NEWS WEBILOG TRIBUN BATAM
Strategi Tetap Sehat di Tengah Pandemi Covid-19, Ini Kata Pakar Epidemologi di Batam
Pakar epidemologi di Batam, Asep Zaenal Mustofa menyebut, salah satu hal penting terkait penanggulangan covid-19 yakni melakukan 5M. Apa itu?
Penulis: ronnye lodo laleng | Editor: Dewi Haryati
BATAM, TRIBUNBATAM.id - Kasus Covid-19 di Indonesia, Kepri maupun Batam hingga saat ini belum selesai dan benar-benar hilang.
Covid-19 masih menjadi perbincangan di kalangan kesehatan bahkan masyarakat sipil.
Lantas, bagaimana perkembangan kasus Covid-19 di Batam?
Simak ulasannya di bawah ini.
Pakar Epidemologi Asep Zaenal Mustofa mengatakan, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Batam dan Satgas Covid-19 Batam tren kasus Covid-19 di Batam menurun dari waktu ke waktu. Memang sempat naik beberapa waktu lalu.
Baca juga: Kasus Corona di Lingga Makin Menjadi, Belajar Tatap Muka di Daik dan Nerekeh Dihentikan
Baca juga: 2 Pimpinan Daerah di Anambas Gagal Divaksinasi Corona, Abdul Haris Tensi Tinggi, Wan Sakit
"Untuk Batam dari Maret hingga Juli 2020 itu memang sedikit kasusnya yakni 2 hingga 4 orang per hari. Mulai Agustus naik, rata-rata 11 orang per hari. Bulan September naik lagi menjadi 32 orang per hari.
Oktober terus naik menjadi 40 orang per hari, November naik lagi menjadi 41 orang per hari. Nah kita bersyukur bulan Desember 2020 menurun menjadi 28 rata-rata per hari meski ada pesta demokrasi," kata Asep, dalam News Webilog Tribun Batam mengusung tema "Hati-Hati Saat Makan Bersama", Senin (1/2/2021).
Jumlah tersebut, lanjutnya, terus turun pada Januari 2021. Yakni hanya 21 orang saja per hari.
"Artinya kita patut bersyukur Batam dilihat dari jumlanya mulai turun meski jumlah terpapar dan dirawat masih cukup banyak," ujarnya.
Pada kesempatan itu, ia mengajak masyarakat agar terus peduli dengan protokol kesehatan agar kasus Covid-19 ini bisa cepat selesai.
Ia melanjutkan, kasus Covid-19 di Kepri paling dominan atau paling banyak yakni di Batam.
Menurut data yang diperolah dari Satgas, hanya Kecamatan Bulang dan Galang saja yang tidak masuk dalam zona merah. Sedangkan yang lain termasuk zona merah, kuning dan hitam sekalipun.
"Ketika berbicara soal makan bersama baik di restoran maupun di rumah makan berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah maka saya mengimbau agar tetap waspada," tuturnya.
Asep berpesan, jika seusai makan jangan berkerumun, tetapi langsung pulang. Selain itu masyarakat harus tanamkan mobilitas jika tidak perlu-perlu amat dan bisa memesan via online, sebaiknya tidak usah keluar rumah.
"Mobilisasi juga bukan berlaku di tempat umum saja, namun diterapkan di rumah kita juga. Ketika ada tamu yang datang ke rumah, maka segala bentuk protokol kesehatan harus tetap dijaga," lanjutnya.