Kecaman Internasional Diabaikan, Militer Myanmar Makin Represif Tembak Mati Gadis 19 Tahun
Kecaman internasional atas kudeta yang diabaikan dan tindakan kekerasan yang dilakukan Militer Myanmar, membuat Amerika Serikat terkejut dan muak
Penulis: Mairi Nandarson | Editor: Mairi Nandarson
Inggris telah menyerukan pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada hari Jumat (5/3/2021), dan setelah banyaknya kematian hari Rabu (3/3/2021).
Amerika Serikat mengatakan sedang mempertimbangkan tindakan lebih lanjut terhadap Myanmar.
Pemerintah militer Myanmar sejauh ini mengabaikan kecaman global, menanggapi pemberontakan dengan kekuatan yang meningkat.
"Hanya hari ini, 38 orang tewas," utusan PBB untuk Myanmar Christine Schraner Burgener kepada wartawan Rabu (3/3/2021).
Christine Schraner Burgener mengatakan, lebih dari 50 orang tewas secara total sejak pengambilalihan militer, dengan lebih banyak lagi yang terluka.
"Hari ini adalah hari paling berdarah sejak kudeta terjadi," katanya, tanpa memberikan rincian lebih lanjut, termasuk rincian kematian.
Dia meminta PBB mengambil tindakan yang sangat keras terhadap para jenderal.
Baca juga: Viral Aksi Suster Myanmar Berlutut di Hadapan Polisi, Menangis Minta Demonstran Tak Ditangkap
Christine Schraner Burgener menambahkan dalam percakapannya dengan mereka, mereka telah menepis ancaman sanksi.
"Saya akan terus maju, kami tidak akan menyerah," katanya.
"Kekerasan di Myanmar membuat Amerika Serikat terkejut dan jijik," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price kepada wartawan.
"Kami meminta semua negara berbicara dengan satu suara untuk mengutuk kekerasan brutal militer Burma terhadap rakyatnya sendiri," katanya seperti dikutip dari channelnewsasia.
Dia memilih China, musuh AS yang sering dianggap militer Myanmar sebagai sekutu utamanya.
"China memang memiliki pengaruh di kawasan itu."
"Itu memang memiliki pengaruh dengan junta militer."
"Kami telah meminta China untuk menggunakan pengaruh itu dengan cara yang konstruktif, dengan cara yang memajukan kepentingan rakyat Burma," kata Price.