Kisah Pembelot Yeonmi Park Semasa Hidup di Korea Utara: Kerap Lihat Orang Kelaparan Sekarat di Jalan
Kehidupan sehari-harinya pun kerap melihat orang sekarat di jalan karena kelaparan dan hidup tanpa aliran listrik.
"Jika mereka hanya menghabiskan hanya 20 persen dari apa yang mereka habiskan untuk membuat senjata nuklir, tak ada yang harus mati di Korea Utara karena kelaparan tetapi rezim memilih membuat kita lapar," tambahnya.
Dari Korea Utara Menyeberang ke Tiongkok, Sempat Alami Pelecehan Seksual
Lebih lanjut, Yeonmi Park melarikan diri dengan menyeberang ke Tiongkok melewati Sungai Yalu.
Dia mengatakan dalam perjalanannya keluar dari Korea Utara, sang ibu diperkosa oleh pedagang manusia.
Yeonmi Park dan sang ibu dijual kepada pria China, pemilik pertama Yeonmi Park membayar kurang dari 300 dolar AS untuknya.
Sebelumnya, saudara perempuan Yeonmi Park sudah terlebih dulu membelot dari Korea Utara.
Ayah Yeonmi Park juga berhasil melintasi perbatasan, tetapi dia kemudian meninggal karena mengidap kanker usus besar.
Dengan bantuan misionaris Kristen, Yeonmi Park dan ibunya melarikan diri ke Mongolia, melintasi Gurun Gobi dan akhirnya mencari perlindungan di Korea Selatan.
Kehidupan Baru Yeonmi Park
Lebih jauh, Yeonmi Park melanjutkan pendidikannya di Seoul sebelum pindah pada tahun 2014 ke New York.
Dia mulai berbicara menentang rezim Kim Jong Un, dengan risiko besar terhadap keselamatannya sendiri, mengingat banyak kerabatnya telah menghilang.
"Saya tak tahu apakah mereka telah dieksekusi atau dikirim ke kamp penjara, jadi saya masih belum bebas," katanya.
"Bahkan setelah saya melalui semua itu untuk bebas, saya tidak bebas menjadi diktator di sana. Jadi itu hal yang sangat emosional bagi saya, ” terangnya.
Yeonmi Park menjadi aktivis hak asasi manusia dan kini menetap di Chicago, di mana dia tinggal bersama suami dan putranya yang masih kecil.
Terlepas dari kisahnya yang mengerikan, dia bersyukur telah lahir di Korea Utara.