

Karena memang pemasukan tidak ada.

Beberapa hari lalu kami memang sempat kasih THR kepada karyawan.

Tapi tidak bisa semuanya," ungkap Icha.

Icha dan Susi tidak memiliki usaha sampingan untuk membayar sewa Ruko dan fasilitasnya.

Selain itu keduanya memiliki beberapa bar.

Terpaksa mereka berhutang pada bank guna melunasi tagihannya tersebut.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved