Breaking News:

Orangtua Wajib Waspada, PELAKU BEGAL Batam Didominasi Remaja, Kasus Perundungan Marak di Kepri

Tak main-main data yang dihimpun LPKA Kepri mencatat selama Agustus 2020 terdapat 20 anak terlibat kasus hukum

ISTIMEWA
Polisi berhasil membekuk empat pelajar yang melakukan aksi begal terhadap pengendara motor di Batam Center. Saat beraksi para pelaku membawa golok untuk mengancam korbannya. 

Dari 10 kasus perundungan di tahun 2020, Erry menuturkan hampir keseluruhannya terjadi di lingkungan pergaulan anak.

TRAGEDI Maut Siswa SMP Batam Tewas, Kepala Dipukul Teman Alami Muntah, Orangtua Mengira Masuk Angin

Alasannya, selama pandemi Covid-19 melanda Kepri kegiatan belajar anak dilakukan dari rumah.

"(Kasus) bully ini sebenarnya banyak.

Karena laporan tak ada jadi data pun tak terekap.

Biasanya terjadi di sekolah," tambah dia.

Isak tangis saat pemakaman Syahrul Ramadhan Yasa Pratama (15) di Tanjung Sengkuang, Minggu (16/8/2020). Semasa hidup, Yasa dikenal memiliki jiwa sosial tinggi. Ia diduya menjadi korban perundungan secara fisik oleh rekan sepermainannya.
Isak tangis saat pemakaman Syahrul Ramadhan Yasa Pratama (15) di Tanjung Sengkuang, Minggu (16/8/2020). Semasa hidup, Yasa dikenal memiliki jiwa sosial tinggi. Ia diduya menjadi korban perundungan secara fisik oleh rekan sepermainannya. (TribunBatam.id/Ichwan Nur Fadillah)

Berbicara kasus dugaan perundungan terhadap Yasa, Erry mengatakan pihaknya akan tetap menyerahkan proses hukum kepada pihak terkait.

Akan tetapi, pendampingan terhadap pelaku juga akan terus dilakukannya dengan pertimbangan si pelaku termasuk kategori anak di bawah umur.

"Sejauh ini belum tahu kelanjutannya.

Yang jelas proses hukum berlanjut," tegasnya.

Erry mengatakan, pihaknya menganggap wajar jika orangtua Yasa meminta keadilan terhadap kematian anaknya akibat dugaan penganiayaan.

Menurutnya, selama berada di koridor hukum, pihaknya akan selalu mendukung langkah orangtua Yasa.

"Itu memang tindak pidana dan ada koridor hukumnya.

Jadi silakan saja jika ingin meminta keadilan.

Kami juga sangat menyesalkan ini bisa terjadi," lanjutnya.

Dari Erry pun diketahui jika Yasa merupakan anak tunggal.

Oleh sebab itu, dia merasakan betul kesedihan orangtua akibat kepergian Yasa.

Mediasi antara keluarga pelaku dan korban pun diketahui telah dilakukan beberapa waktu lalu saat Yasa tengah terbaring koma di RSBK Kota Batam.

Saat itu, keluarga pelaku telah bersedia jika anaknya diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

"Upaya untuk berdamai juga akan ditempuh.

Ini lebih kepada bagaimana mengurangi hukuman terhadap pelaku dan hak-hak lainnya.

Tapi proses tetap berjalan," tutup Erry.

Bahkan saat audiensi, pelaku diketahui sempat menyesali perbuatannya.

Masuk Tindak Pidana

Dugaan penganiayaan hingga menyebabkan Syahrul Ramadhan Yasa Pratama, remaja 15 tahun di Kota Batam hingga tewas termasuk tindak pidana dan dapat diproses secara hukum.

Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kepri bahkan memberi perhatian kepada kasus meninggalnya Yasa.

Meski dapat diproses secara hukum, namun Ketua KPPAD Provinsi Kepri, Erry Syahrial meminta agar hak-hak anak terhadap pelaku dapat diberikan.

Ini karena pelaku yang diketahui masih berusia di bawah 17 tahun.

Suasana pemakaman jenazah Yasa, seorang siswa SMP yang meninggal akibat dipukul temannya. Yasa dimakamkan tak jauh dari tempatnya tinggal di Tanjungsengkuang, Kota Batam.
Suasana pemakaman jenazah Yasa, seorang siswa SMP yang meninggal akibat dipukul temannya. Yasa dimakamkan tak jauh dari tempatnya tinggal di Tanjungsengkuang, Kota Batam. (TRIBUNBATAM.id/ICHWAN NURFADILLAH)

Yasa sendiri diketahui meninggal dunia pada Jumat (15/8) lalu. Sebelum meninggal, Yasa sempat koma selama 5 hari di Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) Kota Batam.

Saat itu, hasil rontgen terhadap Yasa menyebutkan dia mengalami cedera cukup serius di bagian kepala.

Bahkan sebelum dilarikan ke rumah sakit, Yasa diketahui muntah-muntah dan kondisi kesadarannya rendah.

"Silakan diproses.

Ancaman hukuman terhadap kasus ini juga cukup tinggi karena kekerasan menyebabkan anak meninggal dunia.

Tetapi mohon diperhatikan juga hak-hak pelaku. Seperti perlindungan hukum dan pembinaan selama di lapas," ujar Erry saat dihubungi, Selasa (18/8/2020).

Sebelum Yasa menghembuskan napas terakhirnya, KPPAD Kepri diketahui sempat memediasi antara keluarga pelaku dan korban.

Akan tetapi saat itu belum ada keputusan antara kedua belah pihak.

Oleh sebab itu KPPAD Kepri meminta agar mediasi kembali digelar usai kondisi Yasa membaik.

Erry juga menuturkan, saat mediasi dilakukan, keluarga pelaku mengaku siap jika proses hukum tetap berlanjut.

Namun, orangtua pelaku juga meminta agar aspek perlindungan terhadap hak anaknya tetap diberikan sesuai aturan yang berlaku.

"Tapi korban meninggal dunia.

Jadi saat ini kami masih menunggu kelanjutan dari kasus ini.

Karena ini sudah terjadi, pihak keluarga menyebut siap menghadapi proses hukum.

Kami juga berharap si anak juga siap menghadapi ini," ucapnya.

(tribunbatam.id/Ichwan Nur Fadillah/Ian Sitanggang/ Endra Kaputra)

Editor: Irfan Azmi Silalahi
Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved