Breaking News:

Keluhan Anak Nelayan di Pulau yang Harus Belajar Daring, Gak Punya HP Bahkan Internet

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mengakibatkan nelayan yang mempunyai anak usia sekolah di Blok Empang Muara Angke, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara men

istimewa
Suasana ketika melakukan sesi motivasi kepada para penerima beasiswa via video daring 

TRIBUNBATAM.id - Tahun Ajaran baru sudah mulai dilakukan, sejumlah sekolaha yang tidak terdampak dengan Covid-19 sudah mulai melakukan tatap muka.

Sementara untuk daerah yang belum Zona Hijau terpaksa harus belajar di rumah dengan menggunakan sistem Daring.

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mengakibatkan nelayan yang mempunyai anak usia sekolah di Blok Empang Muara Angke, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara mengeluhkan biaya kuota internet.

Tersangka Tambang Bauksit Ajukan Prapid, Kejaksaan Kukuh Penyidikan Sesuai Prosedur

Beri Diskon 50 Persen, Woda Villa dan Spa di Batam Tawarkan Konsep Villa Modern

Lagoi Bintan Tourism is Increasing, DISPAR Bintan Record 30 Percent of Local Tourist Visits

Seorang warga, Raminah (50) mengatakan anaknya yang berhasil masuk SMP Negeri 261 Jakarta Utara harus mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) secara daring.

Kondisi itu, membuatnya harus memutar otak agar anaknya bisa mengikuti MPLS secara daring. Ia pun memutuskan untuk membeli handphone setelah mendapat bantuan dari pemerintah. 

Warga RT 004/RW 022 Kelurahan Pluit itu harus mengeluarkan uang untuk membeli kuota internet agar bisa ikut PJJ secara daring. Menurutnya, kuota internet menelan biaya yang banyak.

"Kalau isi paket Rp 60 ribu, nggak sampai dua minggu udah habis. Sebulan tuh bisa Rp 200 ribu," tutur Raminah.

Pasalnya ibu dari Muhammad Muchlis itu bekerja sebagai pengupas kerang. Suami pun kini sudah tidak lagi bekerja sebagai nelayan seiring kondisi yang sudah tidak mendukung pekerjaan tersebut.

"Pendapatannya nggak tentu. Kalau saya satu blong dihargai Rp 30 ribu. Kalau suami cuman ngumpulin kayu bayar, dapetnya bisa Rp 50-70 ribu pas ramai," katanya.

Lagi, 3 Pedagang Pasar Tos 3000 Batam Positif Corona, Ini Kata Kadinkes

Pemprov, Gugus Tugas, KPU dan Bawaslu Siap Gelar Pemiu, Jamin Taat Protokol Kesehatan

Pengakuan senada juga disampaikan warga RT 004/RW 022 Kelurahan Pluit lainnya, Ade (25) dimana adiknya yang menginjak kelas IX SMP Negeri 261, Darwini juga harus belajar secara daring.

"Kalau adik saya pakai handphone ibu, dia sih nggak punya handphone. Cuman buat beli kuota internetnya yang nggak murah, bisa lebih dari Rp 200 sebulan," ujarnya.

Ayahnya bekerja sebagai nelayan kerang dan ibu yang tidak bekerja membuat biaya kuota internet sebesar itu dirasa cukup memberatkan. Bantuan berupa subsidi kuota internet pun sejauh ini tidak ada.

"Mau pakai KJP (Kartu Jakarta Pintar) nggak mungkin, nanti ditanyain seragam udah jelek kok nggak dibeli yang baru atau sepatu udah lusuh kok nggak diganti," katanya.

Ade pun berharap agar PJJ segera berakhir dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Tatap Muka bisa segera kembali digelar. Apalagi belajar secara daring dirasakan kurang efektif bagi adiknya.

"Mending belajar biasa lah, ketahuan gitu belajar. Kalau sekarang kan musti kita awasin biar bener-bener belajar," ujarnya. (jhs)

Artikel ini telah tayang di Tribunpekanbaru.com dengan judul Tahun Ajaran Baru Dimulai, Anak Harus Belajar Daring, Nelayan di Daerah Ini Keluhkan Biaya Internet

Editor: Eko Setiawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved