VIRUS CORONA DI SINGAPURA
Angkat Bicara Soal New Normal, Profesor di Singapura Sebut Harus Bebas dari Intervensi Politik
Untuk memberlakukan kebijakan PSBB menuju New Normal, didasarkan pada kajian ilmiah dan bebas dari campur tangan politik. Ini kata profesor dari NUS.
TRIBUNBATAM.id, SINGAPURA - PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) menjadi salah satu opsi yang bisa dipilih pemerintah untuk menghambat penyebaran virus Corona atau Covid-19.
Untuk memberlakukan kebijakan ini, didasarkan pada kajian ilmiah dan bebas dari campur tangan politik.
Terutama saat transisi ke masa kenormalan baru atau New Normal.
Pemerintah juga diingatkan menerapkan kebijakan kesehatan rasional masuk dalam era normal baru atau new nomal.
Hal ini disampaikan Prof. Tikki Pangestu, profesor tamu di Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore, dalam webinar bertajuk “Life Post Covid-19: What Does the New Normal Look Like?” pada Jumat (29/5/2020).
Yang paling penting, menuritnya, skenario normal baru harus mengacu kepada hasil kajian ilmiah, ilmu pengetahuan dan bukti nyata atau fakta, serta bebas dari campur tangan politik.
• Rakyat Singapura Harus Kuat Hadapi Krisis Ekonomi Karena Covid-19, PM: Negara Ini Lahir Saat Krisis
Seluruh pihak juga harus siap menghadapi berbagai perubahan dan berinovasi di era normal baru.
Bebas dari intervensi politik
“Setiap negara harus menentukan strategi masing-masing dalam menerapkan skenario normal baru," ujar Prof. Tikki dalam diskusi yang diselenggarakan Center for Healthcare Policy and Reform Studies (Chapters) dan SwissCham Indonesia serta NordCham Indonesia ini.
Ia menambahkan, "negara perlu membuat keputusan berdasarkan konteks, kapasitas yang tersedia, dan situasi yang dialami.”
Tikki menegaskan, "Pemerintahan harus berjalan secara efektif, namun kebijakan harus didasakan pada bukti ilmiah dan ilmu pengetahuan, dan perlu dievaluasi implementasinya.”
Ia menyampaikan Pemerintah harus mempertimbangkan faktor lain dalam membuat kebijakan normal baru. Misalnya, sistem kesehatan harus diperkuat agar menjamin rumah sakit tidak kewalahan dalam menangani pasien.
Pemerintah juga harus tetap responsif, bukan hanya terhadap pandemi Covid-19 tetapi juga masalah kesehatan lainnya.
"Semua harus bersatu, harus ada kemauan, dan komitmen untuk mengimplementasikan secara rasional kebijakan kesehatan masyarakat," ujarnya.
"Pemerintahan yang baik dan efektif harus berpegang pada bukti ilmiah, tetapi fleksibel dan bebas dari intervensi kepentingan politik,” tegas Prof. Tikki.
Tikki menambahkan, semua pihak harus bekerja sama, mulai dari pemerintah, masyarakat, perusahaan, dan organisasi internasional. Dalam mengatasi pandemi Covid-19 di era normal baru, peran serta masyarakat sangat penting.
Perlukah Gunakan Masker Saat Pakai Face Shield? Ini Anjuran Kementerian Kesehatan Singapura
Di tengah pandemi virus Corona atau Covid-19, berbagai macam alat pelindung diri (APD) digunakan setiap orang.
Tentunya demi mencegah penularan Covid-19 semakin berkembang di masyarakat.
Salah satu yang bisa dijadikan pilihan adalah face shield atau pelindung wajah transparan.
Lantas, apabila menggunakan face shield, masihkah perlu menggunakan masker?
Dokter Spesialis Paru dr Erlang Samoedro menilai masker tetap diperlukan meskipun face shield digunakan.
“Iya, tetap memerlukan masker,” ujar Erlang saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (5/6/2020).
Menurut dokter yang biasa praktik di RSUP Persahabatan Jakarta Timur ini, saat memakai pelindung wajah memang udara yang masuk hanya berasal dari bagian belakang sehingga lebih bersih dibandingkan apabila udara langsung.
Akan tetapi, menurut dia, belum ada data terkait seberapa efektifnya penggunaan face shield ini.
Sementara itu, di Singapura, penggunaan pelindung wajah tanpa masker hanya digunakan untuk orang-orang dengan kondisi tertentu.
Namun, masker tetap wajib digunakan oleh siapa pun.
Melansir laman resmi Kementerian Kesehatan Singapura, pemberlakuan penggunaan pelindung wajah tanpa masker untuk orang-orang dengan kondisi tertentu tersebut mulai berlaku pada 2 Juni 2020.
