Breaking News:

INFO KEUANGAN

Prediksi Saham Pekan Ini, Berikut 10 Saham yang Paling Banyak Diobral

Saham PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA) adalah saham paling banyak dijual asing Rp 245,11 miliar.

Editor: Danang Setiawan
Kontan
Prediksi Saham Pekan Ini, Berikut 10 Saham yang Paling Banyak Diobral. FOTO ILUSTRASI. Aktivitas penjualan saham dan surat berharga lainnya seperti obligasi negara ritell seri 013 di Mandiri Sekuritas (mansek), Jakarta, Kamis (6/10). 

Apalagi, pada tahun depan seiring daya beli masyarakat yang mulai pulih ditambah dengan suku bunga yang rendah, berpeluang jadi katalis positif untuk sektor properti.

Adapun, Toufan menilai setidaknya terdapat tiga faktor yang akan berpengaruh pada pasar saham tahun depan. 

Pertama, faktor pemulihan ekonomi apakah berjalan sesuai harapan atau tidak. Jika vaksin yang sudah didistribusikan ternyata terbukti efektif dan bisa meredakan ketakutan masyarakat akan pandemi, maka ekonomi akan bisa segera pulih.

Kedua, terpilihnya Joe Biden sebagai presiden Amerika Serikat (AS) diharapkan dapat meredakan ketegangan perdagangan dengan China.

Ketiga, melimpahnya likuiditas seiring masih berlanjutnya tren suku bunga global yang rendah.

Dia pun menilai hal ini dapat memicu aliran dana investor asing masuk ke emerging market, seperti Indonesia. 

“Oleh karena itu, reksadana saham masih akan jadi pilihan yang menarik sebagai instrumen investasi pada tahun depan. Kami memperkirakan IHSG pada tahun depan masih punya ruang untuk naik 10%-12% menjadi 6.600-6.700. Sucor pun menargetkan, imbal hasil reksadana saham kami bisa 5% di atas pertumbuhan indeks,” tutup Toufan.

Saham telekomunikasi

Nomura memperkirakan, prospek subsektor operator telekomunikasi dan menara telekomunikasi akan positif pada tahun 2021.

Meksipun begitu, operator telekomunikasi diprediksi bakal lebih unggul dibanding menara.

Ada dua katalis yang menjadi pendorongnya.

Pertama, adanya tambahan tiga blok spektrum 10MHz pada pita 2300MHz yang akan dilelang pemerintah.

Kedua, implementasi Undang-Undang (UU) Cipta Kerja yang bakal membuka kesempatan operator telekomunikasi untuk dapat berbagi infrastruktur.

Nomura yakin, pemerintah akan memberikan tiga blok spektrum tersebut pada tiga operator demi menciptakan kesetaraan ruang telekomunikasi.

Ketiga operator tersebut kemungkinan adalah PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel), PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), dan PT Hutchison 3 Indonesia.

Telkomsel selaku anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dipilih karena merupakan operator terbesar, baik dari segi pendapatan maupun basis pelanggan.

"Dengan posisi keuangan terkuat di antara perusahaan sejenis di Indonesia, Telkomsel memiliki kemampuan lebih untuk membayar premi," kata analis Nomura Heng Siong Kong dalam riset, Senin (14/12).

Kedua, Smartfren dipilih karena merupakan perusahaan terkecil dari lima operator seluler di Indonesia.

Dengan begitu, pemerintah kemungkinan besar akan memberinya lebih banyak kesempatan untuk memperoleh spektrum tambahan tersebut.

Ketiga, Hutchison 3 Indonesia memiliki spektrum paling sedikit saat ini. Oleh sebab itu, Hutchison 3 Indonesia membutuhkan spektrum tambahan terbanyak di antara semua operator di Indonesia.

Heng Siong Kong berharap, pemerintah dapat mengumumkan hasil lelangnya minggu ini.

Pasalnya, saat lelang ini selesai, muncul kejelasan atas kepemilikan spektrum di masing-masing operator sehingga bisa meningkatkan nilai perusahaan telekomunikasi seiring dengan potensi efisiensi yang bisa dihasilkan.

Selanjutnya, katalis positif kedua berasal dari implementasi UU Cipta Kerja terkait kebijakan berbagi infrastruktur serta penanganan transfer spektrum jika terjadi merger dan akuisisi. "Kedua kebijakan tersebut akan membuka jalan bagi konsolidasi industri dan pelaku pasar akan sangat mengantisipasinya," ucap Heng Siong Kong.

Dua faktor tersebut juga dinilai akan memberikan efek positif pada sektor menara dalam jangka panjang seiring dengan peningkatan kebutuhan data.

Akan tetapi, untuk jangka pendek, sektor menara berpotensi tumbuh lebih lambat karena operator telekomunikasi kemungkinan akan mencari efisiensi dari implementasi UU Cipta Kerja.

Di sektor operator telekomunikasi, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) tetap menjadi pilihan saham teratas Nomura.

Namun, PT XL Axiata Tbk (EXCL) juga diprediksi dapat mengungguli dua saham menara utama, yaitu PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).

Nomura memasang target harga untuk TLKM di level Rp 4.175 per saham, EXCL Rp 3.300, TBIG Rp 1.825, dan TOWR Rp 1.420 per saham. Per perdagangan Selasa (15/12) pukul 11.25 WIB, harga TLKM adalah sebesar Rp 3.440 per saham, EXCL Rp 2.660, TBIG Rp 1.475, dan TOWR Rp 990 per saham.(kn)

Baca berita terbau lainnya di GOOGLE

(*)

Artikel ini sudah tayang di Kontan.co.id

Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved