KISAH PERANTAU DI BATAM
Dulu Jadi Pelayan Restoran, Eri Kini Punya Warung Makan Padang dan 3 Kedai Bumbu Dapur
Bertolak ke Batam 2001 lalu, Eri mengawali kisahnya sebagai pelayan restoran. Siapa sangka kini ia bisa punya 3 kedai bumbu dapur dan 1 warung makan
BATAM, TRIBUNBATAM.id – ‘Selalu ada harapan untuk mereka yang rajin berdoa dan selalu ada jalan untuk mereka yang tak kenal lelah dalam berusaha’.
Nasihat orang tuanya ini selalu mengiringi langkah Eriyanto selama mengarungi kerasnya hidup di Kota Batam.
Bertolak ke Batam tahun 2001 silam, Eri, panggilan akrabnya, berniat untuk mengubah nasib keluarga di kampung halamannya, Pariaman, Sumatera Barat.
Berbagai macam pekerjaan pun dilakoni pria kelahiran 20 Juni 1977 ini. Mulai dari pelayan restoran Padang ternama hingga berjualan bumbu dari pasar ke pasar.
Bahkan, ayah tiga anak ini sempat tak mendapatkan bayaran ketika ikut bekerja dengan salah satu rekannya.
Baca juga: Cerita Selebgram Hafizh Alvio Meniti Karier di Ibu Kota, Pernah Main Sinetron Bareng Dwi Andhika
Baca juga: Dulu Karyawan Perusahaan Besar, Yuyun Deliana Kini Sukses Jadi Seorang Entrepreneur
“Tahun 2001 sampai 2003 itu saya masih kerja sebagai pelayan di RM Puti Bungsu depan Nagoya Hill. Sekira tahun 2004, saya di RM Pak Datuak dan masih sebagai pelayan,” kenang Eri, saat memulai pembicaraan dengan Tribun Batam di Pasar Botania I, Jumat (23/4/2021).
Setelah puas mendapatkan ilmu sebagai seorang pelayan di rumah makan, Eri pun membulatkan tekad untuk mencoba pekerjaan lain.
Ia sadar, sebagai anak paling tua di keluarga, Eri harus sukses agar bisa menjadi teladan bagi adik-adiknya. Apalagi Eri adalah anak laki-laki satu-satunya.
“Dari situ saya ikut teman jual bumbu makanan di Pancur dan Pasar Aviari. Masih tetap jadi pelayan, istilahnya bantu-bantu. Belum terpikirkan bisa seperti sekarang,” katanya lagi.
Saat bekerja di kedai bumbu milik temannya itu, tiba-tiba Eri memikirkan satu nasihat rekannya dulu sewaktu masih bekerja sebagai pelayan restoran Padang.
”Kalau bekerja sebagai karyawan terus bakal begini saja hidup. Cobalah berdagang biar bisa mengubah nasib,” ujar Eri menirukan nasihat temannya.
Kalimat itu terus terngiang di benaknya. Ketika sendiri, kalimat ini bak hantu yang terus mengikuti langkahnya.
Alhasil, Eri pun memberanikan diri untuk berdagang. Saat itu ia memutuskan untuk membuka kedai bumbu makanan di Pasar Penuin, Batam.
“Saat itu masih dimodali sama orang. Dari sana saya baru memberanikan diri buka di Pasar Botania I pada tahun 2011,” ungkapnya.
Bak ketiban durian runtuh, di pasar ini, rezeki Eri mengalir lancar. Walau sempat jatuh bangun merintis usahanya itu, tapi ia tak kenal kata menyerah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/2304perantau-asal-minang-di-batam-eriyanto.jpg)