Menurut laman tersebut, Covid-19 tersebar melalui droplet, sedangkan desain pelindung wajah biasanya menyisakan celah antara face shield dan wajah.
Masker yang dipakai dengan benar akan dapat melindungi hidung dan mulut sepenuhnya, dan tidak memiliki celah sebagaimana pelindung wajah.
Saat upaya penanganan virus Corona beberapa waktu lalu, face shield diizinkan dipakai sebagai pengganti masker.
Akan tetapi, saat ekonomi dan pembatasan mulai dibuka, di mana kontak dekat akan terjadi kembali saat berinteraksi dengan orang lain, maka sekarang masker menjadi hal wajib untuk dipakai.
Sementara face shield dapat digunakan untuk kondisi tertentu dengan catatan digunakan dengan benar sehingga menutupi seluruh wajah dari dahi hingga dagu dan membungkus sisi-sisi wajah.
Adapun beberapa kondisi orang yang diizinkan memakai penutup di Singapura adalah:
- Anak-anak 12 tahun ke bawah, yang mungkin mengalami kesulitan mengenakan dan menjaga masker wajah untuk jangka waktu yang lama.
- Orang yang memiliki kondisi kesehatan yang dapat menyebabkan pernapasan atau kesulitan medis lainnya ketika masker dipakai dalam jangka waktu yang lama.
- Orang-orang yang berbicara kepada suatu kelompok di ruang kelas atau lingkungan kuliah, di mana mereka sebagian besar tetap berada di tempat saat mereka berbicara, dan mampu menjaga jarak yang aman dari orang lain.
Selain itu, bagi orang-orang yang melakukan siaran televisi, Kementerian Kesehatan membebaskan apakah mereka ingin memakai masker atau pelindung wajah saat melakukan kegiatan perekaman.
Dalam kondisi tertentu, pelindung wajah juga dapat dipakai di atas masker untuk memberikan perlindungan tambahan, misalnya untuk melindungi mata seseorang yang mungkin mengandung partikel virus atau mencegah masker agar tidak basah.
Mulai Juni 2020 Ini, Singapura Akan Buka Kembali 80 Persen Sektor Perekonomian
Usai dihantam badai virus Corona atau Covid-19, Singapura dikabarkan akan segera membuka kembali perekononomiannya.
Mayoritas perekonomian Singapura dijadwalkan buka lagi pada bulan Juni 2020 ini.
Tak tanggung-tanggung, sekitar 80 persen sektor perekonomian Singapura akan dibuka.
"Pada tahap pertama, kita akan kembali membuka 80 persen sektor perekonomian.
Sektor F&B (food and beverage) akan menjadi yang terakhir dibuka, harapannya akan dapat dibuka kembali pada akhir Juni," ujar Menteri Perdagangan Singapura, Chan Chun Sing, dikutip dari CNBC, Senin (1/6/2020).
Pada tahap pertama pembukaan kembali perekonomian, sebagian pekerja akan diperbolehkan kembali untuk beraktifitas di kantor.
Meski demikian, kegiatan bisnis masih didorong untuk dilakukan dari rumah selagi memungkinkan.
Selain itu, Sekolah juga akan mulai kembali dibuka.
Nantinya para pelajar masih akan belajar dari rumah untuk beberapa hari tertentu.
Dalam rangka pembukaan perekonomian yang aman dan berkelanjutan, Chan memastikan pihaknya telah berkoordinasi dengan pengusaha dan pekerja terkait protokol-protokol yang perlu dilakukan selama beraktifitas.
Nantinya, Pemerintah Singapura akan melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan tahap pertama pembukaan perekonomian.
Apabila tingkat penyebaran Covid-19 masih tetap rendah, maka Negara Singa tersebut akan melanjutkan pembukaan perekonomian ke tahap kedua.
Sebagai informasi, mayoritas penggerak roda perekonomian Singapura sudah mulai ditutup sejak awal April kemarin.
Hal tersebut dilakukan untuk menekan penyebaran Covid-19 yang sangat cepat.
Pasalnya, Singapura menjadi salah satu negara dengan tingkat sebaran tertinggi, dimana sampai saat ini jumlah pasien positif Covid-19 mencapai lebih dari 34.800 orang.
(*)
• Terjebak di Singapura Saat Krisis Covid-19: Saya Tahu Ramadhan Sudah Lewat, Tapi Saya Terpaksa Puasa
• Kasus Covid-19 Sempat Melonjak, Singapura Berencana Bangun Asrama Baru Untuk Pekerja Asing
• PM Singapura Bicara Masa Depan Setelah Krisis Covid-19: Ini Akan Sulit, Tapi Singapura Akan Kuat
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Profesor Tamu NUS Singapura: Kebijakan New Normal Harus Bebas dari Intervensi Politik ".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/ilustrai-warga-singapura-di-bandara.jpg)